Home / Artikel / Penyebab Banjir dan Sudut Pandang

Penyebab Banjir dan Sudut Pandang

Oleh: Askolani Nasution
budayawan Mandailing/sutradara

 

Berbagai pendapat simpang siur: soal penyebab banjir, soal kritik dan seterusnya. Apa yang kita benci, itu yang kita tuding. Kita kehilangan kewarasan untuk memahami subtansi persoalan. Ketokohan dianggap identik dengan kecerdasan. Karena itu apa yang diucapkan dianggap fatwa dan kebenaran.

Kebenaran itu ada pada tataran substansial. Bukan pada sudut pandang dan pendekatan. Karena itu kebohongan yang diucapkan berkali-kali, dianggap fakta. Karena itu juga, kata Ronggowarsito, kalau semua orang sudah menjadi orang gila, orang waras akan disoraki sebagai orang gila.

Itu yang diadopsi Machiavelli, guru para diktator dalam buku Il Principle. Katanya, menjadi orang yang dianggap baik, lebih penting daripada orang yang benar-benar baik.

Pers sebenarnya bertugas untuk memperlihatkan kebenaran substansial. Bukan mendesain kebenaran dalam sudut pandangnya sendiri. Editorial memang mempublikasikan sudut pandang pers atas suatu fakta, tetapi tidak boleh melampaui kebenaran substansial.

Pers memang alat perjuangan, tapi ia juga benteng terakhir kebenaran. Pers tidak boleh partisan, apalagi hanya menjadi sarana pembentuk opini yang diinginkan pemilik modal.

Kritik juga harus dilihat sebagai metode untuk melihat kebenaran atas suatu tatanan yang diinginkan bersama. Berbeda dengan apresiasi seni yang setiap orang boleh mengutarakan sudut pandangnya sebagai kebenaran resepsional. Kritik sosial tetap harus dibangun atas kerangka faktual.

Kritik juga bukan meditasi, bukan kajian filsafat, yang setiap orang boleh berekspresi. Fakta-fakta tidak boleh ambigu, tidak boleh atas “dugaan”. Dugaan tidak bisa menjadi sarana pembuktian faktual.

Kalau asumsinya lemah, gunakan tulisan kolom. Kebenaran dalam genre kolom bisa sayup-sayup. Tentu karena kolom hanya bertujuan untuk bermain-main dengan logika, bukan untuk menjustifikasi fakta.

Repot kadang-kadang berada di dunia yang kebenarannya dibuat simpang-siur.

Askolani Nasution adalah budayawan Mandailing/sutradara

Comments

Komentar Anda

Silahkan Anda Beri Komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

%d blogger menyukai ini: