Home / Budaya / Madina Harus Bentuk Lembaga Pelestarian Cagar Budaya

Madina Harus Bentuk Lembaga Pelestarian Cagar Budaya

Tan Gozali

PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Mandailing memiliki peradaban tua. Sejak zaman batu hingga Hindu, era Masehi hingga masa kerajaan-kerajaan.

Setiap etape sejarah itu membentuk dan memperkaya peradaban kawasan Mandailing.

Berjibun jumlah situs dan aset peninggalan sejarah Mandailing tersebar di banyak tempat, terutama di Kabupaten Mandailing Natal (Madina).

Tetapi, sebagian besar aset itu tidak dipelihara, dibiarkan begitu saja sehingga kian hari makin terancam keberadaannya.

Sebab itu, Ikatan Pemuda Mandailing (IPM) mendesak Pemkab Madina mendirikan lembaga yang berfungsi dalam pelestarian situs dan cagar budaya yang patut dilindungi.

Presiden IPM, Tan Gozali Nasution merinci sejumlah situs dan aset budaya yang layak dilindungi.

Diantaranya, peninggalan peralatan zaman batu di Runding, reruntuhan Candi Siwa Simangambat, reruntuhan candi Biara di Pidoli, Situs Padang Mardia, makam-makam awal peradaban islam, patung Sangkalon Sipangan Anak Sipangan Boru, serta banyak Bagas Godang yang usianya sudah berabad.

“Banyak lagi selain itu yang perlu lagi diinvetarisasi oleh daerah, dimana tidak terinventarisir oleh Balai Perlindungan Cagar Budaya. Maka, kita mendorong pemerintah daerah membikin peraturan bupati atau juga perda, membentuk lembaga pelestarian dan perlindungan situs-situs tersebut,” ungkap Tan, Selasa (23/8/2022) dalam sela diskusi bersama para pemuda di Panyabungan, Mandailing Natal, Sumut.

Tan menyatakan lembaga yang perlu didirikan di Madina adalah semacam Lembaga Pelestarian Cagar Budaya.

Kelak, kata Tan, jika lembaga itu terbentuk dan fungsinya berjalan. Akan memudahkan bagi generasi muda untuk belajar mengenal jati diri. Juga memudahkan bagi lembaga-lembaga pendidikan melaksanakan pendidikan luar sekolah.

“Tidak hanya itu. Jika terbentuk, akan memudahkan juga bagi daerah dalam merangkum peta wisata daerah Madina ini. Kita sudah jauh tertinggal dalam hal ini, sebagai contoh di Belitung sana ada museum kata dari seorang penulis novel Laskar Pelangi Andrea Hirata. Sementara, di kita ada tokoh pendidikan, tokoh literasi Willem Iskander, namun nyatanya hampir tidak ada sama sekali situs peninggalannya yang lestari, kecuali hanya sebagai nama jalan,” kata Tan, berharap juga ada Museum Sastra Willem Iskander di Madina.

Editor: Dahlan Batubara

Comments

Komentar Anda

Silahkan Anda Beri Komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

%d blogger menyukai ini: