Home / Artikel / Penghianat Diberi Hormat, Layakkah?

Penghianat Diberi Hormat, Layakkah?

Oleh: Nahdoh Fikriyyah Islam
Dosen dan Pengamat Politik

Penghianat! Munafik! Laknatullah alaihi! Itulah kata-kata yang layak disematkan kepada sosok Mustafa Kemal Attaturk. Namanya baru-baru ini menjadi viral karena rencana pemerintah menjadikan nama tersebut sebagai salah satu nama jalan di DKI. Alasannya, sebagai simbol kerjasama bilateral yang baik dan rasa hormat terhadap negara Turki.

Sayangnya, rencana penyematan nama Mustafa Kemal tersebut menuai kontroversi di Indonesia. Banyak yang menolak rencana tersebut. Karena sosok Mustafa Kemal Attaturk yang dikenal oleh umat Islam adalah penghianat yang telah menjadi agen penjajah Barat untuk mencabut penerapan syariat Islam secara kafah di muka bumi pada tahun 1924 di Istambul.

Karena banyak menuai protes atas kebijakan tersebut, kelihatannya pemerintah daerah DKI Jakarta mulai melunak dan kembali mempertimbangkan rencana tersebut. Seperti dilansir dalam tribunnews.com, bahwa Pemprov DKI Jakarta mengusulkan rencana penamaan jalan di kawasan Menteng, Jakarta Pusat diganti menjadi nama kota di Turki yakni Istanbul atau Ankara.

Salah satunya perlu digelarnya diskusi dengar pendapat dengan masyarakat jika nama yang diusulkan menimbulkan kontroversi. Diketahui, usai pemerintah Turki menamakan salah satu jalan di negaranya dengan nama Presiden RI pertama Soekarno, mereka mengusulkan nama Presiden pertamanya Mustafa Kemal Ataturk sebagai nama jalan di kawasan Menteng, Jakarta. Pengusulan nama Ataturk belakangan menuai prokontra karena tokoh Turki tersebut dinilai Islamophobia. Karena itu, Pemprov DKI dalam waktu dekat akan segera menggelar dengar pendapat dan forum diskusi bersama masyarakat.

Sebelum memutuskan suatu rencana, harusnya pemerintah terlebih dahulu berfikir matang-matang. Meskipun hanya sekedar menyematkan nama seseorang dalam penamaan suatu jalan, tetapi bukan berarti tidak penting. Sebab jalan tersebut akan selalu dilintasi oleh warga dan pastinya disebut-sebut. Ironisnya, nama yang diusulkan pun adalah nama sosok yang kontroversi dalam sejarah umat Islam.

Indonesia sebagai negeri mayoritas muslim tersebar di dunia tentunya banyak yang mengenal kisah sejarahnya. Apalagi di zaman yang sedang menuju kebangkitan Islam ini, kaum Muslim mulai mencari kebenaran beberapa fakta sejarah yang lama terkubur juga telah dikaburkan. Khususnya untuk nama Mustafa Kemal Attaturk. Bagi yang sudah tahu sepak terjangnya dalam perang dunia kedua dan menghapuskan benteng umat Islam sedunia, otomatis menolak nama tersebut dihormati dan diabadikan sebagai nama jalan di tanah kaum Muslim.

Sementara yang belum kenal, tentu akan mencari tahu kenapa banyak yang menolak nama Mustafa Kemal Attaturk disematkan menjadi salah satu nama jalan di Jakarta. Sehingga memunculkan geliat membongkar kembali kebenaran yang sebelumnya masyarakat tidak tahu. Di satu sisi, tanpa disadari pengusung telah memperkenalkan nama Mustafa Kemal kepada masyarakat Indonesia. Di sisi lain, justur membongkar memori kelam tahun 1924.

Nama Mustafa Kemal Attaturk atau dalam sejarah modern dikenal sebagai Bapak Modern Turki alias Tukri Sekuler adalah presiden pertama untuk negara yang dulunya disebut sebagai The Ottoman Empire. Salah satu state raksasa global yang disegani dunia beratus tahun lamanya. Kekuatan yang dimiliki mulai dari politik, pemerintahan, pendidikan, kesehatan, hingga militernya yang ditakuti hampir seluruh negara lain di luarnya. Lembaga militer “Jenissary” adalah lambang kebanggaan umat Islam saat itu.

Namun peristiwa menyakitkan itu tiba, tatkala satu nama mulai muncul yang bertepatan dengan perang dunia ke dua. Negara-negara Eropa Barat mulai bangkit dan berupaya menguasai dunia dengan trik gold, glory gospel juga politik belah bambunya. Eropa Barat memperkenalkan suatu bentuk kebangkitan semu dengan revolusi industri berideologikan sekuler-kapitalis. Lalu menyebarkannya ke seluruh dunia secara fisik maupun taktik politik.

Tidak terkecuali wilayah Istambul yang sekarang dikenal sebagai negeri Turki. Mustafa Kemal Attaturk adalah penyusup dari dalam tubuh militer Usmaniyah dan berpura-pura menjadi seorang muslim. Sosok munafik itu merupakan agen Inggris yang saat itu memimpin revolusi dunia menuju sekulerisme dan kapitalisme. Melalui kaki tangannya inilah, Inggris berhasil melumpuhkan Ottoman Empire atau kekhilafan Ustmani dari jantungnya, Istambul.

Persekongkolan meruntuhkan kekuasaan Ustamiyyah yang merupakan pusat kekuatan umat Islam sedunia saat itu, melahirkan negara kecil Turki Sekuler yang dipimpin presiden pertamanya adalah Mustafa Kemal Attaturk. Suatu hadiah yang diberikan oleh Inggris kepadanya karena telah berjasa besar dalam menyingkirkan kekuatan umat Islam dari politik dunia selamanya.

Harga mahal menjadi seorang presiden Mustafa Kemal Attaturk harus dibayar dengan pertumpahan darah dan banyak penghianatan penguasa-penguasa boneka di dunia Islam. Mulai dari Palestina, Suriah, Mesir, Lebanon, Tunisia, Yaman, Afghanistan, Pakistan, Kahsmir, Turkistan, Malaysia hingga Indonesia. Lalu, layakkah sosok penghianat seperti Mustafa Kemal Attaturk diberi rasa hormat menjadi nama sebuah jalan? Di negeri muslim lagi! Naudzubillah min zaalik.

Penghianatan terhadap umat Islam dan syariat Allah adalah dosa yang sangat besar. Akibat perbuatan munafik si Laknatullah, kaum Muslim lebih dari 90 tahun sudah mengalami penderitaan yang seolah-olah tidak berkesudahan. Semua kaum Muslim di negeri ini harus sepakat dan kompak menolak penyematan nama jalan atas nama Mustafa Kemal Attaturk. Allahu a’alam bissawab.

Comments

Komentar Anda

Silahkan Anda Beri Komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

%d blogger menyukai ini: