Home / Artikel / Lubuk Larangan : Pecandu Hingga Pembeli (2)

Lubuk Larangan : Pecandu Hingga Pembeli (2)

Lubuk Larangan Laru Lombang. (foto : Yaser Lubis)

 

Catatan : Dahlan Batubara

 

Para pecandu Lubuk Larangan juga terdapat 2 variasi motivasinya. Motif pertama : ikan yang ditangkap hanya untuk konsumsi keluarganya semata alias tak dijual. Motif kedua : sebagian ikan untuk konsumsi keluarga, sebagian untuk dijual.

Harga tiket dua variasi. Untuk orang luar desa lebih mahal dibanding penduduk desa setempat.

Di Lubuk Larangan Desa Gunung Tua Julu, misalnya, untuk orang luar desa biasanya dipatok Rp.50.000 per tiket. Untuk penduduk desa setempat Rp.25.000.

Variasi harga tiket juga berbeda antara Lubuk Larangan di satu desa dengan Lubuk Laragan desa lain.

Ada yang mematok tiket seharga Rp.60.000, ada yang Rp. 50.000 hingga ada yang Rp. 30.000. Tergantung potensi ikan di masing-masing aliran sungai.

Yang ikannya selalu lumayan banyak, panitia berani mematok 60.000 per tiket.

Tetapi potensi ikan sering juga berpluktuasi. Bisa-bisa tahun lalu ikannya melimpah, tahun ini justru sedikit. Pluktuasi itu tak mempengaruhi harga tiket. Karena secara umum, melimpah tidaknya potensi ikan akan diketahui saat panen berlangsung.

Lubuk Larangan banyak ditemukan di Mandailing Godang hingga Mandailing Julu, termasuk Batang Natal.

Di Mandailing Godang sebut saja : Laru Lombang, Tambangen Jae, Lumban Pasir, Gunung Baringin, Parmompang, Padang Laru, Salambue, Pidoli Dolok, Pidoli Lombang, Sipapaga, Lubuk Sibegu, Aek Galoga/Vinago, Barbaran, Hutatonga, Longat, Gunungtua Julu, Gunungtua Lumban Pasir, Gunungtua Tonga, Hutasiantar.

Mandailing Julu lebih banyak, mulai dari Kotanopan Ulupungkut hingga Muara Sipongi, diantaranya : Singegu, Hutabaringin, Simangambat, Tamiang, Usor Tolang, Hutapungkut Jae, Hutapungkut Julu, (dan lain-lain, saya lupa nama-nama desanya).

 

Gambar mungkin berisi: 1 orang, duduk, anak dan luar ruangan

Peserta memperlihatkan hasil tangkapan di Lubuk Larangan Laru Lombang, Kecamatan Tambangan, Madina

 

Aliran sungai yang dijadikan lubuk larangan, mulai dari Sungai Batang Gadis, Batang Natal, Aek Pohon, Rantopuran, Aek Sarir, Aek Mata, Batang Pungkut dan lain-lain.

Ada juga yang memanfaatkan saluran irigasi Batang Gadis sebagi titik Lubuk Larangan. Misalnya Gunungtua Iparbondar dan Panyabungan III (atau panyabungan II? Saya lupa).

Di dua lubuk larangan ini peserta bukan menjala, tetapi mandehe (menangkap ikan dengan tangan). Panitia menaruh bibit ikan mas sebagai komoditasnya. Ada juga ikan nila dan lele jumbo yang mebiak sendiri.

Di Barbaran juga ikan mas dan nila. Peserta hanya boleh mandehe dan mandurung. Jumlah ikannya jarang berpluktuasi. Selalu banyak. Cobalah datang ke Barbaran saat membuka (panen) Lubuk Larangan. Anda akan melihat banyak peserta yang sumringah membawa ikan nila besar-besar sebanyak karung raskin.  (bersambung)

 

 

Comments

Komentar Anda

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: