Home / Berita Sumut / Rahudman Ragukan Survei Perawan

Rahudman Ragukan Survei Perawan


Medan, Wali Kota Medan, Rahudman Harahap, meragukan validitas hasil survei BKKBN yang menunjukkan 52 persen remaja wanita Medan tidak perawan.

“Waduh, lihat-lihat dulu survei-nya, valid tidak datanya. Jangan sembarangan ungkapkan hasil seperti itu,” katanya seusai rapat pembahasan RAPBD 2011, di DPRD Medan, Senin (29/11).

Senada Kabag Humas Pemko Medan, Hanas Hasibuan, mengatakan hasil survei tersebut perlu diuji menggunakan instrumen yang bisa dipertanggungjawabkan.
Hanas juga mempertanyakan sampel representatif dan variabel serta parameter yang digunakan dalam survei BKKBN.

Ketua Majelis Ulama Islam (MUI) Kota Medan Prof DR Mohammad Hatta mengatakan survei BKKBN ini membuat masyarakat kita resah.

”Sungguhpun demikian, ini adalah sebuah fenomena yang harus kita tanggulangi,” katanya dalam Silaturahmi Wali Kota Medan dengan Para Ulama/Tokoh-Tokoh Agama di rumah dinas wali kota Medan, Jl Wali Kota, Medan, Senin malam.
Kepala BKKBN, Sugiri Syarief, mengungkapkan, dari data yang dimiliki BKKBN, dalam tahun 2010 diketahui bahwa sebanyak 52 persen remaja perempuan di Medan sudah tidak perawan lagi.

Medan hanya kalah dari Surabaya yang mencapai 54 persen remaja perempuan tak lagi perawan (Tribun, 28/11).Meski demikian, Hanas mengatakan kepala lingkungan (kepling) paling berperan memantau “kos remang-remang” yang menjadi transaksi seks bebas.

“Sebenarnya yang menjadi lini depan pemantauan adalah kepling, khususnya keberadaan kos remang-remang. Kan sudah ada kegiatan babinsa (koramil), babinkamtibnas hingga linmas, mereka leading sector-nya,” kata Hanas.
Kadis Pendidikan Kota Medan, Hasan Basri, mengatakan hasil survei BKKBN tersebut secara tak langsung menunjukkan pergeseran nilai virginitas, yang mungkin dianggap tak sepenting dulu lagi.

Ia mengatakan orangtua punya peranan penting terhadap hasil survei.
“Bukan berarti melemparkan tanggung jawab sepenuhnya pada orangtua, tapi pendidikan di keluarga memiliki andil besar,” katanya kemarin.

Hasan mengatakan pendidikan seksual dini lebih baik ditanamkan pada anak oleh orangtua. Guru dan sekolah nantinya tinggal mengontrol. “Operasi Kasih Sayang bukan tindakan kuratif, ini hanya tindakan preventif, melihat dan mencegah anak-anak bolos sekolah dan tidak berada di tempat-tempat nongkrong seperti mal atau warnet,” katanya.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Medan Rismaria Hutabarat mengkhawatirkan hasil survei tersebut. Menurutnya, pembinaan keluarga memegang kunci utama pencegahan.

“Semuanya tetap dimulai dari keluarga. Saya punya putra dan putri usia remaja, kuliah di luar kota. Yang saya tekankan adalah pembekalan iman agar mereka punya dasar kuat,” ujar Rismaria.

Ibu Waswas
Nita, pegawai BKD Pemko Medan, spontan menyebutkan hasil survei BKKN itu sebagai sesuatu yang sadis. Ia menuding lingkungan pergaulan dan canggihnya teknologi yang telah merasuki remaja Medan menjadi penyebab tingginya nilai hasil survei tersebut.

“Saya was-was sekali, meskipun anak saya masih kelas tiga SD. Sadis dan memprihatinkan hasilnya,” kata Nita. Meskipun belum memiliki anak, Sri Hartati, pegawai Humas Pemko Medan mengatakan dirinya khawatir dengan hasil survei ini, terlebih karena usia keponakannya yang rata-rata berada di usia rawan tersebut.
“Internet, handphone, Facebook, itu yang membuat pergaulan remaja sekarang lebih bebas. Harus ekstra waspadalah, misalnya wajib menjemput anak sehabis pulang sekolah dan mengontrol ke mana saja kegiatannya,” tuturnya.

Syawal Ritonga, guru olahraga SMA Negeri 1 Medan terkejut dan mempertanyakan sistem survei BKKBN.
“Bagaimana pula sistem mereka mensurvei itu. Hal Itu kan sangat pribadi. Apa dipanggil semua remaja perempuan dan di ajak untuk berkata jujur. Kalau narkoba bisa saja, kan bisa diambil data-datanya dari tempat mereka berobat,” kata Syawal,
yang mengajar sejak tahun 1992 di sekolah itu.

Syawal mengatakan sebagai guru mereka akan selalu mengingatkan kepada para siswa agar tidak terjebak dalam pergaulan bebas.”Yang paling berperan itu kan orangtuanya, kalau di sekolah mereka kan cuma delapan jam,” katanya. Rosa Rika (46), orangtua siswa SMAN 1 Medan mengaku terkejut mendengar hasil survei BKKBN tersebut.

“Kaget saya mendengarnya, kok bisa begitu,” ujarnya.Sebagai ibu dari dua putri, Rosa khawatir jangan-jangan putrinya juga seperti yang disebutkan survei BKKBN itu. Ia mengaku lebih mengutamakan keterbukaan pada kedua putrinya.

”Kita harus bisa dianggap sebagai teman oleh anak. Agar setiap ada masalah anak mau curhat kepada orangtua. Tapi harus tetap diberi kepercayaan kapada anak,” katanya.
Sumber : Tribun Medan

Comments

Komentar Anda

%d blogger menyukai ini: