Home / Artikel / Unlearning Loss Education

Unlearning Loss Education

Oleh : Alfisyah S.Pd
Guru dan Pegiat Literasi

 

Polemik learning loss dalam sistem pendidikan negeri ini makin parah. Sudah sebelas bulan pelaksanaan pendidikan melalui PJJ (Pembelajaran Jarak Jauh) hanya menghasilkan masalah baru. Learning loss education seharusnya sudah bisa diprediksi. Kebijakan pemerintah membuat kurikulum  darurat di era pandemi   pun tidak banyak menolong. Para orang tua dan murid stress karena beberapa masalah yang muncul. Masalah gadget, paket data, kemampuan guru yang kurang, hingga intensitas pertemuan yang berkurang masih melingkupi PJJ. Kisruh masalah ini belum juga usai. Masyarakat hampir putus asa menghadapi pandemi yang tak kunjung pergi.

Sebenarnya sebelum pandemi pun negara ini mengalami masalah learning loss education. Sebab akar masalah dari kasus itu bukan karena pandeminya. Tetapi lebih kepada sistem kapitalis seluler yang menjadi asas bagi sistem pendidikan itu sendiri. Sistem kapitalis sekuleris yang mendasari proses pembelajaran baik di era normal maupun era pandemi hanya menjadikan hasil akademis yang bersifat materi  saja yang dicapai.  Sebab sistem sekuler yang menyusun program pembelajaran itu memisahkan  persoalan agama pada ranah privat individu. Negara bahkan sanggup  mencampakkan sistem aturan ilahi (agama) dan hanya diterapkan pada masalah pribadi masyarakatnya. Sementara masalah dalam kehidupan umum mengadopsi sistem kapitalisme itu.

Bukan hanya itu Kurikulum pendidikan sekuleristik hanya menitikberatkan pada hasil akademis saja yang disesuaikan dengan kebutuhan pasar. Beban berat pada guru dan siswa semakin bertambagh karena harus mencapai target yang sudah dibuat dengan kondisi negara yang lemah dalam konsep aplikatif sistemnya.Realitanya negara hanya sebagai regulator bukan sebagai penanggung jawab.berubahnya fungsi  negara itu menjadi blunder yang semakin mengacaukan dunia pendidikan.

Seharusnya negara bertanggung jawab penuh atas pelaksanaan pendidikan ini untuk semua masyarakat tanpa kecuali. APBN  yang tangguh, kurikulum yang benar, fasilitas pendidikan yang baik, kemampuan para guru yang mumpuni menjadikan pendidikan itu bermutu. Output pendidikannya pun berkualitas dan mampu menyelesaikan problem masyarakat. Namun jika pemerintah tetap bertahan dan  berbasis sekuleris tidak akan mungkin pernah sampai pada tujuan yang mulia.

Sebab sekulerisme hanya menjadikan target hasil pendidikannya berkemampuan akademis  namun kosong dari kepribadian yang mulia. Masalah pembiayaannya pun menjadi kapitalistik. Pendidikan menjadi mahal dan hanya mampu diakses kalangan orang kaya saja. Orang miskin dilarang sekolah. Pandangan yabg bertolak belakang ini menang nyata. Sebab kapitalisme memang menganggap negara bertindak sebagai regulator. Perbedaan dua kata ini yaitu “penanggung jawab dan regulator” menjadikan pengurusan masyarakat dalam masalah pendidikan menjadi berbeda cara pandang.

Oleh karena itu kapitalisme hanya menjadikan pendidikan menjadi learning loss baik ada pandemi atau tidak. Perubahan cara pandang menjadikan perubahan yang hakiki dalam masalah pendidikan dan bukan hanya sebatas kurikulum. Wallaahu a’lam

Comments

Komentar Anda

Silahkan Anda Beri Komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar anda diproses.

%d blogger menyukai ini: