Selasa, 5 Mei 2026
light_mode

Batu Tulis dan Girp (Alat Belajar Anak Masa Lalu)

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Jumat, 23 Des 2022
  • print Cetak

Oleh: Dr. M. Daud Batubara, MSi
Pembina Forum Pendidik Madina

Sada dua tolu ning na gurui
Opat lima onom mangiut sipitui
Roma si salapan dohot sambilan i
Gonop ma bilangan so ro si sapului
Ulang di tijuran batu tulis i
Um denggan ma di basu dohot aek tawar i

Ini bagian syair dari lagu yang sangat top pada masa awal tahun tujuh puluhan yang sampai saat ini tidak diketahui dengan pasti siapa pengarangnya. Mungkin dia seorang pendidik sehingga tidak berniat untuk dikenal dan mengkomersilkan lagu yang sangat top saat itu. Sebagai pendidik dengan karakter pahlawan tanpa tanda jasa, mungkin pengarang lagu anonim ini hanya ingin lagu tersebut menjadi bagian dari alat sarana memudahkan belajar berhitung bagi anak-anak masa itu.

Pada bagian akhir syair ini tertulis “Ulang di tijuran batu tulis i. Um denggan ma dibasu dohot aek tawar i”. Artinya “Jangan diludahi Batu Tulis, Lebih baik dicuci dengan air tawar” yang menggambar kebiasan praktik anak dalam membersihkan alat tulisnya yang terbuat dari batu tersebut. Tentu ini juga menggambarkan kebenaran tentang keberadaan Batu Tulis sebagai alat belajar bagi anak sekolah masa lalu di Mandailing.

Batu tulis adalah alat bantu belajar untuk keperluan menulis di masa lalu bagi anak di sekolah. Alat tulis ini berupa kepingan batu yang sangat pipih, dibingkai dengan kayu sekelilingnya yang berfungsi untuk pelindung sekaligus asesoris untuk memperindah. Berbagai referensi menyebut batu tulis ini terbuat dari lempengan batu karbon yang dicetak segi empat. Batu ini berwarna hitam dengan permukaan cukup halus pada kedua sisi, sehingga bisa digores.
Ukuran ketebalan kepipihannya hampir sama tebalnya dengan tablet dan ukuran luasnya mirip laptop dengan berbagai ukuran juga. Mungkin bila ada dijumpai saat ini sangatlah mirip dengan tablet hanya saja isinya tentu sangat berbeda. Batu tulis yang diberbagai wilayah disebut dengan Sabak, sangat mudah pecah bila terkena benturan atau terjatuh dari tangan.

Pena untuk menggores di batu tulis seperti disebut sebelumnya disebut namanya Girf. Oleh bangsa Mandailing, Girf ini disebut Geref, mungkin karena kebiasaan dalam penggunaan lapas bahasa di Mandailing. Geref ini terbuat dari jenis batu yang sama dengan Batu Tulis. Bedanya bentuk penanya dibuat seperti pensil dengan ukuran panjang sekitar sepuluh cm dengan diameter sekitar tiga mm. Geref ini akan patah bila terjatuh, karena batu kecil panjang ini sangat mudah patah.

Cara menggunakan batu tulis, selalu berpasangan dengan grif. Batu tulis berfungsi sebagai media tulis sedangkan grip adalah alat tulisnya. Mungkin hal ini berhubungan pula dengan sebutan tempat menyimpan pensil atau balpen sampai saat ini disebut doosgrip, bukan doospen. Bagian yang runcing digoreskan ke bagian batu tulis yang relatif licin sehingga munculnya goresan yang dapat membentuk huruf, angka atau lukisan. Hasil goresan grip dari sisi bagian yang runcing di permukaan batu tulis, akan menghasilkan goresan seperti menulis pada kertas menggunakan pensil, tetapi agak lebih jelas dari tulisan pensil di kertas.

Batu tulis yang kurang lebih selebar laptop ini, tentu tidak dapat menampung banyak konten di dalamnya. Sehingga hampir setiap saat harus dihapus karena konten pelajaran yang bergerak terus. Jadi bukanlah peranti yang dapat menyimpan berkas permanen, tapi hanya digunakan sementara waktu untuk mengikuti pelajaran yang disampaikan oleh guru.  Setelah selesai, dapat dihapus dan ditulisi dengan materi pelajaran lainnya, begitu seterusnya. Tentu ada tuntutan yang tinggi terhadap kemampuan menghafal oleh peserta didik. Jadi sangat beda dengan kekinian yang dapat menyimpan dan mengarsipkan konten pelajaran. Dapat dibayangkan bagaimana fungsinya saat itu dengan bagaimana proses  belajar harus dilakukan oleh guru yang setiap saat, dimana konten pelajaran harus di hapus.

Cara menghapus batu tulis dari goresan konten yang ada di atasnya adalah dengan menggunakan air yang diusapkan ke atas permukaan batu tulis yang dituliskan. Bagi pelajar yang usianya masih sangat muda tentu akan merasa lebih praktis menggunakan ijur (ludah) dan mengusapnya dengan tangan. Tentulah meraka belum memahami betul tentang efek kesehatan, etika dan kenyamanan dari bau yang ditimbulkan ludah tersebut. Ini pulalah yang mungkin melatarbelakangi sang pencipta lagu di atas sampai menyinggung kondisi tersebut pada bagian akhir dari syair lagu berbahasa daerah tersebut. Cara lain menghapusnya dapat dengan menggunakan bagian batang besar bunga Angrek yang tumbuh di batang pokok kelapa. Benda ini dipotong bagian ujungnya lalu diusapkan ke batu tulis.

Sampai masa awal tahun tujuh puluhan, batu tulis merupakan alat bantu belajar yang sangat handal. Bahkan di berbagai pelosok Mandailing satu-satunya alat tulis masa itu untuk anak sekolah. Buku masih tergolong mahal bahkan boleh disebut langka sehingga sebahagian tempat seperti di kampungku Alahankae di Ulu Pungkut sulit untuk ditemukan.

Batu tulis ini mungkin dapat dikategorikan sebagai buku tulis kuno. Hal ini terlihat dari berbagai referensi yang menyebut bahwa di Indonesia sampai pada tahun 1960-an batu tulis masih sangat handal untuk alat bantu belajar tulis menulis. Saat ini sudah sulit untuk menemukannya, dan mungkin akan ditemukan pada museum-museum berbasis pendidikan.

Peran batu tulis dengan berbagai tahapan telah jauh berubah. Era milenial ini telah menggunakan peranti digital modern yang mirip dengan bentuk batu tulis, yaitu komputer tablet. Batu tulis digital ini bukan hanya berfungsi sebagai peranti untuk menulis dan berhitung tetapi juga digunakan sebagai alat komunikasi dan fungsi komputer untuk berbagai keperluan.

Dr. M. Daud Batubara, Msi

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Siap Siap, PKL di Panyabungan Akan Ditertibkan

    Siap Siap, PKL di Panyabungan Akan Ditertibkan

    • calendar_month Senin, 19 Jun 2023
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN( Mandailing Online) Para pedagang kaki lima di Kota Panyabugan dan sejumlah Kecamatan di Kabupaten Mandailing Natal ( Madina ) nampaknya harus siap siap menghadapi penegakan Perda nomor 11 tahun 2017 tentang penataan dan pemberdayaan pedagang kaki lima di Kabupaten Mandailing Natal. Siang tadi Senin (19/6/2023) Rapat terkait penataan dan pemberdayaan pedagang kaki lima ini […]

  • Kaum Pelangi Menghancurkan Generasi

    Kaum Pelangi Menghancurkan Generasi

    • calendar_month Senin, 30 Mei 2022
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Oleh: Susi Ummu Ameera Pegiat Literasi Kutau dulu pelangi itu indah Mentaripun menyambutnya dengan cerah Kini, pelangiku itu tak indah lagi Dikotori oleh kaum sodom Baru-baru ini, Pemerintah Indonesia melalu Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) RI akan memanggil Duta Besar Inggris untuk Indonesia, Owen Jenkins. Juru Bicara Kemlu RI, Teuku Faizasyah menyatakan Dubes Inggris akan dipanggil […]

  • Puncak HUT ke-58 Golkar di Madina Ditandai Tasyakuran dan Masuk Kantor Baru

    Puncak HUT ke-58 Golkar di Madina Ditandai Tasyakuran dan Masuk Kantor Baru

    • calendar_month Kamis, 20 Okt 2022
    • account_circle Roy Adam
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – DPD (Dewan Pimpinan Daerah) Partai Golkar Kabupaten Mandailing Natal (Madina) menandai puncak perayaan HUT (Hari Ulang Tahun) ke-58 partai dengan tasyakuran masuk kantor baru. Puncak perayaan dilaksanakan di halaman kantor partai, Jalan Willem Iskandar, Kelurahan Pidoli Dolok, Kecamatan Panyabungan, Madina, Sumut. Selain tasyakuran, DPD Golkar Madina juga memberikan santunan kepada anak […]

  • MARSIDAO-DAO (episode 47)

    MARSIDAO-DAO (episode 47)

    • calendar_month Rabu, 14 Sep 2016
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Novel Mandailing Nanisuratkon : Dahlan Batubara Laing ikusandarkon dadaboru ni Muklan i do sibuk ni Si Siti tu indorana painte becak masin marobanna. Dadaboru ni Mahlil margoso palagut parabiton ni Siti nangkan obanon tu ruma sakit. Si Rahim iambit ombar balok ni alai. Poso-poso na manjalahi becak i, marlojong maripas tu dalan godang an. Dung […]

  • Marsisalamatkon Dirina Boto Jolmai

    Marsisalamatkon Dirina Boto Jolmai

    • calendar_month Kamis, 7 Okt 2010
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Songonimada dihangolunon, pala adongma tando-tando nagiot karom parau ibarat ni namarlayar di laut nabolak, marsisalamatkon dirina mei jolmai, adong namamuhung-muhung songoni baen biarna ia ona jorat, adong antong mamasang kuda-kuda gorarna anso bisa morot sian parau nagiot karomi, adong muse sifat nijolmai nabulus putus asado, hodoma tuhan namangida anggo audo inda adong dayo upayo ningiama […]

  • Belajar di Luar Ruangan, TK Satap SDN 048 Malintang Kunjungi Silangit Koi

    Belajar di Luar Ruangan, TK Satap SDN 048 Malintang Kunjungi Silangit Koi

    • calendar_month Kamis, 18 Nov 2021
    • account_circle Roy Adam
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Belajar tidak hanya bisa dilakukan di dalam kelas, tapi juga bisa dilaksanakan di luar rungan. Bahkan belajar di luar ruangan bisa memberikan stimulus positif bagi anak-anak. TK Satu Atap (Satap) SDN 048 Malintang mengunjungi wisata Silangit Koi Hutasiantar di Kotasiantar, Panyabungan pada Kamis (18/11). Setidaknya ada 29 murid, 5 orang guru, […]

expand_less