Home / Seputar Madina / Pesantren Abinnur Al-Islami Wisuda Hafizul Qur’an

Pesantren Abinnur Al-Islami Wisuda Hafizul Qur’an

Santri hafizul Qur’an yang diwisuda menerima hadiah dari Mudir Pesantren Abinnur Al-Islami, H. Ahmad Saukani Hasibuan, Lc, Ahad (6/3/2022).

PANYABUNGAN UTARA (Mandailing Online) – Pesantren Abinnur Al-Islami mewisuda dua santri perempuan Hafizul Qur’an 30 jus.

Wisuda berlangsung di lapangan pesantren itu, Ahad (6/3/2022).

Pesantren itu terletak di Mompang Jae, Panyabungan Utara, Mandailing Natal (Madina), Sumatera Utara.

Kedua santri yang diwisuda masing-masing adalah:

– Nur Faizah Lubis binti Jamil Lubis, berasal dari Desa Hutapuli, Siabu, Mandailing Natal.

– Afifah Lutfiatul Ulya binti Miftah Ulya, berasal dari Provinsi Riau.

Wisuda dilakukan Mudir Pesantren Abinnur Al-Islami, H.Ahmad Saukani Hasibuan, Lc.

Acara wisuda dihadiri anggota DPRD Sumut, H. Fahrizal Efendi Nasution; Sekretaris Daerah Kabupaten Madina, Gozali Pulungan; Kasi Pontren Kantor Kementerian Agama Kabupaten Madina, Ikhwan Siddiqi; Kabag Kesra Setdakab Madina, Mulia Gading, serta para orangtua santri.

Kedua wusudawan hafizul Qur’an ditemani orangtua masing-masing saat diwisuda di Pesantren Abinnur Al-Islami, Ahad (6/3/2022).

Selain itu, sebanyak 100 santri kelas VII juga menamatkan pendidikan dari pesantren ini pada hari yang sama.

Santri yang tamat ini terdiri dari 35 laki-laki, dan 65 perempuan.

Ini penamatan angkatan ke 9 sejak pesantern ini berdiri tahun 2006.

Pihak pesantren juga mengumumkan kelulusan kelas IV  sebanyak 234 santri. Terdiri 91 laki-laki, dan 143 perempuan.

Pesantren Abinnur Al-Islami didirikan oleh H. Ahmad Saukani Hasibuan, Lc pada tahun 2006 setelah beliau menyelesaikan pendidikan pada perguruan tinggi di Syria.

Semangat pendirian pesantren beranjak dari upaya H. Ahmad Saukani Hasibuan, Lc melahirkan santri penghafal Al-Qur’an (tahfiz Al-Qur’an).

Selain tahfiz Qur’an, pesantren ini juga fokus pada pada kitab klasik (buku kuning).

Pesantren ini menerima santri kali pertama pada tahun 2007. Masa itu jumlah santri masih belasan orang.

Kini jumlah santri sudah mencapai 2.400 orang berasal dari Mandailing Natal, kawasan-kawasan di Sumatera Utara hingga dari berbagai provinsi di Indonesia.

Kondisi itu menyebabkan pihak pesantren harus bekerja keras untuk menambah infrastruktur dan fasilitas pendidikan serta pemondokan di tengah meningkatnya arus jumlah santri yang kian meningkat saban tahun.

Peliput: Dahlan Batubara

Comments

Komentar Anda

Silahkan Anda Beri Komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

%d blogger menyukai ini: