Home / Artikel / Salahkah Kami Mencintainya?

Salahkah Kami Mencintainya?

Oleh : Imah Suganda Pattai
Mahasiswi Pascasarjana Universitas Pendidikan Indonesia

 

Tepat pada tanggal 10 November 2020, Indonesia kembali kedatangan putra terbaik bangsa. Seorang sosok yang memiliki jiwa kesatria, sosok yang mampu membangkitkan ghiroh setiap Muslim yang mencintainya. Yaa, selama 3 setengah tahun sosok ini harus hijrah ke Mekkah dengan begitu ummat harus menahan rindu yang teramat dalam.

Beliau adalah imam besar Habib Rizieq Sihab (HRS) , beliau adalah salah satu cucu rasulullah SAW. Saat kepulangannya, bandara Soekarno Hatta tiba-tiba berubah menjadi lautan manusia, ribuan bahkan jutaan orang menyambut kepulangan beliau. Pekikan takbir terus dikumandangkan, bendera Rasulullah pun terus dikibarkan.

Apakah ini pertanda kerinduan ummat terhadap sosok yang mampu menjaga marwah islam secara kaffah?

Namun, euphoria yang dirasakan oleh orang yang mencintai beliau berbanding terbalik dengan apa yang dirasakan oleh segelintir orang yang membenci beliau. Mereka menganggap kepulangan beliau memberi dampak negatif yang akan menghancurkan mereka. Sehingga segala upaya dilakukan untuk mencegah kepulangan imam besar ummat islam ini.

Dalam akun YouTube Muhibbin Ulama yang sudah ditonton lebih dari 4 rbu kali, HRS menjelaskan tentang upaya-upaya yang mereka lakukan dalam pencegahan kepulangannya. Mulai dari pembuatan akun sampai dibatalkannya tiket putri beliau. “Tapi ketika Allah sudah berkendak, apapun upaya yang mereka lakukan saya tetap bisa pulang ke Indonesia” ucap IB HRS dalam kanal YouTube Muhibbin Ulama.

Dan juga bersamaan dengan kepulangan HRS ada sebuah video yang beredar di media social. Video itu berisi tentang seorang prajurit TNI yang mengekspresikan kecintaannya terhadap HRS, dan dalam video tersebut prajurit TNI itu mengatakan dengan nada tegas “kami bersamamu Habib Rizieq”. Tapi sangat disayangkan, kecintaannya terhadap ulamanya sendiri dianggap penguasa melanggar disiplin militer, sehingga prajurit tersebut dikenai sanksi.

Dilansir dari CNNIndonesia, Kependam Jaya Kolonel Inf. Refki Efrianda Edwar mengatakan anggota yang ada dalam video itu adalah Asyari Tri Yudha. Anggota Kompi A Yunzikon II Kodam Jaya.

Refki menjelaskan, Asyari berangkat dari satuannya di Matraman, Jakarta Pusat menggunakan truk militer NPS. Asyari duduk di bagian belakang truk bersama rekan-rekannya. Kemudian, sekitar pukul 10.00 WIB saat truk melintas di Jalan Jatinegara, Jakarta Timur, Asyari membuat sebuah rekaman video.

Selanjutnya Refki menjelaskan tindakan Asyari itu bertentangan dengan hukum, yakni Pasal 8 Huruf a Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2014 tentang Hukum Disiplin Militer. Adapun pasal itu berbunyi : segala pembuatan yang bertentangan dengan perintah kedinasan, peraturan kedinasan atau perbuatan yang tidak sesuai dengan tata tertib militer. “Dan akan dijatuhi sanksi sesuai dengan tingkat kesalahannya” ucap Refki.

Lalu, bagaimana cara umat Islam mengunggapkan rasa cinta mereka kepada ulama ??

Jika di media social saja pemberitaan tentang kepulangan HRS membuat banyak akun-akun diancam untuk di-banned, umat Islam juga diberi sanksi. Lalu bagaimana dan apa yang harus umat lakukan??

Salahkah kami mencintai ulama kami??

Salahkah kami mencintai cucu Rasulullah??

Kami berharap dengan mencintai cucu Rasulullah, kami akan diberi syafaat di akhir yaumul kelak. Tidak ada yang kami harapkan selain syafaat rasulullah, apakah kalian tidak punya harapan sebagaimana harapan kami??

Salahkah kami mencintainya??

Tentu tidak. Di dalam islam mencintai seorang ulama salah satu akhlak mulia karena Allah telah menganggat derajat para ulama dan pengemban ilmu. Maka orang-orang beriman juga harus memuliakan orang yang telah dimuliakan Allah. Allah Ta’ãlã berfirman:

يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan (ulama) beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kalian kerjakan.” (Q.S. Al Mujãdilah/58: 11).

Namun, pada kenyataan di zaman sekarang justru cinta kepada ulama justru dianggap radikal, dianggap perbuatan yang lebih sadis dari seorang pembunuh, lebih merugikan dari seorang koruptor.

Padahal mencintai dan memuliakan orang shalih dan para ulama adalah salah satu sarana taqarrub, mendekatkan diri kepada Allah. Allah Ta’ãlã berfirman: “Sesungguhnya penolong kalian hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat, seraya mereka tunduk (kepada Allah). Dan barang siapa mengambil Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman menjadi penolongnya, maka sesungguhnya pengikut (agama) Allah itulah yang pasti menang”. (Q.S. Al Mãidah/5: 55-56).

Wallahu’alam Bishowab.***

Penulis tinggal di Sibolga

Comments

Komentar Anda

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: