Artikel

Selamatkan Generasi Dari Kaum Pelangi

Oleh: Mariani Siregar, M.Pd.I
Dosen Pendidikan Islam

Merajelela! Semakin berani terang-terangan!

Kalimat-kalimat tersebut tentu saja muncul dibenak umat ketika mengetahui pergerakan kaum Pelangi yang semakin tidak terkendali. Mereka bukan lagi sosok-sosok yang memiliki rasa malu karena kebodohan pilihannya, tetapi sebaliknya. Kebanggaan yang ditonjolkan karena merasa tidak bersalah sama sekali dari sudut pandang apapun.

Keberanian kaum Pelangi dalam menunjukkan eksistensi diri kini terbukti dengan rencana kumpul bersama oleh komunitas gay, lesbian, biseksual dan transgender (LGBT)se-ASEAN di Jakarta. Kabar tersebut telah dipublikasikan oleh berbagai media massa online. Dan beberapa ormas Islam termasuk para tokoh nasional telah menyatakan sikap untuk menolaknya. Serta menghimbau kepada pemerintah dan juga aparat hukum untuk tidak memberikan ruang bagi kaum Pelangi.

Seperti yang dilansir dari berita republika.co.id, Selasa (11/07/2023) bahwa rencana kegiatan kumpul bareng kaum LGBT di Jakarta disponsori  atau diorganisir oleh ASEAN SOGIE Caucus. Orgnisasi ini berada di bawah Dewan Ekonomi dan Sosial Perserikatan Bangsa-Bangsa sejak 2021, bersama Arus Pelangi, dan Forum Asia.

Super sekali bukan? Dukungan terhadap perilaku seks menyimpang tidak tangung-tangung. Mereka berada langsung di bawah naungan lembaga raksasa internasional, PBB. Padahal, masyarakat dunia kemungkian besar mengetahui lembaga PBB adalah tempat menyelesaikan persoalan manusia. Harapan untuk mendapatkan solusi dari berbagai macam polemik bangsa-bangsa.

Namun PBB sebenarnya tidak salah. Jika berangkat dari sudut pandang pola pikir sekulerisme dan demokrasi, PBB telah menjalankan tugasnya dengan baik. Meskipun hakikat terbentuknya PBB dibentuk untuk merangkul negara yang konflik untuk bersedia damai atau melakukan genjatan senjata, bahkan juga tidak jarang diam saja saat ada negara yang diserang, terkhusus wilayah kam muslim.

Kini, PBB juga hadir menyahuti problem penyimpangan seksual oleh kelompok Pelangi yang dianggap dunia sebagai sesuatu yang salah dan amoral. Dari kacamata Barat sekuler induk semangnya PBB menilai, seharusnya dunia tidak boleh melihat sebelah mata kaum Pelangi. Karena mereka punya hak-hak yang harus dilindungi. Keterlibatan PBB dalam kampanye kaum menyimpang telah membuktikan bahwa dunia kapitalisme global tidak lepas dari sifat hipokrit atau standar ganda yang menjadi sikap andalannya.

Lalu, bagaimana mungkin lembaga ini mampu mengakomodir kebaikan atau kebenaran jika standarnya adalah hipokrit? Bukan hanya Islam, sebagai manusia normal pun pasti menilai bahwa perilaku seks menyimpang adalah suatu kesalahan yang buruk dan fatal. Bahkan sering disebutkan, hewan sekalipun yang tidak diberikan akal (pikiran) oleh sang Pencipta yaitu Allah, naluri seksualnya tidak menyimpang. Tetap saja jantan mencari betina untuk kawin dan berkembang biak.

Gerakan kaum Pelangi sungguh tidak main-main. Mereka terus mengkampanyekan eksistensinya di banyak negara. Karena target yang ingin dicapai bukan hanya sekedar eksistensi melainkan legalisasi.

Bantuan PBB secara politik tentu saja bisa efektif. Hal tersebut akan menunjukkan bahwa dunia mendukung kaum Pelangi. Jika ada negara yang menolaknya, akan berhadapan langsung dengan PBB. Bukankah demikian maksudnya? ASEAN, termasuk Indonesia adalah negara yang masuk keanggotaan PBB yang secara norma keanggotaan terikat kesepatakan dan keputusan PBB.

Jadi, andaikata PBB tetapkan LGBT adalah sah dan boleh, maka Indonesia dan anggota lainnya tinggal mengaminkan saja. Tidak perlu ada protes dan kritik. Meskipun cara penerimaannya nanti bisa saja dengan beragam strategi. Intinya, tidak boleh ada negara yang melakukan tindakan diskriminatif terhadap kaum Pelangi.

Sehingga dari fakta keberadaan PBB yang demikian, tidak salah jika ada yang berpendapat bahwa PBB hanyalah alat yang diciptakan untuk memudahkan, memuluskan, atau mengakomodir kepentingan para negara kapitalis sekuler global. Atas nama keamanan dunia atau mencegah konflik, kebijakan PBB dianggap keputusan dewa.

Bukankah hal ini juga ingin mengatakan bahwa tidak boleh ada konflik dengan keberadaan kaum Pelangi, jika PBB sudah menjamin? Harus bisa berdamai dengan apapun dan siapapun dengan keputusan PBB. Mungkin tidak banyak yang sadar kalau sikap seperti itu adalah bentuk interpensi bukan kebebasan seperti yang Barat dewa-dewakan.

Kebijakan mendukung kaum pelangi oleh lembaga apapun tentu bukanlah suatu kebaikan. Melainkan keburukan yang mengundang malapetaka dan juga azab. Sebab sudut pandang kebaikan hanya memiliki tiga syarat, yaitu pertama memuaskan akal. Kedua, menentramkan jiwa, dan ketiga harus sesuai fitrah manusia. Maka kaum seks menyimpang atau LGBT tentu tidak sesuai fitrah manusia. Dan mendukungnya pasti tidak menentramkan jiwa bahkan merusak akal.

Hingga sudah tepat, adanya penolakan baik secara verbal maupun aksi nyata seperti long march atau protes ke jalan dengan damai, menuju kantor-kantor penguasa untuk menyampaikan aspirasi tersebut tanpa kekerasan pastinya. Sebab jika warga negeri ini khususnya kaum Muslim diam dengan agenda mereka, maka rakyat Indonesia hakikatnya ridho dengan kerusakan bahkan ridho menunggu azab.

Pergerakan kaum Pelangi tidak bisa dianggap sebelah mata. Karena sasaran utamanya adalah generasi muda. Sudah banyak konten-konten kaum muda yang menunjukkan dukungan terhadap perilaku kaum Pelangi. Bahkan berfikir ala Barat sekuler dengan menganggapnya sebagai hak asasi manusia.

Belum lagi konten-konten realiti show atau podcast belakangan ini menampilkan sosok-sosok kaum Pelangi dengan segala cerita drama perjuangannya agar bisa diteriima oleh keluarga dan lingkungan sekitarnya. Bukankah pelaku dan pendukung kaum Pelangi adalah kebanyakan kalangan pemuda? Industri entertaimen dalam dan luar negeri termasuk alat yang turut mengkampanyekan keberadaan kaum Pelangi.

Maka tidak cukup hanya MUI saja yang bersuara menolak keberadaan dan kedatangan kaum Pelangi ke Indonesia. Tetapi seluruh lapisan masyarakat harus turut buka suara. Melakukan muhasabah lilhukkam (memberi nasehat pada penguasa) agar penguasa ini tidak diam dan tunduk buta terhadap kebijakan global pendukung kaum Pelangi.

Eksistensi dan perjuangan legalisasi kaum LGBT sudah berbagai upaya dilakukan oleh mereka. Beberapa negara-negara Barat dan Amerika serta Australis juga ASEAN seperti Singapore dan Thailand menjadi negara-negara yang ramah bahkan mengeluarkan kebijakan pengakuan pasangan sesama jenis.

Keberadaan kaum Pelangi ibarat virus yang terus menggerogoti pertahanan manusia khususnya kaum Muslim dan negeri-negeri Muslim. Mereka masuk dengan berbagai bantuan global yang terorganisir hingga seolah-olah tidak bisa ditolak.

Keberadaan kaum Pelangi dimanfaatkann oleh kapitalisme global tidak luput dari tujuannya untuk menghadang kebangkitan Islam. Serta merusak generasi mudanya. Barat tidak akan puas jika hanya mereka saja yang melegalisasi perilaku seks menyimpag. Barat sekuler juga menarget negeri-negeri Muslim untuk mengikuti gaya hidup mereka dengan menerima kaum Pelangi secara nyata. Bahkan nantinya hingga ke dalam kebijakan.

Selama target tersebut belum tercapai, maka kaum Pelangi yang ditopang oleh alat-alat kapitalisme global seperti PBB tidak akan pernah diam untuk kampanye dan memaksa negara manapun untuk mengadopsi persepsi yang sama.  Bila perlu, sanksi-sanksi bisa saja kelak dikeluarkan bagi negara atau kelompok yang masih memandang kaum LGBT sebagai masalah atau ancaman.

Bahkan di Eropa, kebijakan negaranya juga telah memaksa para imam masjid untuk mampu berdampingan dengan perilaku seks menyimpang. Andaipun tidak dapat mengakui atau menerima secara totalitas, setidaknya harus bisa berdampingan.

Begitu juga di sekolah-sekolah Barat, Eropa dan Amerika telah massif masuk kurikulum anak-anak sekolah prabaligh, untuk mencuci otak mereka bahwa pasangan hidup tidak harus laki-laki dan perempuan. Melainkan berpeluang laki-laki dan laki-laki, atau perempuan-perempuan.

Bukan hanya Muslim, warga non Muslim sekalipun sangat resah dengan gelombang kampanye LGBT tersebut. Masih banyak manusia yang normal di dunia ini bukan? Namun terkesan ada pemaksaan agar manusia seluruhnya abnormal dengan penerimaan kaum Pelangi.

Namun apalah daya, jika kekuatan negara bahkan global mendukung, suara rakyat kecil dan para orangtua hanyalah suara-suara sumbang dan sumbar yang tidak dianggap apapun.

Selama sekulerisme kapitalis global yang memimpin, maka selama itu pulalah kerusakan demi kerusakan akan terus muncul dan didukung. Sebab kerusakan dan keburukan tersebut bisa mendatangkan pundi-pundi dolar dan kepentingan politik. Apalagi kaum Pelangi yang konon memiliki modal besar dan money market (pink market) yang sangat menguntungkan para penikmat ideologi kapitalisme.
Masyarakat mungkin belum lupa, pernyataan salah satu menteri yang mengatakan bahwa perilaku LGBT adalah kodrat. Seolah-olah sedang mengindikasikan bahwa saat itu tengah ada test publik untuk mengetahui reaksi objek yang ditujukan terhadap LGBT.

Indonesia memang tidak melegalkan hubungan pernikahan sesama jenis. Karena itu pastinya akan menimbulkan ketegangan publik dengan penguasa yang semakin melebar. Tetapi uniknya, menurut pengakuan salah seorang transgender asal Indonesia yang kini menetap di Jerman mengakui bahwa dirinya telah mengganti identitas gender termasuk nama pada semua dokumennya.  Katanya, penggantian gender itu diterima oleh pengadilan. Indonesia lho! Bukan negara di Barat sana! Astagfirullah!

Oleh karena itu, solusi mengahkiri kerusakan perilaku seks menyimpang kaum LGBT dan lainnya hanyalah dengan penerapan Islam secara totalitas. Sebab hukum-hukum yang ditetapkan oleh Allah dalam syariat Islam telah jelas dan gamblang untuk menyikapi perilaku kaum seks menyimpang.

Sehingga tidak akan ada dukungan dan penerimaan terhadap kerusakan yang kelak mengundang azab. Allah Swt telah memperlihatkan azab bagi kaum Sodom akibat ulah sesama jenis mereka. Apakah negeri ini ingin mengikuti jejak kaum Sodom? Siap menerikam azab yang sangat pedih?

Jiia tidak, maka bersuaralah. Tolak perilaku seks menyimpang, seks bebas dan jangan diam. Karena imbasnya pada kehidupan generasi mendatang. Tidak ada solusi selain menerapkan Islam dalam kehidupan berbangsa dan bernegara dan hanya Islam yang mampu memutus mata rantai kaum lgbt. Allahu a’alam bissawab.

Comments

Komentar Anda

Silahkan Anda Beri Komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.