Selasa, 7 Jul 2026
light_mode

Mengenal Bahasa Mandailing (2)

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Kamis, 17 Nov 2016
  • print Cetak

Oleh: Basyral Hamidi Harahap (in memoriam)

 

 

Almarhum Basyral Hamidi Harahap

Almarhum Basyral Hamidi Harahap

BAHASA DAUN

Prof. C.A. Van Ophuysen, ahli bahasa Melayu dan bahasa Mandailing menulis sejumlah artikel tentang bahasa Mandailing. Salah satu diantaranya ialah tulisan berjudul  De Poezie in het Bataksche Volksleven, 1886. Tulisan ini membahas bahasa daun dan 80 ende dan ungkapan tradisional Mandailing.

Van Ophuysen pernah menjadi direktur Kweekschool Padangsidimpuan selama 7 tahun. Kemudian menjabat guru besar bahasa Melayu di Universitas Leiden. Bekas muridnya di Kweekschol Padangsidimpuan, Rajiun Harahap gelar Sutan Kasayangan Soripada, pernah menjadi asistennya di Universitas Leiden sebagai repititor bahasa Melayu.

Pada tanggal 13 Januari 1885 terjadi kebakaran besar di Padangsidimpuan, rumah Van Ophuysen ikut terbakar bersama dokumen penelitiannya tentang bahasa Mandailing yang sangat berharga. Tulisan Van Ophuysen yang paling terkenal tentang bahasa dan sastra Mandailing ialah tentang ende-ende dan bahasa daun atau bladerentaal.

Sesungguhnya ramuan bahasa daun itu tidak hanya terdiri dari dedaunan, karena ada bahan-bahan lain yang diikutsertakan dalam menyatakan sesuatu pesan.

Jika seseorang ingin menjawab atau memberitahukan tentang kesediaannya, kemauannya, keinginannya, atau cintanya, ia boleh  mengirimkan bulung ni pau, daun pakis, maknanya adalah  au, aku.  Daun pau rara, pakis merah, berarti ra, mau atau ingin. Jadi kedua jenis daun pakis ini bermakna ra au, saya mau.

Dalam masyarakat Barat dikenal dengan ungkapan katakan dengan bunga. Dalam hal ini makna bunga yang dikirimkan berkaitan dengan nama dan warna bunga yang bersangkutan

Menurut Van Ophuysen, orang Mandailing adalah satu-satunya suku bangsa yang memiliki bahasa daun. Oleh karena itu, penulis berpendapat sewajarnya bahasa daun ini dimasukan ditetapkan sebagai salah satu khasanah kebudayaan orang  Mandailing.

 Keberadaan bahasa daun mengisaratkan betapa orang Mandailing sangat sensitif dan dekat dengan alam. Mereka mempunyai filosofi yang mendasari sikap dan prilaku mereka dalam bergaul dengan alam. Sehingga mereka pada dasarnya adalah pecinta dan pelestari alam sehingga tercapai ekologi antara alam dan manusia yang seimbang.

Jika ditelaah lebih mendalam, kita dapat mencari elemen-elemen jati diri orang Mandailing dalam bahasa daun, antara lain sikapnya yang suka pada lambang-lambang sebagai cara bertutur kata. Atau mengungkapkan bahasa tubuh sebagai cara mengungkapkan sesuatu tanpa kata-kata, atau sebagai penguat kata-kata yang diucapkan, atau meneruskan kata-kata atau kalimat dengan bahasa tubuh. Orang Mandailing  juga merupakan suku bangsa yang biasa berbicara dengan tamsilan untuk melembutkan pernyataan yang seharusnya diucapkan secara  tegas dan lugas.

Dalam bahasa daun, dipakai daun-daun  yang namanya mirip atau sama dengan lafal  kata yang dipakai dalam percakapan sehari-hari. Jadi pemaknaanya bukan pada sifat-sifat daun atau benda lainnya, seperti porkis, semut, tidak diartikan sebagai rajin dan produktif, tetapi diartikan torkis, sehat wal’afiat. Dedaunan yang  dikirimkan bisa juga disertai gambar atau coretan  yang mengambarkan sesuatu, misalnya gambar sige atau parau.

Penulis mencatat 94 nama dedaunan yang sudah dikenal luas oleh orang Mandailing yang dimaksukkan oleh Vsan Ophuysen lengkap dengan maknanya dalam bahasa Mandailing  dan bahasa Belanda. Daftar itu penulis sunting lagi dengan menyusunnya menurut abjad  agar pembaca lebih mudah mencari nama daun tertentu. Terjemahan bahasa Belanda yang dibuat oleh  Prof. Van Ophuysen, penulis ganti dengan terjemahan dalam bahasa Indonesia (akan dumuat di bagian 3-red).

Pilihan daun sebagai kosa kata bahasa daun terutama didasarkan pada persamaan atau kemiripan lafal nama daun  dengan kata-kata  dalam kosa kata Mandailing. Sebagian dari daun-daun itu adalah tumbuhan obat yang biasa dipakai oleh datu sebagai pulungan ni ubat, sebagai ramuan obat. Sayang sekali orang Mandailing jaman sekarang ini tidak lagi mengenal semua dedaunan yang disebutkan oleh Van Ophuysen di dalam tulisan itu. (bersambung)    

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Keluarga Korban Akan Tuntut PT.SMGP

    Keluarga Korban Akan Tuntut PT.SMGP

    • calendar_month Minggu, 30 Sep 2018
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    SIBANGGOR (Mandailing Online) – Dua keluarga korban akan menuntut pihak PT.SMGP terkait tewasnya dua remaja di kolam pengeboran panas bumi Desa Sibanggor Jae. Usai masa berkabung, pihak keluarga bersama masyarakat Sibanggor Jae akan bermusyawarah menetapkan sikap. Kedua keluarga itu adalah keluarga almarhum Irsanul Mahya (15) dan almarhum Muhammad Musawi (15) yang tewas tengggelam di kolam […]

  • Antrean Panjang di Jembatan Aek Ranto Puran

    Antrean Panjang di Jembatan Aek Ranto Puran

    • calendar_month Jumat, 24 Agt 2012
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    ANTRE PANJANG Ratusan kendaraan antre panjang di Jalan Lintas Sumatera tepatnya dekat Jembatan Aek Rantopuran Gunungtua Panyabungan Kabupaten Mandailing Natal yang ambruk beberapa waktu lalu. Kondisi tersebut disebabkan jembatan bialley sebagai jembatan pengganti hanya bisa dilewati kendaraan satu arah secara bergantian.(medanbisnis/zamharir rangkuti)

  • Target Ekspor Kopi Mandailing 120.000 Ton

    Target Ekspor Kopi Mandailing 120.000 Ton

    • calendar_month Kamis, 5 Mar 2015
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Angka penjualan atas nama Kopi Mandaling sebesar 120.000 ton merupakan target minimal dari prosfek ekspor kopi Indonesia yang di targetkan Asosiasi Eksportir Kopi Indonesia (AEKI). Angka itu merupakan bagian dari target ekspor kopi 900.000 hingga 1,2 juta ton per tahun. Kopi merupakan komoditas yang diperdagangkan di bursa komoditas, terutama di London dan New York. Disebutkan, Indonesia merupakan urutan ke-4 setelah Ethiopia, Vietnam […]

  • Petani Saba Palas di Panyabungan Jae ngeluh, 2 tahun Tak Nyawah

    Petani Saba Palas di Panyabungan Jae ngeluh, 2 tahun Tak Nyawah

    • calendar_month Selasa, 13 Jun 2023
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN( Mandailing Online) : bukan karena kemarau, Petani di Desa Panyabungan Jae, Kecamatan Panyabungan Kota, Kabupaten Mandailing Natal ( Madina ) mengeluh karena dua tahun terakhir, lahan persawahan mereka tak lagi bisa di garap akibat ketiadaan air. Sedikitnya ada 60 hektar lahan persawahan di saba palas itu mengalami kekeringan lantaran irigasi batang gadis yang menyuplai […]

  • DPRD Deli Serdang Akan Bahas Putusan PTUN Medan

    DPRD Deli Serdang Akan Bahas Putusan PTUN Medan

    • calendar_month Rabu, 6 Apr 2011
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    L Pakam, Putusan Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Medan yang membatalkan SK Gubernur Sumatera Utara Nomor: 593/052/K/Tahun 2002 terkait masalah tanah seluas 38,25 ha yang berada di luar Hak Guna Usaha (HGU) PT PP Lonsum Kebun Sei Merah di Desa Sei Merah Kebun, Kecamatan Tanjung Morawa, Kabupaten Deli Serdang, akan dibahas dalam rapat paripurna DPRD […]

  • Yang Mencuat, Yang Menguat, Yang Mengkerucut

    Yang Mencuat, Yang Menguat, Yang Mengkerucut

    • calendar_month Senin, 6 Apr 2015
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      Catatan: Ludfan Nasution Momentum Pilkada Madina 2015 makin dekat. Diperkirakan Juni 2015 KPU Madina sudah mengawali tahapannya. Wacana tentang Balon memanas. Suasana makin hangat. Beberapa nama baru tampak mencuat, seperti Ikhsan Batubara, Irwan Daulay, Aspan Sofiyan Batubara (mantan Plt. Bupati Madina pasca Amru Daulay) dan Iskandar Siregar (PNS di Pemkab Madina yang juga didukung […]

expand_less