Home / Artikel / Orang Miskin Terus Disalahkan, Kenapa Tidak Mengevaluasi Sistem yang Sudah Memiskinkan?

Orang Miskin Terus Disalahkan, Kenapa Tidak Mengevaluasi Sistem yang Sudah Memiskinkan?

Oleh: Nahdoh Fikriyyah Islam
Dosen dan Pengamatan Politik

UYM kembali menjadi perbincangan jagat sosial media. Pasalnya, UYM mengeluarkan komentar yang dianggap nitizen tidak layak untuk diucapkan oleh seoarang penceramah. Seperti dilansir dari @geloranews, Jumat (16/04/2021) menyebutkna bahwa pernyataan Ustaz Yusuf Mansur  menuai kontroversi. Pasalnya UYM menyebut bahwa orang miskin pasti kurang ibadah. Kisruh ini berawal dari cuitan Feby Indriani subuh tadi. Di mana ia lebih dulu mengomentari pernyataan UYM di salah satu stasiun televisi swasta nasional.

Feby menuilskan, UYM mengatakan di Metro tv jika orang miskin, pasti ibadahnya kurang. Menyatakan rasa kasihan  dengan orang miskin yang ditindas struktur lalu menyalahkan ustaz yang kaya raya. Menurut Feby, yang dikatakan UYM tersebut di atas berbeda dengan visi Rasulullah yang berusaha mewujudkan keadilan. Sementara UYM malah menjadi agen kapitalisme yang melulu menyalahkan orang miskin.

Padahal lanjut Feby, orang miskin kerap tidak bisa keluar dari kemiskinan karena kebijakan-kebijakan dan sistem belum berpihak pada mereka. Tak hanya Feby, tokoh Nahdlatul Ulama juga turut mengomentari pernyataan Ustaz Yusum Mansur barusan. Pengurus Cabang Istimewa NU Akhmad Sahal, ia membandingkannya dengan doa Nabi Muhammad SAW. Lebih lanjut, Gus Sahal menilai UYM keliru dalam membuat pernyatan tersebut. Sebab menurut Gus Sahal, orang miskin tidak semata-mata karena kurang ibadah.

Kenapa Harus Menyalahkan Orang Miskin?

Banyak orang yang salah paham melihat suatu fenomen kehidupan. Bahkan menakwil dalil juga tidak segan-segan demi membenarkan argumennya. Padahal, Islam tidak pernah mengajarkan demikian. Adanya suatu peristiwa/kejadian di alam semesta tidak selalu berkaitan dengan kaidah kausalitas (sebab – akibat). Karena kehidupan manusia tidak hanya dikendalikan oleh dirinya sendiri, melainkan juga ada Zat yang mengendalikan.

Oleh karena itu, terkait ucapan UYM tersebut perlu untuk didudukkan sesuai dengan konteks ajaran Islam yang benar.

Pertama, kondisi kemiskinan yang disebutkan sebagai akibat kurangnya beribadah, kurang tepat. Sebab, banyak yang kaya tetapi ibadahnya hancur-hancuran bahkan tidak mengerti soal ibadah. Kenapa? Karena tidak mendapatkan pelajaran ibadah atau cara beribadah sesuai ajaran agamanya sejak kecil. Mungkin mereka dari kalangan keluarga yang super sibuk dengan aktifitas duniawi sehingga orangtuanya lupa atau bahkan tidak peduli dengan masa depan agama anak-anaknya. Maka jadilah kelompok yang ibadahnya kurang tetapi kaya harta.

Kedua, hakikatnya antara kaya, miskin, dan ibadah tidak memiliki korelasi langsung. Sehingga orang yang rajin ibadah akan serta merta mendapatkan kekayaan. Dan yang ibadahnya kurang, langsung diberikan kemiskinan oleh Allah. Karena jika kaya-miskin diartikan dalam konsep rezeki, maka rezeki itu minallah. Artinya, jika Allah berkehendak, akan diberikan. Jika  tidak, ya tidak.

Kerja dan ibadah hanyalah usaha yang menjadi ikhtiar wilayah manusia. Namun bukan mutlak menjadi asbab yang menjadikan manusia kaya.  Allah memang telah berjanji tidak akan menyalahi usaha. Artinya, hasil selalu berbading lurus dengan usaha, dan hasil tidak pernah menyalahi proses. Bagi yang berusaha untuk mendapatkan rezeki, semisal mengumpulkan harta, tegantung usahanya seperti apa, ya dikasih, baik halal maupun haram. Karena kelak yang dihisab adalah usaha yang ditempuh dalam menjemput rezekinya bukan jumlah yang didapat.

Ketiga, fenomen kaya-miskin adalah pelengkap kehidupan. Dan sudah suannatullahnya diciptakan Allah. Ada yang kaya untuk berbagi dengan si miskin. Karena sebagian harta kita adalah milik orang lain. Adanya orang miskin jadi ujian bagi orang kaya, apakah memahami hakikat harta kekayaannya. Bisa membawanya ke surga atau ke neraka. Adanya yang miskin juga ujian, apakah terus akan berusaha di jalan yang benar dan terus beribadah, atau malah merasa bosan lalu menghalalkan yang diharamkan.

Idealnya, begitulah konteks memahami kaya-miskin dalam  kehidupan ini menurut perpesktif Islam. Namun, ada satu hal yang harus dipahami lagi dan tidak kalah penting. Bahwa setiap keadaan baik miskin maupun kaya bisa berubah. Dan Allah telah berjanji akan mengubah kondisi suatu kaum jika mau mengubahnya. Artinya, dari kacamata konsep kaidah kausalitas, dan dikaitkan dengan situasi hari ini, kita dapat melihat bahwa kemiskinan yang terjadi bukanlah karena turun dari langit alias tanpa sebab.

Fenomena banyaknya orang miskin di zaman modern ini tidak lepas dari program atau upaya untuk memiskinkan secara struktutal atau sistemik. Sebaba apa? Sebab kesalahan dalam mengelola sumber kekayaan alam milik rakyat. Allah swt menciptakan manusia di bumi lengkap dengan potensi alam yang bisa dimanfaatkan untuk kemakmuran hidup makhluk hidup di dalamnya, khususnya manusia. Sayang, potensi sumber daya alam tersebut telah dikelola oleh segelintir elit politik, penguasa, dan para cukong asing yang bekerjasama. Walhasil, sumber dirampok, yang menikmati hanya segelintir elit, sementara rakyat tinggal gigit jari.

Itulah akar masalah kemiskinan yang ada di negeri ini. Kalau dikaitkan dengan ibadah, bukan rakyat harusnya yang disalah. Tetapi tanyalah para penguasa yang memimpin bagaimana ibadah mereka kepada Sang Pencipta? Apakah menjual aset rakyat itu ibadah? Apakah mengeruk uang rakyat itu ibadah? Tapi kenapa mereka kaya raya dengan gelimangan materi?

Tidak bisa dipungkiri, kaum muslimin hampir di seluruh wilayah penjuru negeri muslim dalam keadaan miskin. Seperti Indonesia, dijajah dan dirampok secara politik oleh ekonomi kapitalis. Ada yang miskin karena negerinya dibombardir hingga luluh lantak lalu terlunta-lunta. Apakah mereka kurang ibadah? Justeru sebaliknya.  Mereka adalah umat Islam yang rajin beribadah dan ingin terus beribadah secara sempurna yang membuat mereka ditindas dan dijajah serta dimiskinkan. Sebab jika mengelola aset negara sesuai dengan perintah yang mereka ibadahi yaitu Allah swt, mewajibkan pemimpin untuk mengiktui aturan Sang Mudabbir. Tetapi justru karena itulah yang membuat penguasa-penguasa kapitalisme enggan.

Dengan demikian, sebagai seorang yang memahami agama, UYM seharusnya mencerdaskan umat dengan memahamkan antara ibadah dan fenomen kehidupan kaya-miskin. Dan harus dijelaskan bahwa kaya tidak selalu didefenisikan dengan harta materi. Kaya hati, kaya pikiran dan kaya ilmu serta iman juga merupakan kekayaan yang bahkan tidak dapat dinilai materi. Sementara miskin, juga sebaliknya. Miskin hati, miskin ide, miskin ilmu dan iman adalah kondisi miskin yang sangat menyedihkan dari miskin harta materi.

Sehingga jelas dengan gamblang, jika kemiskinan yang terjadi adalah karena sebab-akibat, maka tentu bisa diubah dan diperbaiki. Caranya, dengan mengganti aturan dan kebijakan yang telah memiskinkan rakyat dengan aturan yang menjanjikan bahkan sudah membuktikan mampu memberikan kesejahteraan. Saking sejahteranya, tidak ada yang layak menerima zakat.

Itulah standar kaya-miskin secara maal (harta materi) dalam perspektif Islam. Disebut kaya jika sudah tidak layak menerima zakat.  Dan hal itu sudah terjadi di masa kejayaan peradaban Islam. Pemimpin dan rakyat sama–sama memiliki kesadaran iman untuk mengamalkan/mengimplementasikan Islam secara totalitas. Walhasil, miskin secara materi karena dimiskinkan oleh peraturan/ kebijakan adalah mimpi yang dianggap tidak bisa jadi kenyataan jika aturan Islam diimplementasikan secara keseluruhan. Wallahu a’alam bissawab.

Comments

Komentar Anda

Silahkan Anda Beri Komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

%d blogger menyukai ini: