Sabtu, 31 Okt 2026
light_mode

DALIHAN NA TOLU

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Selasa, 1 Nov 2016
  • print Cetak

Catatan : Askolani Nasution
Budayawan Mandailing

Dalihan Na Tolu grafis (grafis oleh Mandailing Online)

Dalihan Na Tolu grafis (grafis oleh Mandailing Online)

Hubungan kekerabatan antar individu dalam masyarakat Mandailing tercermin dalam konsep Dalihan Na Tolu. Segala aktivitas sosial budaya indovidu tidak dapat dipisahkan dari ikatan kekerabatan ini. Konsep ini diyakini asli kreasi nenek moyang Mandailing karena tidak ditemukan padanannya dalam budaya manapun.

Mereka meyakini bahwa konsep Dalihan na Tolu dapat membentuk suatu sistem kemasyarakatan yang ideal. Masyarakat yang ideal menurut Mandailing adalah massayarakat yang di dalam interaksi sosialnya ditemukan holong (kasih sayang). Holong dijadikan sumber semua kehidupan. Karena itu ada istilah dalam Mandailing: holong do mula ni ugari (kasih sayang awal dari adat), atau holong do maroban domu, domu maroban parsaulian (kasih sayang membawa keakraban, keakraban membawa kebaikan bersama)

Konsep Dalihan na Tolu seperti sebuah segitiga sama sisi. Masing-masing sisi terdiri dari: Mora (pemberi anak gadis), Kahanggi (kerabat satu marga), dan Anak Boru (penerima anak gadis). Setiap orang secara abstrak memolakan diri mereka dalam segitiga itu. Hak dan kewajiban seseorang ditentukan oleh posisinya dalam pola itu. Tetapi sewaktu-waktu posisi itu dapat berubah karena terjadinya perkawinan.

Hubungan masing-masing unsur di dalamnya diatur melalui norma atau etika yang disebut apantunon (adab). Apantunon diyakini mampu menciptakan hidup yang beradab. Karena itu ada istilah pantun hangoluan, teas hamatean. Artinya, dengan beradab kita bisa hidup, kalau tak beradab kita akan binasa.

Anak boru memiliki kewajiban terhadap moranya dengan istilah:

(1) sitamba na urang siorus na lobi (si penambah yang kurang si pengurang yang lebih).
(2) na manorjak tu pudi juljul tu jolo (yang menerjang ke belakang menonjol ke depan). Maksudnya, adanya kewajiban anak boru untuk memuliakan moranya.
(3) si tastas nambur, artinya pihak anak boru berkewajiban sebagai perintis jalan (barisan terdepan) untuk menyelesaikan persoalan-persoalan yang dihadapi pihak mora.

Mora berkewajiban kepada anak-borunya dalam istilah elek mar anakboru. Maksudnya, senantiasa menyayangi pihak anak boru.

Selain itu, juga dikenal kelompok kekerabatan tambahan, yakni:

(1) Mora ni Mora, yaitu kelompok mora dari mora
(2) Pisang Raut, yaitu kelompok anak boru dari anak boru
(3) Kahanggi pareban, yaitu kerabat dari beberapa keluarga batih yang berlainan marga, tetapi sama-sama menjadi anak boru dari satu keluarga yang bermarga tertentu.
(4) Koum Sisolkot. Koum merupakan kekerabatan yang terbentuk karena hubungan perkawinan. Sisolkot kekerabatan merujuk kepada adanya pertalian darah. Koum meliputi anggota yang lebih banyak.

Dalam adat mandailing kekerabatan yang diikat oleh Dalihan Na Tolu membentuk satu ikatan rasa sahancit sahasonangan dan sasiluluton sasiriaon. Artinya, sakit senang dirasakan bersama. Karenanya dalam menyikapi berbagai persoalan yang mereka hadapi, orang Mandailing dituntut untuk sahata saoloan satumtum sapartahian. Maksudnya, seia sekata menyatu dalam mufakat untuk sepakat. Juga dikenal istilah mate mangolu sapartahian, atau hidup dan mati dalam mufakat untuk sepakat.

Agar setiap individu mengatahui hak dan kewajibannya dalam relasi kekerabatan Dalihan na Tolu, maka diciptakanlah partuturon. Dengan begitu, pada tutur melekat hak dan kewajibannya pada orang lain. Misalnya, seseorang yang dipanggil mamak, berarti padanya melekat hak dan kewajiban sebagai mora, dan orang yang memanggilnya melekat hak dan kewajiban sebagai anak boru. Anak boru harus menghormati (somba) moranya.

Dengan begitu seseorang harus senantiasa memposisikan dirinya secara konkrit dari partuturon itu. Adab paling mendasar dalam relasi mora, kahanggi dan anak boru adalah tolu apantunon, yaitu somba marmora, elek maranak boru dan manta-manat markahanggi.

 

Dicopy dari : https://askolan.wordpress.com/mandailing/

 

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Saroha Malaysia Akan Investasi di Madina, Ketua HIPMI: Kita Sambut Baik Rencana Itu

    Saroha Malaysia Akan Investasi di Madina, Ketua HIPMI: Kita Sambut Baik Rencana Itu

    • calendar_month Rabu, 29 Jun 2022
    • account_circle Roy Adam
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN, (Mandailing Online) – Badan Pengurus Cabang Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Mandailing Natal (Madina) menyambut baik keinginan Perkumpulan Saroha Malaysia berinvestasi di Bumi Gordang Sambilan. Hal itu disampaikan Ketua Umum BPC HIMPI Madina Mhd. Zainal Arifin, M.Si saat meninjau lahan pertanian dan peternakan di wilayah Panyabungan Barat, Rabu (29/6). “HIPMI berkomitmen untuk terus berkontribusi […]

  • DAS Sijorni Jadi Tempat MCK

    DAS Sijorni Jadi Tempat MCK

    • calendar_month Senin, 17 Mar 2014
    • account_circle Redaksi Abdul Holik
    • 0Komentar

    TAPSEL – Masyarakat di sekitar sungai Sijorni di Kecamatan Sayurmatinggi, Tapsel, hingga kini masih ada yang menggunakan air sungai untuk kebutuhan sehari-hari, seperti Mandi, Cuci dan Kakus (MCK). Menurut beberapa warga, mereka memang masih sangat membutuhkan aliran air Sijorni karena belum adanya air bersih yang di kediaman mereka. Untuk itu mereka berharap agar pemerintah segera […]

  • Saksi Bank Sumut Diperiksa

    Saksi Bank Sumut Diperiksa

    • calendar_month Senin, 3 Jan 2011
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Medan, Kejaksaan Agung (Kejagung) RI telah melakukan proses penyelidikan terhadap kasus kredit macet Bank Sumut ke salah satu kontraktor senilai Rp 1,9 miliar pada Tahun 2007 lalu. Proses penyelidikan ini dilakukan berdasarkan hasil audit BPK RI, yang menemukan adanya kerugian negara dalam pengucuran kredit oleh Bank Sumut kepada salah satu kontraktor. “Maka untuk langkah selanjutnya […]

  • BPD Sale Baru Usulkan Pemberhentian Kepdes

    BPD Sale Baru Usulkan Pemberhentian Kepdes

    • calendar_month Jumat, 5 Jun 2020
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailling Online) – Elektabilitas Kepala Desa Sale Baru, Muara Batang Gadis, Madina, Cahyo Surya nampaknya pudar di mata warga. Pasalnya, pada 7 Pebruari lalu sebanyak 401 warga atau sekitar setengah dari jumlah pemilih telah menorehkan tandatangan meminta Cahyo mundur dari jabatan. Kemudian, pada 31 Maret 2020 Badan Perwakilan Desa (BPD) telah melaksanakan rapat pleno […]

  • Putusan PTTUN Medan Bukti Kuat Izin Lokasi PT.ALN Cacat Hukum

    Putusan PTTUN Medan Bukti Kuat Izin Lokasi PT.ALN Cacat Hukum

    • calendar_month Selasa, 28 Okt 2014
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Putusan Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara (PTTUN) Medan Nomor: 112/B/2014/PT.TUN-MDN Tanggal 20 Oktober 2014 telah menguatkan Putusan Pengadilan Tata Usaha (PTUN) Medan Nomor: 106/G/2013/PTUN-MDN tentang gugatan Koperasi Pengembangan Universitas Sumatera Utara (KP. USU) terkait keabsahan izin lokasi PT. Agro Lintas Nusantara (ALN) di Kecamatan Muara Batang Gadis Kabupaten Mandailing Natal. […]

  • Legenda “Seri Bulan, Bujing Sambilan Jogi” di Gua Pastap

    Legenda “Seri Bulan, Bujing Sambilan Jogi” di Gua Pastap

    • calendar_month Selasa, 24 Mei 2022
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Diceritakan kembali: Askolani Nasution ……………… Cerita ini saya tulis dari kesaksian sesepuh desa di lokasi Gua Pastap, tanggal 6 Desember 2021. Ketika itu saya membawa peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional, Prof Dr Obing Katubi dan Tim Literasi dari UMTS. Belum pernah dipublikasikan secara luas. (Askolani Nasution) ………………. Tersebutlah di sebuah luat Tangga Bosi, […]

expand_less