Home / Seputar Madina / Askolani Buka Suara Soal Pekan Budaya Madina

Askolani Buka Suara Soal Pekan Budaya Madina

 

Askolani Nasution

 

PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Budayawan Mandailing, Askolani Nasution angkat bicara soal kegiatan “Pekan Budaya Mandailing Natal 2019”.

Mantan Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan Madina itu menyatakan prihatin terhadap kegiatan itu.

Dikatakannya, Pekan Kebudayaan bukanlah acara seremonial belaka, juga bukan satu hari.

Harusnya, kata Askolani, Pekan Kebudayaan berdurasi beberapa hari, dengan berbagai kegiatan yang bersifat pertunjukan, pagelaran hingga lomba ragam budaya dalam berbagai media untuk merangsang penguatan entitas kebudayaan di Mandailing Natal.

Dia merujuk pada Pekan Budaya Mandailing Natal 2019 yang diselenggarakan Dinas Pendidikan Madina pada Senin (18/11/2019) di gedung Serbaguna, Panyabungan, Mandailing Natal (Madina) lalu.

“Konsep ‘Pekan Budaya Madina’ yang saya usulkan dulu di Dinas Pendidikan Madina, sekurang-kurangnya dilaksanakan tiga hari di tahun 2019,” katanya melalui akun facebook pribadinya Askolani II pada Selasa (19/11).

“Tujuannya, selain untuk memperdalam wawasan dan apresiasi terhadap budaya daerah, juga untuk membuka ruang kreativitas seni,” tulis Askolani.

Bentuk kegiatan yang diusulkannya meliputi : a) Pertunjukan musik tradisi seperti Gordang Sambilan, Onang-Onang, Sitogol, Ungut-Ungut, dan bentuk-bentuk musik tradisi lain dari empat wilayah adat;

b) Pertunjukan musik kolaborasi tradisi dengan modern;

c) Pementasan drama/teater, monolog, dan drama musikal;

d) Baca puisi atau musikalisasi puisi berbahasa daerah;

e) Pertunjukan tari tradisi dan tari kreasi yang berakar budaya empat wilayah adat;

f) Pemutaran film berakar budaya daerah, film pendidikan, atau film dokumenter.

“Semua kegiatan itu melibat para pelaku seni budaya yang ada di daerah, para seniman, dan melibatkan sekolah-sekolah,” ungkap Askolani.

“Dengan cara itu sekurang-kurangnya semua para pelaku seni-budaya diberi ruang dan mereka memperoleh insentif dari karya mereka. Karena saya tahu, para seniman-budayawan di daerah ini tidak pernah digubris sebagaimana layaknya,” imbuhnya.

Oleh karena itu, Askolani menyatakan heran mengapa Pekan Kebudayaan itu hanya sehari dan miskin kegiatan.

“Mengapa jadinya hanya sebatas seremonial sehari?,” tulis Askolani heran.

Sejauh ini belum diperoleh penjelasan dari Dinas Pendidikan Madina.

Peliput : Dahlan Batubara

Comments

Komentar Anda

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: