Seputar Madina

Rela Antri Belasan Jam


Panyabungan, Langkanya minyak tanah di Mandailing Natal masyarakat rela antri belasan jam untuk mendapatkan jatah lima liter minyak tanah. Hal ini terpaksa dilakukan warga karena sulitnya memperoleh minyak tanah dalam satu bulan terakhir.

Dalam satu bulan terakhir minyak tanah bersubsidi langka di Madina akibat adanya program pemerintah memberlakukan konversi minyak tanah ke gas yang rencananya berlaku awal Tahun 2011 di Madina.

Untuk mengantisipasi kelangkaan minyak tanah, Pemkab Madina dan agen minyak tanah melakukan operasi pasar minyak tanah di daerah-daerah yang banyak penduduknya. Walapun operasi pasar minyak tanah dilakukan tetap saja minyak di Madina sulit karena jatah minyak tanah di Madina sangat minim sekali. Untuk sekitar 500 ribu jiwa penduduk Madina, jatah operasi pasar hanya 20 kilo liter.

Akibat kurangnya jatah minyak tanah di Madina warga terpaksa mengejar operasi pasar minyak tanah yang dilakukan pemerintah. Seperti pantuan wartwan di operasi pasar minyak tanah di Kelurahan Dalan Lidang, Kecamatan Panyabungan, warga nekad antri belasan jam dari pagi hingga sore untuk mendapat jatah lima liter minyak tanah dengan harga Rp 3.100 per liter.

Salah satu warga yang bernama Masnun (35) yang ikut antri di Kelurahan Dalan Lidang yang berhasil dikonfirmasi wartawan, Jumat (31/12/2010) mengatakan bahwa beliau terpaksa ikut antri dengan membawa tiga anaknya yang masih kecil karena beliau telah terlalu lama mengantri untuk membeli minyak tanah di Lapangan Bola Dalan Lidang tersebut.

“Kalau kita tidak antri dari pagi di sini mungkin kita tidak akan dapat jatah, minyak sekarang sangat sulit didapat terpaksa kita ambil kesempatan di sini. Sangking payahnya minyak tanah warga mau membeli minyak tanah dengan harga tinggi,” jelas warga.

Pantauan wartawan, kelangkaan minyak tanah ini sangat dikeluhkan para ibu rumah tangga di Madina karena sulitnya mendapatkan salah satu kebutuhan pokok di dapur tersebut. Minyak tanah ini sangat dibutuhkan ibu-ibu, apalagi warung nasi.

Sampai saat ini harga eceran tertinggi yang ditetapkan pemerintah di pangkalan adalah Rp 3.400 per liter. Namun yang ditemukan di lapangan saat ini minyak tanah diecer dengan harga Rp 5.000 hingga Rp 10 ribu per liter.

warga berharap Pemkab Madina serius memberikan solusi terhadap persoalan ekonomi yang dihadapi warga di akhir Tahun 2010 ini. Terutama minyak tanah yang saat ini sudah sulit didapatkan.

Sementara itu Kabag Perekonomian Kabupaten Madina Ridi AP saat dikonfirmasi melalui seluler untuk mempertanyakan tentang kelangkaan dan tidak sesuainya harga eceran yang dijual oleh pangkalan dengan HET dari pemerintah, berkali-kali tidak dapat dihubungi. Menurut salah seorang stafnya, beliau sedang tugas luar yaitu ke Medan untuk menghadiri rapat. (BS-026)
Sumber : Beritasumut

Comments

Komentar Anda