Home / Artikel / Mandailing, Mahasiswa dan Literasi

Mandailing, Mahasiswa dan Literasi

Oleh : Muhammad Anwar Lubis

Sejak 2017 silam, ketika saya masih semester tujuh di UIN Jakarta, saya aktif sebagai ketua seksi sosial-keagamaan dalam sebuah perhimpunan mahasiswa Mandailing Natal Jakarta, himpunan itu bernama HM Madina (Himpunan Mahasiswa Mandailing Natal). Saya terlibat banyak obrolan dengan teman-teman HM Madina, terutama soal kemandailingan: sosial, politik, ekonomi, budaya, dan agama.

Beberapa kali dalam setiap kesempatan pertemuan di ruang-ruang diskusi, saya “memuncratkan” kegelisahan dan renungan-renungan yang terbenam dalam pikiran saya selama ini. Di antara renungan yang sering sekali saya “muncratkan” dalam forum adalah pentingnya dan mendesaknya melakukan revivalisasi (menghidupkan) kultur literasi di internal HM Madina Jakarta, khusunya, mahasiswa Madina di seluruh nusantara pada umumnya.

Tak hanya di Jakarta, dalam beberapa kesempatan ketika saya “ngopi” dengan kawan-kawan aktivis mahasiswa STAIM (sekarang STAIN) yang aktif di beberapa organisasi, seperti IM3, Parmusi, Semmi, PMII, dan HMI di Mandailing Natal, satu-satunya yang sering sekali saya tanyakan: bagaimana tingkat literasi para aktivis mahasiswa di Mandailing? Jawaban mereka sering membuat saya sedih. Kebanyakan dari mereka tak kenal buku-buku dan pemikiran tokoh yang menjadi penggagas, perancang, dan ideolog dalam organisasi mereka.

Kenapa harus dengan literasi? Saya ingin memaknai literasi dengan pemaknaan yang integral-radikal. Literasi, saya kira bukan hanya membaca teks dalam sebuah buku, majalah, koran, dlsb. Tapi, literasi juga adalah kegiatan berefleksi, merenung, mengkaji, dan berpikir. Kegiatan membaca pada akhirnya akan mengajak dan membawa pembaca pada kegiatan-kegiatan lanjutan berikutnya, seperti berpikir, berefleksi, dan bahkan “ber-ijtihad”. Inilah “final destination” dari kegiatan membaca: berpikir dan ber-ijtihad tentang problem konteks yang mengitari pembaca, untuk menciptakan perubahan sosial-kebudayaan yang lebih baik.

Seorang aktivis mahasiswa atau intelektual-akademisi yang sadar adalah yang senantiasa memiliki rasa kegelisahan terhadap konteks sosial-politik-budaya-ekonomi, dlsb yang mengitarinya, tempat di mana ia hidup. Dengan demikian, jika budaya “sadar” dan literasi berjalan, maka akan tercipta kultur budaya yang hidup, bukan statis dan mati. Jika kemudian seorang sarjana/mahasiswa tak memiliki rasa “kuriositas” (rasa ingin tahu terhadap apa saja) yang tinggi, maka wacana dalam hal yang disebutkan di atas akan stagnan, vakum, dan mati.

Nah, kejadian yang sedang menghinggapi para aktivis mahasiswa atau intelektual-milenial Mandailing, baik di kota maupun di daerah adalah penyakit semacam “impotensi” dalam literasi, gagasan, pemikiran, kebudayaan, dlsb. Fungsi vitalnya sebagai “agen perubahan” kini telah berbalik, alih-alih sebagai pembaharu-pengubah, justru menjadi perusak, turut memperkeruh keadaan. Ada banyak kalangan aktivis mahasiswa yang kehilangan identitas dirinya sebagai putra-putri Mandailing. Tak lagi mengenal, bahkan “enggan” untuk mengenal dan mempelajari budaya dan falsafah Mandailing. Yang lebih menyedihkan justeru adat-budaya Mandailing disebut sebagai: kampungan, norak. Jika demikian, banyak di antara kita yang sudah melenceng jauh dari semboyan mandailing yang sangat indah: “Negeri Beradat Taat Beribadat.”

Pada akhirnya, saya sebagai manusia Mandailing yang mencoba dan berusaha untuk sadar, mengajak siapa saja para mahasiswa yang memiliki kesamaan semangat, minat, dan pemikiran dengan saya untuk menghidupkan budaya literasi di internal mahasiswa atau pemuda Mandailing, demi tercapainya cita-cita transformasi sosial-budaya Mandailing yang lebih mencerahkan, beradab, beradat, dan sekaligus religius, seperti pesan semboyan kita.

Wa Allahu A’lam bi al-Shawab.***

Muhammad Anwar Lubis adalah mahasiswa Studi Islam UIN Jakarta. Tertarik pada kajian isu-isu Sejarah dan Pemikiran Islam.

Beliau juga peraih beasiswa Chin-Kung, Taiwan.

Aktif di Forum Penulis Madina;
Islam Nusantara Center Jakarta;
Forum Mahasiswa Ciputat.

Comments

Komentar Anda

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: