Senin, 21 Sep 2026
light_mode

OPUK

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Jumat, 1 Apr 2022
  • print Cetak

(Indikator  Kesejahteraan Pangan Mandailing di Masa Lalu)

 

Oleh: Dr. M. Daud Batubara, MSi

 

“Bercocok tanam padi itu berkah”. Begitu hal yang sering terdengar bila bincang-bincang dengan petani di pedesaan Mandailing. Bangsa Mandailing memang memiliki hubungan kehidupan yang sangat kuat dengan bercocok tanam padi. Padahal tanaman padi ini, bila di hitung secara matematis, hasilnya dibandingkan dengan tanaman holtikultura saja, sudah lebih untung menanam holtikultura. Lantas kenapa masyarakat di pedesaan Mandailing sering menyebutnya sebagai pekerjaan yang berkah, seolah jauh lebih beruntung dibanding dengan usaha yang lain.

Ternyata pemaknaan keberkahan bercocok tanam padi versi masyarakat petani Mandailing, muncul dari akumulasi hasil pengalaman atas penderitaan para leluhur masa lalu yang sulit ditolerir. Mungkin, saat ini oleh orang Mandailing yang bukan petani masih kurang paham dengan maknanya. Tapi pengalaman tersebut oleh sebahagian kecil orang yang masih hidup saat ini masih langsung merasakannya dan sebahagian lagi memperoleh cerita pengalaman menyedihkan tersebut secara tutur lisan turun-temurun. Pengalaman pahit di masa pemberontakan yang dirasakan oleh rakyat yang tidak mendapatkan kebutuhan beras telah menjadi cemeti yang kuat saat itu, terhadap keadaan masa depannya.

Pengalaman leluhur di masa pemberontakan yang berkali-kali mengalami kesulitan kebutuhan pokok beras, sampai pada kondisi menggunakan jagung dan ubi sebagai makanan pokok adalah masa yang sangat suram yang tidak ternilai harganya. Pantaslah menjadi kesan kuat untuk benar-benar selalu antisifatif terhadap kondisi kebutuhan beras sebagai kebutuhan pokok.

Masyarakat di pedesaan merasakan sulitnya hidup dengan tanpa terpenuhinya beras untuk pangan. Masa pemberontakan, banyak orang memakai baju tangki (pakaian dari kulit kayu), lauk hanya sayur dan cabe tanpa garam, apalagi minyak goreng, bahkan minyak lampu pun ditanak dari getah karet. Ternyata dari sekian masalah tersebut, yang paling sulit dirasakan masyarakat adalah tidak terpenuhinya kebutuhan beras untuk keperluan bertahan hidup.

Inilah yang membuat nilai yang kuat dan mulia atas gabah, yang kemudian mereka maknakan sebagai keberkahan bercocok tanam padi, meskipun mereka paham bahwa senyatanya tidak sebanding hasilnya dengan menanam tumbuhan lain ataupun dibandingkan dengan beternak secara matematis. Sehingga memiliki sawah bagi masyarakat pedesaan bangsa Mandailing sangat memiliki nilai sakral. Pengalaman telah menjadi guru berharga bagi masyarakat Mandailing betapa hal paling utama dalam kehidupan harus memprioritaskan kebutuhan pokok yakni beras.

Penelusuran terhadap makna berkah dimaksud hampir sama halnya dengan makna dari ketahanan pangan yang dielukan pemerintah saat ini, sampai menggandeng TNI dalam programnya sangkin pentingnya. Bangsa Mandailing yang sejak dulu masuk dalam golongan masyarakat cerdas, secara nyata paham bahwa dari sisi ekonomi, sudah disadari bahwa bercocok tanam padi tidak sebanding dengan tingkat pendapatan harian, bila menggunakan indikator waktu dan curah kerja harian. Namun masyarakat dengan pengalaman masa lalu memaknainya sebagai sesuatu yang penting dalam kehidupan, seperti pentingnya ketahan pangan saat ini.

Curah kerja yang digunakan untuk bercocok tanam padi yang tidak sebanding dengan perolehan hasil dalam bentuk gaji harian selama bercocok tanam, bila dibandingkan dengan tanaman holtikultura umpamanya, ternyata tidak mengurangi semangat yang mengkristal di jiwa masyarakat untuk tetap berupaya menanam padi dengan pendekatan bahwa ‘Bercocok Taman Padi itu Berkah’.

Pengalaman masa lalu dalam masa-masa sulit bagi masyarakat, ternyata merupakan pengalam pahit yang sulit dilupakan karena ketiadaan pangan. Hampir seluruh wilayah Mandailing memiliki air yang cukup untuk konsumsi masyarakat. Tapi tidak semua wilayah Mandailing mencukupi untuk kebutuhan pangan (beras) masing-masing. Sehingga sesulit apapaun kehidupan bila beras ada, maka kelanjutan kehidupan masih akan lebih mudah dilalui. Lauk dan sayuran masih banyak yang tersedia secara alami. Pengalaman ini, kemudian semakin membuat para leluhur menguatkan slogan ‘Bercocok Taman Padi itu Berkah’ sebagai bagian falsafah bagi rakyat terutama rakyat kecil.

Disepakati bahwa kata berkah ini setimpal dengan makna Ketahan Pangan yang sangat berhubungan dengan pemenuhan kebutuhan mendasar dari tiap orang yang cukup jumlah dan mutunya, merata, terjangkau serta tersedia dari waktu ke waktu. Untuk memenuhi jaminan ketersediaan dari waktu ke waktu tersebut, hal yang memungkinkan saat itu dilakukanlah adalah ekstensifikasi, dengan harapan jumlah panen padi dapat melebihi selalu dari jumlah kebutuhan dalam setahun sebagai cadangan. 

Hasil panen padi petani di pedesaan Mandailing yang melimpah, kemudian membutuhkan penyimpanan yang layak dan baik. Para leluhur suku Mandailing mulai mendesain tempat penyimpanan yang representatif. Untuk menampung padi cadangan, maka muncullah tempat penyimpanan yang oleh bangsa Mandailing disebut dengan ‘Opuk’. Opuk di Mandailing ini, sama dengan lumbung padi dibeberapa wilayah adat nusantara.

Di Ulupungkut, Opuk masih banyak bisa dijumpai, ada yang masih berfungsi dan sebagian fungsinya hanya sebagai tempat duduk anggota masyarakat untuk bersantai di waktu-waktu senggang. Biasanya diletakkan pada bagian samping depan rumah. Demikian pula Opuk Raja, dengan ukuran yang lebih luas dan besar yang ada di sekitar lingkungan Bagas Godang (istana).

Di masa lalu, Opuk hampir dimiliki tiap rumah tangga. Hanya saja perbedaanya ada yang terlihat berfungsi ganda, selain untuk penyimpanan gabah, Opuk didesain untuk tempat istrahat pada bagian bawah bagi anggota masyarakat. Bila fungsinya ganda, biasanya Opuk tersebut akan memiliki arsitektur dengan seni dan kenyamanan yang baik, tentu pasti milik orang yang sebanding dengan kualitasnya. Ini dapat dimaknai bahwa kualitas Opuk, menunjukkan tingkat kemapanan ekonomi pemiliknya cukup sejahtera. Artinya Opuk, dapat dijadikan sebagai ukuran kesejahteraan masyarakat. Di sisi lain juga dapat disebut bahwa jumlah sebaran Opuk di masyarakat menunjukan bahwa masa lalu masyarakat telah sampai pada kesejahteraannya di zamannya. Oleh karena itu, keberadaan Opuk ini dapat dijadikan indikator kesejahteraan masyarakat saat itu.

Tentu dapat pula dibandingkan dengan kondisi kekinian dalam kesejahteraan masyarakat yang masih tetap didominasi petani. Padahal saat ini telah memiliki tekhnik intesifikasi, mekanisasi dan praktik aplikatif modern lainnya, untuk jaminan kualitas dan kuantitas yang lebih baik. Sayangnya saat ini Opuk sebagai tempat penyimpanan gabah di Mandailing ternyata tidak berkembang lagi di pedesaan. Pertanyaannya “Kenapa ?”, jawabnya tentu karena kuantitas gabah, jumlahnya tidak membutuhkan Opuk. Sebagai orang Mandailing tentu kita sangat berharap munculnya kembali sebaran Opuk di pedesaan Mandailing, karena kita yakini bahwa hasil gabah sebanding dengan perkembangan sebaran kebutuhan Opuk.***

Dr. M. Daud Batubara, MSi, Anak Petani dari Ulupungkut Mandailing

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Singapura Lirik Kopi Ulu Pungkut
    Tak Berkategori

    Singapura Lirik Kopi Ulu Pungkut

    • calendar_month Selasa, 7 Mei 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Pihak Importir Singapura mulai melirik bubuk kopi luwak yang diproduksi kelompok usaha Langgamtama, Desa Simpang Banyak Jae dan Simpang Banyak Julu, Kecamatan Ulu Pungkut, Mandailing Natal (Madina). “Singapore sudah meminta 2 ton, namun kita belum mampu membutuhi permintaan itu,” kata Mursal Lubis, pengurus Langgamtama kepada wartawan, Senin (6/5/2013) di Panyabungan. . […]

  • Harga Kakao Melorot

    Harga Kakao Melorot

    • calendar_month Kamis, 18 Apr 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Sejak pemberlakuan regulasi baru bea keluar terhadap komidi kakao oleh pemerintah, petani di Madina (Mandailing Natal) ikut terpuruk. Soalnya, harga biji kako kering sejak selasa (16/4/2013) sudah berada di level 15.000 per kilo gram di tingkat pedagang pengumpul. Tiga minggu sebelumnya harga masih bertengger di kisaran 20.000 per kilo gram. Darwin […]

  • Penghujan, Harga Cabai Kian Pedas

    Penghujan, Harga Cabai Kian Pedas

    • calendar_month Jumat, 27 Okt 2023
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Harga cabai berbagai jenis terus naik di Panyabungan, Mandailing Natal, Sumatera Utara. Pantauan Mandailing Online, di Pasar Baru Panyabungan, Jum’at (27/10/2023) harga merangkak naik dari kemarin. Kenaikan mencapai kisaran 4.000 Rupiah per kilogram (kg). Sejumlah pedagang menyatakan kenaikan dipicu durasi hujan yang tinggi. Jenis cabai merah sebelumnya Rp 40.000 per kg […]

  • ARSIP: MENJAGA KEHIDUPAN MANUSIA

    ARSIP: MENJAGA KEHIDUPAN MANUSIA

    • calendar_month Jumat, 22 Apr 2022
    • account_circle Roy Adam
    • 0Komentar

    ARTIKEL (Mandailing Online) – Beberapa tahun yang silam, Kabupaten Pringsewu di Lampung mendadak heboh. Seorang pemuda berkebangsaan Belanda bertemu dengan ibu kandungnya yang berwarga negara Indonesia setelah berjuang mencari informasi terkait ibunya selama bertahun tahun. Pertemuan yang mengharukan seluruh perasaan warga dari kedua bangsa, meluluhlantakkan segala emosi dan perasaan sebagai manusia biasa. Setelah berpisah kurang […]

  • Aek Latong Rawan Longsor & Macet

    Aek Latong Rawan Longsor & Macet

    • calendar_month Jumat, 19 Agt 2011
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Polres Tapanuli Selatan memprioritaskan pengamanan jalur Aek Latong saat arus mudik dan balik hari raya Idul Fitri 1432 H. Apalagi jalur tersebut rawan bencana alam seperti longsor khususnya saat musim penghujan dan macet. Kapolres Tapsel AKBP Subandrya melalui Kasat Lantas AKP SL Widodo kepada METRO, Kamis (18/8) menjelaskan, untuk jalur Aek Latong akan mendapatkan prioritas […]

  • 1,7 Ton Ikan Laut Air Bangis Masuk Madina

    1,7 Ton Ikan Laut Air Bangis Masuk Madina

    • calendar_month Senin, 10 Jun 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    MANISAK (Mandailing Online) – Sekitar 1,7 ton ikan laut dari Air Bangis, Pasaman Barat, Sumatera Barat masuk ke Kabupaten Mandailing Natal (Madina). Wilayah pasar yang dikuasai Air Bangis tersebut meliputi Kecamatan Ranto Baek, Linggabayu, Batang Natal dan Kecamatan Sinunukan. Sebagiannya juga masuk ke Kecamatan Natal. Ini ironis, mengingat Kabupaten Madina merupakan kabupaten yang memiliki pantai […]

expand_less