Home / Budaya / RAMADHAN DI KAMPUNG KAMI (bagian 5)

RAMADHAN DI KAMPUNG KAMI (bagian 5)

Diceritakan Tagor Lubis dari Pojok Kedai Lontong Medan (kenangan masa kecil di Mandailing 1970 – 1980)

 

Hari pertama di bulan Ramadhan,  kampung kami seperti baru selesai bersolek merias diri. Masjid masjid dipoles dengan cat yang baru, bak bak penampungan air di masjid dikuras kembali, setelah dikuras terakhir ramadhan tahun lalu.  Bahkan ada beberapa masjid yang mendirikan gapura bambu dengan hiasan pucuk enau. Kami menyebutnya gaba gaba.

Sambutan bulan ramadhan semakin meriah dengan dibersihkannya lahan lahan pekuburan. Masyarakat seperti dikomando bergotong royong membersihkannya.  Kampung serasa makin benderang.

“Biar tidak terlalu menyeramkan” kata amangboru Jamangkilang sembari menyeruput kopi pahitnya. 

“Ah, melihat nisan yang bak pucuk rebung baru tumbuh itu, tetap saja membuat bergidik”, kata si Janako, rada serius.

Dengan bijaksana ompung Oji menyampaikan, “kita membersihkan itu supaya mengingatkan kita, bahwa hidup di dunia ini begitu singkat, nanti juga kita akan ke sana”.

Angkang Lokot mengangguk tanda mengerti.

Tapi dari gayanya ia juga ingin menyampaikan sesuatu. 

Benar saja. 

Ia menyebut, hanya Jamandulang saja yang tidak ngeri melintas di tengah malam gulita di pekuburan itu,  maklum ada gadis berlesung pipit di kampung sebelah yang rajin ia kusip. 

Ah, kita tinggalkan dulu percakapan lepau itu. Kita kembali cerita tentang bebersih- bersih. Bagi anak laki yang sudah waktunya untuk berkhitan. Bulan Ramadhan ini jugalah waktu yang tepat, karena vakansinya relatif cukup panjang.  Biasanya bersunat dilakukan di awal ramadhan, maksudnya supaya pada hari raya nanti sudah sembuh total.  Bahaya kalau tidak sembuh, celana baru yang sudah jahitkan, bisa gagal dipakai di hari raya. Akan menjadi penyesalan seumur hidup.  Akh… Itu hanya kekhawatiran yang berlebihan. Yang penting jangan sekali kali nginjak tahi ayam,  risikonya cukup besar, bisa bontan.

Masa itu ada dua mantri senior yang sudah punya jam terbang tinggi untuk potong memotong balom jambi dimaksud, keahliannya tak perlu diragukan lagi.  Asalkan mantri amangtua Situmeang atau ompung Kalibatuah yang akan mengeksekusi, batin akan menjadi tenang. Bagaimana tidak, abang abang yang sudah duluan ditotak tahun lalu, sering menakut nakuti.  Mereka bilang dipotongnya menggunakan gunting yang sudah berkarat atau menggunakan kampak tumpul dengan tatakan batang pisang. Wooow,  mengerikan sekali.

Di bulan suci ini, semoga Allah Subhana Wata’ala memberikan ampun, kelapangan dalam kubur dan membukakan pintu surga,  kepada orang orang yang telah mengkhitan kami Ya Allah,  sehingga kami menjadi pemeluk islam seutuhnya. (bersambung)

Comments

Komentar Anda

Silahkan Anda Beri Komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

%d blogger menyukai ini: