Rabu, 18 Feb 2026
light_mode

M. Kasim Dalimunthe, Pelopor Sastra Indonesia Dari Kotanopan

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Senin, 11 Sep 2017
  • print Cetak

 

Askolani Nasution

Oleh : ASKOLANI NASUTION
Budayawan

 

Saya kaget ketika beberapa hari yang lalu tahu bahwa rumah M. Kasim ada di ujung jalan Pesanggarahan Kotanopan. Dan saya sempat berbincang-bincang banyak hal tentang beliau dengan cucunya yang masih tinggal di Kotanopan, terutama menyangkut kemungkinan arsip-arsip naskah yang masih tinggal.

Mungkin tak banyak yang tahu bahwa M. Kasim adalah sastrawan besar, pelopor cerpen Indonesia. Karena itu beliau dinobatkan sebagai “Bapak Cerpen Indonesia”. Bahkan Ajib Rosidi menobatkan beliau sebagai peletak dasar lahirnya sastra modern Indonesia.

Bayangkan saja, beliau sudah menerbitkan cerpen sejak tahun 1910, sebelum Perang Dunia I. Beliau tumbuh dalam kekentalan sastra Melayu yang berkembang di Nusantara sebagai Lingua Franca, terutama sastra lisan. Ada dua genre penting Sastra Melayu ketika itu, yakni Sastra Melayu Rendah yang digunakan sebagai bahasa penerbitan dan pers yang didominasi orang-orang Tionghoa, dan sastra Melayu Tinggi yang digunakan sebagai bahasa pendidikan. Karena maraknya penggunakan Sastra Melayu Rendah, pemerintah kolonial menertibkannya dengan pendirian badan penerbit resmi: “Balai Pustaka”.

Kasim adalah bagian dari psoses pem-Balai-Pustakaan naskah-naskah cerita pada awal tahun 20-an. Selain beliau, kita mengenal nama-nama seperti Merari Siregar: Azab dan Sengsara, (1920), Marah Roesli : Siti Nurbaya (1922), Abdul Muis : Salah Asuhan (1928), dan lain-lain.

Rumah keluarga M. Kasim Dalimunte di Kotanopan

Awalnya M. Kasim, sesuai dengan pekerjaannya sebagai guru di SD Kotanopan, banyak menggunakan sastra lisan. Salah satu ceritanya yang terkenal adalah “Si Bisuk Na Oto”. Karena sastra lisan itu pula yang membuat saya gagal menemukan naskah “Si Bisuk Na Oto” yang dikarangnya sebagai sastra literer, sastra lisan.

Banyak memang versi cerita “Si Bisuk Na Oto”, bahkan yang paling konyol sekalipun. Tokoh Si Bisuk Na Oto mungkin lebih dekat dengan prototipe tokoh imajiner Abu Nawas dalam kisah “Seribu Satu Malam” yang tekenal itu. Karena banyak versi itu, dan tak ada yang tertulis, membuat saya tahun 2015 lalu membuat versi sendiri, yang kemudian saya angkat dalam film “Si Bisuk Na Oto” yang diperankan Zulfikar Rambe, Nila Sari, dan lain-lain. Karakternya saya bayangkan saja gaya Robert De Niro dalam film tahun 90-an ketika ia memerankan tokoh dengan keterbelakangan mental, dan Dustin Hoffman dalam film “Rain Man”. Itu bagian dari rasa penasaran saya terhadap tokoh “Si Bisuk Na Oto” yang sering diceritakan M. Kasim. Tentu orang tidak tahu bahwa film tersebut bagian dari upaya saya mengangkat pesona M. Kasim.

Kumpulan cerpen pertama M. Kasim adalah “Teman Duduk” yang terbit tahun 1936, sekaligus sebagai Kumpulan Cerpen Pertama di Indonesia yang diterbitkan Balai Pustaka. Tetapi sebelumnya, M. Kasim sudah menulis novel “Muda Teruna” (1922), Si Samin (1924) yang memenangkan naskah Sayembara Buku Anak-Anak di Balai Pustaka. Kumpulan cerpen lainnya adalah “Bertengkar Berbisik”, “Bual di Kedai Kopi”, dan “Dja Binuang Pergi Berburu”. Beliau juga menulis naskah terjemahan, seperti Niki Bahtera (karya CJ Kieviet, 1920) dan Pangeran Hindi (karya Lewis Wallace, 1931). Cepern-cerpen lainya banyak dimuat di Majalah Pandji Pustaka (1929-1945) dan Pandji Masjarakat (setelah merdeka) yang terbit sebelum merdeka.

Karakter karya-karya M. Kasim banyak bersifat homur dan pendidikan dunia anak-anak. Itu kebalikan dari sastrawan Angkatan 20-an sezamannya yang banyak menulis roman dewasa. Mungkin karena kuatnya pengaruh roman dewasa, maka M. Kasim tidak begitu dikenal secara luas, dibadingkan dengan “Siti Nurbaya”, “Sengsara Membawa Nikmat”, dan “Salah Asuhan” yang diangkat menjadi film oleh TVRI ketika itu.

Tentu bukan hanya M. Kasim yang mewakili sastrawan besar dari Mandailing Natal. Ada Suman Hs yang menjadi murid M. Kasim di Kotanopan, ada Mochtar Lubis dari Muara Soro, Kotanopan.Selain tentu Sutan Takdir Alisjahbana yang lama di Natal.***

 

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Bekas Galin Kabel Optik Ancam Pengguna Jalan

    Bekas Galin Kabel Optik Ancam Pengguna Jalan

    • calendar_month Jumat, 24 Feb 2012
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Panyabungan (MO) – Bekas penggalian kabel optik untuk jaringan telpon seluler di Jl. Willem Iskander titik Kelurahan Kayujati, Panyabungan, Kabupaten Mandailing Natal (Madina) menyisakan kubangan sedalam sekitar 30 cm berdiameter sekitar 1,5 meter, menyebabkan ancaman bagi pengguna jalan. Pengakuan Ismail, warga setempat, korban sudah jatuh, yakni mobil Avanza terperosok ke dalam kubangan ini pada Rabu […]

  • Sampuran Caroke Yang Eksotis (foto 2)

    Sampuran Caroke Yang Eksotis (foto 2)

    • calendar_month Rabu, 28 Mei 2014
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Sampuran (air terjun) Caroce di Desa Tandikek, Kecamatan Ranto Baek, Mandailing Natal. Lokasi Sampuran Caroce berjarak sekitar 500 meter di sisi kanan pemukiman Desa Tandikek. Masuk ke lokasi tergolong mudah karena pengunjung dapat menaiki kenderaan roda 2 dan mobil roda 4. Desa Tandikek berjarak sekitar 30 Km dari Simpang Gambir. Simpang Gambir berjarak sekitar 41 […]

  • Seleksi Sekda Masuk Tahap Pemaparan Makalah

    Seleksi Sekda Masuk Tahap Pemaparan Makalah

    • calendar_month Kamis, 24 Nov 2022
    • account_circle Roy Adam
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Tiga dari empat pejabat eselon II di lingkungan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Mandailing Natal (Madina) yang lulus seleksi administrasi mengikuti tahapan pemaparan makalah dan wawancara di Aula Hotel Rindang, Kecamatan Panyabungan, Madina, Sumut, Kamis (24/11/2022). Seleksi pemaparan makalah dan wawancara tersebut diikuti oleh Alamulhaq Daulay (Plt. Sekda Madina), Parlin Lubis (Kepala Dinas […]

  • Kuburan Godang Abad 8 di Pidoli

    Kuburan Godang Abad 8 di Pidoli

    • calendar_month Selasa, 16 Apr 2019
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      Di Desa Pidoli Lombang, Panyabungan, Mandailing Natal, Sumut, ada makam besar. Perkiraan dibina abad 8 Masehi. Para arkeolog menyebutnya Makam Godang. Tetapi, warga Desa Pidoli menyebutnya Kuburan Godang (Kuburan Besar). Kuburan ini berlokasi di kawasan persawahan arah selatan pemukiman Pidoli Lombang. Dapat dijangkau melalui jalan tanah dengan kenderaan roda empat, sekitar 200 meter dari […]

  • Praktek Tambang Emas Ilegal Kotanopan Beroperasi. Polisi: Sudah Dicek Nihil

    Praktek Tambang Emas Ilegal Kotanopan Beroperasi. Polisi: Sudah Dicek Nihil

    • calendar_month Rabu, 14 Mei 2025
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    Kotanopan ( Mandailing Online ): Reklamasi menjadi alat bagi para pelaku praktek  tambang emas ilegal di Kecamatan Kotanopan, Kabupaten Mandailing Natal. Polisi seolah tidak bernyali menangkap para pelaku yang bermain tambang seara terbuka itu. ” trimakasih informasi nya. Sudah dicek kelokasi nihil,” kata Kanit Reskrim Polsek Kota Nopan seperti dikutip dari Metro7News.com edisi selasa 13/5. […]

  • Tambang Emas Ilegal Pake Alat Berat Mulai Rambah Hutan di Siulangaling

    Tambang Emas Ilegal Pake Alat Berat Mulai Rambah Hutan di Siulangaling

    • calendar_month Sabtu, 7 Okt 2023
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    Muara Batang Gadis ( Mandailing Online )– Sebanyak enam unit excavator setiap hari beroperasi menambang emas secara ilegal di daerah Sungai Lolo Siulangaling, Kecamatan Muara Batang Gadis (MBG), Kabupaten Mandailing Natal (Madina), Sumatera Utara, yang menyebabkan sungai dan air bersih ke empat desa di kecamatan itu jadi keruh. Dikutip dari lama berita StartNews Selama tiga […]

expand_less