Home / Berita Nasional / Komnas HAM selidiki kasus penganiayaan jurnalis

Komnas HAM selidiki kasus penganiayaan jurnalis

Pekanbaru, (MO)- Tim yang terdiri atas dua anggota Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) langsung turun ke Provinsi Riau untuk menyelidiki kasus penganiayaan terhadap jurnalis dan warga yang dilakukan oknum TNI AU di lokasi jatuhnya pesawat Hawk 200.

Tim yang terdiri atas Plt Kabag Pengaduan Eko Dahana dan Penyelidik Pelanggaran HAM Firdiansyah, melakukan pemeriksaan langsung ke tempat kejadian perkara di Jalan Amal daerah Pasir Putih, Kabupaten Kampar, Minggu.

Kedatangan mereka untuk menindaklanjuti laporan jurnalis korban kekerasan yang dilakukan oknum TNI AU saat jatuhnya pesawat Hawk 200 pada 16 Oktober.

Anggota Komnas HAM meminta keterangan secara detail kepada semua korban penganiayaan yang dilakukan oleh TNI AU. Hadir pada saat itu korban jurnalis, yakni Didik Herwanto dari Riau Pos, Roby dari Riau Televisi, pewarta Kantor Berita ANTARA FB Rian Anggoro, dan Dewo dari Riau Chanel.

Sedangkan, korban dari warga yang hadir yakni Cendra dan Manson alias Mancong. Selain itu, anggota Komnas HAM juga memintai keterangan dari warga dan jurnalis yang berada di lokasi saat insiden penganiayaan terjadi.

Menurut Eko Dahana, Komnas HAM mencoba merekonstruksi kembali kejadian itu dari keterangan korban dan saksi sekaligus melihat kondisi di tempat kejadian. Kedatangan Komnas HAM, lanjutnya, tujuannya untuk mendapatkan informasi yang akurat agar tidak mudah dibelokkan oleh pihak yang berkepentingan dengan kasus itu.

“Kita ingin tahu apa sebenarnya yang terjadi pada saat jatuhnya itu dan kejadian apa saja yang dilakukan oleh oknum TNI AU kepada wartawan dan sejumlah warga yang menjadi korban tersebut,” ujarnya.

Di lokasi kejadian, Eka Dahana juga terlihat membuat gambar sketsa mengenai lokasi jatuhnya pesawat dan tempat insiden penganiayaan terjadi. Mereka menemukan sejumlah fakta penting, seperti terjadinya insiden pemukulan terhadap Cendra, warga, ternyata jauh dari lokasi jatuhnya pesawat.

“Pemukulan terhadap warga ada yang jauh dari lokasi jatuhnya pesawat, itu harus diselidiki kenapa bisa terjadi,” katanya.

Komnas HAM juga berusaha untuk meminta keterangan dari korban pemukulan lainnya yang belum melapor, termasuk sejumlah warga yang menurut informasi banyak juga mengalami pemukulan.

“Kalaupun tidak bisa mengidentifikasi nama, maka ciri-cirinya pelaku pemukulan sangat penting. Disini juga kita mencari data lengkapnya berapa banyak wartawan yang dipukul dan terkena saat dilapangan. Dan data ini nantinya bisa disampaikan kepada Mabes TNI di Jakarta,” ujarnya.

Selain itu, ia juga menyampaikan Komnas HAM pada 5 November akan menjadwalkan pertemuan dengan Irjen Mabes TNI. Pihaknya menargetkan kasus penganiayaan oleh TNI AU bisa diselesaikan secepatnya sebelum bulan Desember.

“Untuk hasil yang paling utama kami mendorong adanya perbaikan kepada instansi pemerintah agar tidak terjadi hal yang sama lagi yakni kekerasan yang dilakukan oleh TNI AU,” ujarnya.

Warga korban kekerasan aparat, Cendra, menceritakan dirinya dipukuli oknum TNI di gang Kampar, berjarak sekitar 500 meter dari lokasi kejadian.

“Saya sempat tanya, kenapa saya dipukul, disini melapor tidak bisa, silahkan melapor ke kantor kata anggota provosnya,” ujar Cendra.

Sedangkan, Manson yang juga korban mengatakan dipukuli tiga petugas TNI saat mencoba mengabadikan pesawat dari telepon genggamnya (HP).

“Saat diminta saya berikan langsung, dan langsung dipukuli bertiga, kemudian saya lari ke rumah warga. Ketika saya mau minta HP saya balik lagi malah kembali dihajar,” ujarnya.(antara/F012)

Comments

Komentar Anda

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: