Home / Berita Nasional / Pengangguran di Indonesia 8,59 juta

Pengangguran di Indonesia 8,59 juta


KUPANG : Pengangguran di Indonesia mencapai 8,59 juta orang atau 7,41 persen dari total angkatan kerja yang kini mencapai sekitar 116,5 juta orang, kata Staf Khusus Menteri Tenaga Kerja, Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi Anton Doni Dihen.

Menurut Anton, di Kupang, Rabu 8 Desember 2010, secara nasional jumlah angkatan kerja di Indonesia pada Agustus 2010 mencapai 116,5 juta orang atau bertambah sekitar 530 ribu orang dibanding angkatan kerja Februari 2010 sebesar 116,0 juta orang atau bertambah 2,7 juta orang dibanding Agustus 2009 sebesar 113,8 juta orang.

“Jumlah penduduk yang bekerja di Indonesia pada Agustus 2010 mencapai 108,2 juta orang, bertambah sekitar 800 ribu orang dibanding keadaan pada Februari 2010 sebesar 107,4 juta orang atau bertambah 3,3 juta orang dibanding keadaan Agustus 2009 sebesar 104,9 juta orang,” katanya ketika tampil sebagai pembicara pada Seminar Nasional dan “Workshop Link And Match” di Aula Utama Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang.

Khusus Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di Indonesia pada Agustus 2010 mencapai 7,14 persen atau mengalami penurunan dibanding TPT Februari 2010 sebesar 7,41 persen dan TPT Agustus 2009 sebesar 7,87 persen.

Ia mengatakan setahun terakhir (September 2009-Agustus 2010), hampir semua sektor mengalami kenaikan jumlah pekerja, kecuali Sektor Pertanian dan Sektor Transportasi, Pergudangan dan Komunikasi, masing-masing mengalami penurunan jumlah pekerja sekitar 117 ribu orang atau 0,28 persen dan 500 ribu orang atau 8,16 persen.

Sektor Pertanian, Perdagangan, Jasa Kemasyarakatan dan Sektor Industri secara berurutan menjadi penyumbang terbesar penyerapan tenaga kerja pada bulan Agustus 2010.

Pada Agustus 2010, jumlah penduduk yang bekerja sebagai buruh/karyawan sebesar 32,5 juta orang atau 30,05 persen, berusaha dibantu buruh tidak tetap sebesar 21,7 juta orang atau 20,04 persen dan berusaha sendiri sejumlah 21,0 juta orang atau 19,44 persen.

Berdasarkan jumlah jam kerja pada Agustus 2010, sebesar 74,9 juta orang (69,25 persen) bekerja diatas 35 jam perminggu, sedangkan pekerja dengan jumlah jam kerja kurang dari delapan jam hanya sekitar 1,2 juta orang atau 1,11 persen.

Pada Agustus 2010, pekerja pada jenjang pendidikan SD ke bawah masih tetap mendominasi yaitu sekitar 54,5 juta orang (50,38 persen), sedangkan pekerja dengan pendidikan Diploma sekitar 3,0 juta orang atau 2,79 persen dan pekerja dengan pendidikan Sarjana hanya sebesar 5,2 juta orang atau 4,85 persen.

“Harus diakui angkatan kerja tersebut didominasi lulusan sekolah dasar (SD) sebanyak 57,44 juta orang atau sekitar 49,42 persen dan sisanya adalah angkatan kerja lulusan SMA, Diploma dan Perguruan Tinggi,” kata mantan Ketua Pengurus Pusat PMKRI ini.

Ia mengatakan tinggi angka angka pengangguran ini dapat dilihat dan dibandingkan apabila terdapat sepuluh orang pencari kerja, sementara lowongan pekerjaan yang tersedia hanya tiga, dan dari tiga hanya dua yang bisa diisi. Satu lowongan lagi tidak bisa dipenuhi karena si pelamar tidak memiliki keterampilan.

Alumni Fakultas Peternakan Undana Kupang ini membandingkan dari segi persaingan internasional hasil survei “World Economic Forum 2010” menunjukkan Indonesia berada pada peringkat 54 dari 133 negara yang disurvei dalam urusan ketenagakerjaan.

“Dibanding dengan negara tetangga seperti Singapura yang menempati peringkat ketiga, Malaysia ke-24, Brunei Darussalam ke-32 dan Thailand ke-36, sehingga kondisi ketenagakerjaan di Indonesia sangat parah,” katanya.

Salah satu upaya untuk mengatasi hal ini adalah terus menerus melakukan dan memperbaiki “Link and Match” atau keterpaduan dan kesepadanan antara dunia pendidikan dan lapangan pekerjaan yang tersedia, sehingga setelah menamatkan pendidikan, tidak lagi bingung untuk mendapatkan pekerjaan.

“Perlu ada hubungan keterpaduan dan kesepadanan antara lapangan pekerjaan dan dunia pendidikan, sehingga dapat mengurangi angka pengangguran bagi angkatan kerja yang telah menamatkan pendidikan,” katanya.

Untuk itulah, Seminar Nasional dan Workshop dengan topik “Our Skill and Our Future” ini digelar sebagai untuk mencari solusi tambahan selain “Link and Match” itu.

Pemateri lain yang hadir dalam seminar nasional yang dibuka oleh Wakil Gubernur Nusa Tenggara Timur Esthon Foenay, adalah Sekretaris Dirjen Ketenagakerjaan Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi Dr Reyna Usman, Pakar Ketenagakerjaan dari Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi Prof Slamet, Pembantu Rektor I Undana Kupang David Pandie dan ratusan peserta adri berbagai elemen kelompok masyarakat di NTT.(an)
Sumber : Eksposnews

Comments

Komentar Anda

%d blogger menyukai ini: