Home / Artikel / Laju Varian Baru Covid-19, Kapitalisme Tak Serius Atasi Pandemi

Laju Varian Baru Covid-19, Kapitalisme Tak Serius Atasi Pandemi

 

Oleh: Ummu Taqiyya
Aktivis Dakwah, Mompreneur

Sudah dua tahun pandemi melanda dunia, sejak virus SARS-CoV-2 terdeteksi pertama kali di China kemudian menyebar keseluruh dunia. Berbagai upaya ditempuh guna mengatasi wabah, namun tak kunjung teratasi, dan varian virus baru pun kian bertambah.

Belum usai penyebaran virus varian Delta dan Omicron, kini bertambah varian baru yang ditemukan pertama kali di Perancis yang diberi mama IHU atau B.1640.2. (cncbindonesia.com/08/01/2022)

Beberapa waktu lalu istilah “Delmicron” juga sempat bikin geger dan makin membuat khawatir sebab diklaim sebagai kombinasi virus varian Delta dan Omicron.(health.detik.com/10/01/2022)

Dengan bertambahnya varian baru, Pemerintah memutuskan untuk memberikan vaksinasi ketiga sebagai vaksin booster. Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan vaksin booster akan diberikan secara gratis atau berbayar kepada masyarakat pada pekan depan, usai rapat dengan Presiden Joko Widodo. (kompas.com/6/1/22)

Setiap masuknya varian baru covid 19, seakan solusinya hanya dengan menambah vaksin. Padahal upaya tersebut seperti tambal sulam, memberikan vaksin tapi tidak menghentikan perjalanan dari dalam maupun keluar negeri, atau penguncian wilayah secara menyeluruh. Mau sampai berapa banyak lagi vaksin diberikan kepada masyarakat, sedangkan penguncian wilayah dalam menghentikan lajunya virus tidak lakukan?

Dunia saat ini masih berpegang teguh pada ideologi kapitalisme yang hanya berlandaskan pada asas manfaat dan materi yang didapatkan, sehingga lebih mengutamakan keamanan ekonomi dibandingkan kesehatan dan keselamatan rakyat. Roda ekonomi harus terus berjalan, seperti masih diperbolehkannya perjalanan dari dalam maupun keluar negeri. Masyarakat yang mempunyai kekayaan materi bebas mau keluar negeri meskipun tujuannya hanya untuk jalan-jalan, kemudian pulang kembali dengan membawa virus. Di sistem ini, dunia tidak ingin melakukan lockdown secara total, sehingga penyebaran virus tidak bisa ditangani secara cepat dan tepat. Upaya yang dilakukan hanya fokus pada 3T (Testing, Tracing, Treatment), protokol kesehatan, dan vaksinasi.

Berbeda halnya ketika sistem islam diterapkan, solusi dari akar permasalahan yang terjadi terutama dalam menghadapi pandemi akan segera dilakukan secara cepat dan tepat. Daulah Islam akan memberlakukan sistem lockdown secara total, mengunci area wabah yang terjangkit virus, tidak memperbolehkan melakukan perjalanan ke dalam atau ke luar area wabah yang terjangkit virus. Mobilitas manusia dari dan ke dalam area wabah juga akan dihentikan.

Sebagaimana Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda, “Apabila kalian mendengar wabah di suatu tempat maka janganlah memasuki tempat itu dan apabila terjadi wabah sedangkan kamu berada di tempat itu maka janganlah keluar darinya. (HR. Imam Muslim)

Orang-orang yang terjangkit virus akan segera diobati tanpa mengulur waktu. Isolasi dilakukan secara tepat dengan memisahkan orang-orang yang sehat dengan orang-orang yang sakit, agar penularan penyakit tidak menyebar. Kesehatan dan imunitas masyarakat juga harus ditingkatkan dengan pola hidup sehat, makan-makanan yang sehat dan bergizi.

Riset dan teknologi terkini juga dikerahkan dengan tepat dan bijak bagi kecepatan dan keberhasilan penerapan prinsip tindakan islam, sehingga dapat mempermudah upaya penghentian laju varian virus. Hasil riset dan teknologi juga dipastikan tidak berbahaya bagi kesehatan masyarakat, dan keselamatan jiwa setiap orang. Kepemimpinan Islam dibutuhkan sebagai metode pelaksana dalam mengerahkan upaya untuk lockdown secara total dan mendunia.

Comments

Komentar Anda

Silahkan Anda Beri Komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

%d blogger menyukai ini: