Home / Seputar Madina / Atika : Varietas Siganteng Harus Dimuliakan Untuk Mendongkrak Penghasilan Petani

Atika : Varietas Siganteng Harus Dimuliakan Untuk Mendongkrak Penghasilan Petani

Atika Azmi Utammi Nasution

PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Pasangan Sukhairi-Atika akan melakukan pemuliaan bibit padi varietas Siganteng sebagai salah satu upaya nyata meningkatkan intensifikasi persawahan di Mandailing Natal (Madina).

Varietas Siganteng adalah varietas yang ditemukan petani bernama Imran (almarhum) di Desa Huraba, Siabu, Madina beberapa tahun lalu. Varietas ini mampu memproduksi 9 hingga 11 ton per Ha. Nyaris menyamai varietas IF16 yang dikembangkan Asosiasi Bank Benih dan Teknologi Tani Indonesia (AB2TI).

Kedua varietas itu sama-sama ditemukan petani, namun kurang memperoleh apresiasi dari pemerintah. Padahal kedua varietas ini mampu memproduksi gabah jauh melampaui varietas keluaran perusahaan-perusahaan benis di Indonesia.

“Jika ada varitas unggul, kenapa tak dikembangkan. Ini peluang, sayangnya pemda Madina kurang respek, terbukti sulit kita dengar penangkaran Siganteng,” ujar Calon Wakil Bupati Madina, Atika Azmi Urammi Nasution, B.AppFin,MFin menjawab wartawan, Sabtu (5/12/2020) di Panyabungan.

Pasagan Sukhairi-Atika (SUKA) memiliki komitmen yang kuat mengembangkan sektor pertanian di Madina, karena mayoritas mata pencaharian penduduk bergerak di sektor pertanian (sawah, kebun, tambak ikan, nelayan dan ternak).

Dan itu tertuang di dalam misi Sukhairi-Atika pada poin 1 yakni “Meningkatkan ekonomi di bidang agrikultur, industri dan pariwisata berlandaskan kearifan lokal guna terwujudnya kebijakan yang inklusif (menyeluruh) dan berkelanjutan.

Atika menyebut, memfokuskan varietas unggul pada budidaya padi merupakan keniscayaan agar produksi petani bisa meningkat.

Tentunya, selain benih, perhatian pada infrastruktur pertanian ke sentra-sentra persawahan, tambak ikan hingga kebun-kebun penduduk harus menjadi fokus pemerintah daerah dalam mendukung aktivitas semua petani di Madina. Termasuk juga dari sisi alsintan dan saprodi harus mudah diperoleh petani.

“Mayoritas mata pencaharian penduduk ada di sektor pertanian meliputi persawahan, tambak ikan, perkebunan, ternak. Namun tidak menjadi fokus penting dalam struktur kebijakan selama ini,” ujar Atika lulusan Master finance dari University of New South Wales, Australia ini.

Peliput : Dahlan Batubara

Comments

Komentar Anda

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: