Home / Artikel / Ramadhan Meraih Ketakwaan Hakiki

Ramadhan Meraih Ketakwaan Hakiki

Oleh: Sri Handayani ST
Guru tinggal di Padangsidempuan

Ramadhan tiba semua bahagia
Tua dan muda bersuka cita
Bulan ampunan bulan yang berkah
Bulan terbebas api neraka

Andaikan saja Ramadhan semua
Bulan yang tiba bulan yang ada
Karena besarnya setiap pahal
(lirik lagu opick)

Tak terasa ramadhan tinggal menghitung hari. Setiap muslim tentunya mempersiapkan diri secara optimal menyambut bulan penuh maghfirah (ampunan) yaitu bulan suci ramadhan yang penuh berkah.

Ditengah pandemi Covid-19 tak berujung dan derita umat makin berkepanjangan setelah 100 tahun tiada kepemimpinan umat islam maka ramadhan kali ini harus istimewa dalam perjuangan.

Ramadhan adalah bulan penuh kemuliaan, berkah, rahmat dan ampunan akan hadir di tengah kita. Allah swt telah menjanjikan pahala berlipat ganda bagi siapa saja yang menunaikan amal salih yang dilandasi oleh keimanan dan ikhlas semata-mata mengharapkan ridho Allah SWT.

Di bulan suci nan agung ini umat islam harus berlomba-lomba untuk memupuk ketakwaan pada diri sendiri terutama dalam hal ibadah puasa. Kalimat indah dari Allah swt untuk hambanya.

Hai Orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa, sebagaimana puasa itu telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian, agar kalian bertakwa (Qs. Al Baqarah : 183)

Ketakwaan dapat direalisasikan oleh setiap hambaNya dengan senantiasa terikat dengan aturan Allah swt dalam seluruh aspek kehidupan. Menjadikan syariah islam standar kehidupan. Menunaikan perkara yang wajib maupun sunnah

dan meninggalkan segala perkara yang sia-sia. Memperbanyak ibadah ber-taqarrub kepada Allah swt dengan mengharapkan Ridho Allah swt.

Puasa itu perisai. Karena itu janganlah seseorang berkata keji dan jahil. Jika ada seseorang yang menyerang atau mencaci, katakanlah “sungguh aku sedang berpuasa” sebanyak dua kali. Demi jiwaku yang berada dalam genggamanNya. Bau mulut orang berpuasa lebih baik di sisi Allah ketimbang wangi kesturi, ia meninggalkan makanannya, minumannya dan syahwatnya demi Diri-Ku. Puasa itu milik-Ku. Akulah yang langsung akan membalasnya. Kebaikan (selama bulan puasa) dilipatgandakan sepuluh kali dari yang semisalnya (HR. AL Bukhari)

Ketakwaan bukan hanya harus diwujudkan pada tatanan individu, juga diwujudkan dalam kehidupan bermasyarakat. Allah swt berfirman

Jika saja penduduk negeri beriman dan bertakwa niscaya kami akan membukakan bagi mereka pintu – pintu keberkahan dari langit dan bumi. (QS. Al – A’raf : 96)

Ketakwaan hakiki akan terwujud dengan penerapan islam kaffah yang mengatur segala aspek kehidupan masyarakat. Pintu-pintu ketakwaan terbuka lebar sementara pintu maksiat ditutup. Dalam kehidupan sekularistik, kapitalistik, dan hedonistik saat ini pintu ketakwaan dipersempit dan pintu kemaksiatan dibuka lebar.

Allah swt telah memerintahkan kepada kaum muslimin untuk kembali kepada aturan Allah swt yang penuh dengan rahmatanlil’alamin. Yang menjaga ketakwaan individu maupun masyarakat. Wallahu’alam bishowwab

Apakah hukum Jahiliah yang mereka kehendaki? (Hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang meyakini (agamanya)? (QS. Al Maidah :50)

Comments

Komentar Anda

Silahkan Anda Beri Komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

%d blogger menyukai ini: