Home / Artikel / Pekan Budaya Memalukan

Pekan Budaya Memalukan

 

Pekan Kebudayaan Mandailing Natal di gedung Serbaguna, Panyabungan, 18/11/2019.

 

Oleh : Dahlan Batubara

 

Nama kegiatannya : Pekan Kebudayaan Mandailing Natal 2019.

Lazimnya pekan budaya itu lamanya sepekan atau hampir sepekan atau lebih dari sepekan.

Tapi hanya 1 hari.

Sewajibnya pekan budaya itu diisi ragam kegiatan : festival, pagelaran, pameran, forum kajian hingga ragam perlombaan.

Ternyata kegiatan-kegiatan itu tak ada.

Alhasil acara yang berlangsung di Gedung Serbaguna, Panyabungan, Senin (18/11/2019) itu bukan pekan budaya.

Entah apa nama yang tepat.

“Seremoni Sehari Budaya Madina” mungkin nama yang tepat.

Agar tak memalukan lagi.

Karena Madina sudah terlanjur malu akibat kasus Taman Raja Batu. Atau “Program Nenas” yang disindir-sindir rakyat itu.

Pekan Budaya itu kabarnya hanya meneguhkan 3 standar budaya Mandailing :

Ornamen Bindu, Surat Tulaktulak dan Standar Gordang Sambilan.

Hasil capaian Sosialisasi dan Konsolidasi organisasi FPPAB Madina tanggal 14 September 2019 di Aula Hotel Madina Sejahtera.

Di Kamus Besar Bahasa Indonesia, Pekan Kebudayaan diartikan sebagai pameran kegiatan kebudayaan selama sepekan.

Suatu perhelatan budaya akbar yang menampilkan ragam budaya setempat dalam perspektif modern atau ‘kekinian’.

Pekan Kebudayaan dalam upaya Pemajuan Kebudayaan dalam Pasal 5 UU 5 tahun 2017 juga menekankan untuk pengembangan tradisi lisan, manuskrip, adat istiadat, ritus, pengetahuan tradisional, seni, bahasa, permainan rakyat dan olahraga tradisional.

Dari sisi kebijakan nasional, Pekan Kebudayaan merupakan salah satu Resolusi Kongres Kebudayaan Indonesia 2018 sebagai platform aksi bersama yang memastikan peningkatan interaksi kreatif antar budaya.

Pekan Kebudayaan juga menjadi ruang bagi keragaman ekspresi budaya dan mendorong interaksi budaya untuk memperkuat kebudayaan yang inklusif.

Pekan Kebudayaan pun harus menjadi ruang pencerahan publik yang bertujuan mempersiapkan perencanaan pembangunan yang berbasis kebudayaan, serta menghidupkan wacana inovasi di bidang Pemajuan Kebudayaan.

Sehingga even tersebut juga harus juga menghadirkan ragam kegiatan, seperti kuliah umum, seminar, lokakarya, pidato kebudayaan, peluncuran buku, dan lain-lain.

Maka, Pekan Kebudayaan sejatinya bukan satu hari. Dan bukan seremoni saja.

Dia harus berupa kegiatan-kegiatan yang bersifat vestival, pagelaran, pameran, forum kajian hingga ragam perlombaan.***

Comments

Komentar Anda

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: