Kamis, 2 Apr 2026
light_mode

Sisi Pilkada : Terbentur dan Remuk

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Sabtu, 26 Sep 2020
  • print Cetak

Oleh : Roy Samsuri Lubis

 

Manusia mati meninggalkan nama, merupakan adagium yang paling tepat menggambarkan eksistensi Sutan Ibrahim di bumi Nusantara. Pria yang punya nama kebangsaan Datuk Sutan Malaka ini cukup populer di kalangan masyarakat Indonesia, mulai dari era kolonial, awal kemerdekaan bahkan sampai saat ini. Bahkan saking populernya, pernah satu masa ia dianggap satu-satunya yang layak menjadi pemimpin tertinggi bangsa ini, entah itu presiden entah perdana menteri.

Salah satu ungkapan populer dari tokoh yang akrab disapa Tan Malaka ini adalah “Terbentur, terbentur, terbentur, terbentuk”. Ini merupakan pemakaian istilah untuk menggambarkan bagaimana Tan Malaka terbentuk menjadi seorang revolusioner. Ia, sama seperti tokoh-tokoh perubahan lainnya mengalami benturan. Benturan itu membuat level kenikmatan dan ekspektasi turun dari asalnya. Benturan-benturan itu menyebabkan mati rasa, tidak hanya sakit tetapi juga kesenangan.

Ibaratnya kita sedang berpuasa. Puasa adalah benturan dari kebiasaan kita untuk makan dan minum kapan saja, tapi nyatanya saat puasa kita harus terbentur dengan lapar dan dahaga sehingga air putih di awal senja menjadi barang yang sangat istimewa. Padahal setiap harinya air putih tidak pernah seistimewa itu.

Umumnya benturan itu menyebabkan kita lebih kuat dan tumbuh menjadi manusia dengan mental yang jauh lebih terasah, kebijksanaan yang seakan tak bertepi dan terbentuk menjadi manusia yang lebih baik. Namun, belakangan ini adagium itu terpatahkan di tengah corong demokrasi sedang bergema lantang sembari menjual janji-janji politisi. Politik, ilmu siasat yang digandrungi segala lapisan masyarakat ini menjadi antitesis dari adagium itu.

Palagan politik yang dijewantahkan melalui pemilu menjadi ujung tombak rusaknya kalimat populer dari Tan Malaka tersebut. Pemilu yang semestinya bisa membentuk masyarakat yang lebih dewasa menyikapi hiruk pikuk politik serta menumbuhkembangkan wawasan berdemokrasi justru menjadi benturan yang merusak organ vital manusia, otak. Kewarasan menjadi barang mahal nan langka.

Itu pula yang terlihat belakangan ini di tengah-tengah masyarakat Mandailing Natal menyambut pilkada yang akan diselenggarakan Desember mendatang. Narasi-narasi yang sering berbenturan di ruang publik ternyata tidak mampu memunculkan personal yang terbentuk dari sisi kecakapan, kebijakan dan kedewasaan berdemokrasi.

Terlebih jika ditinjau dari sisi media sosial. Meski media sosial tidak menjanjikan kemenangan pada pilkada, tapi kemudahan akses menedekati konstituen tak bisa dipandang enteng dalam menimbulkan opini publik. Hal ini pula yang dilihat oleh pendukung atau tim pemenangan sebagai ruang yang harus dieksplorasi sebaik mungkin untuk menimbulkan argumen final tentang calon yang diusung maupun lawan politik. Opini yang terbentuk hanya satu tujuan, menonjolkan calon dukungan dengan cara apa pun, termasuk cara-cara picik dan licik.

Tak mengherankan jika kemudian adu argumen yang awalnya bagus untuk diskusi justru tak jarang berakhir dengan umpatan. Saling umpat dan saling caci menjadi pemandangan yang akrab di lini masa media sosial. Bahkan keseringannya muncul mengalahkan anjuran dokter untuk minum obat.

Kemenangan politik seperti harga mati sehingga cara-cara yang elegan kerap ditinggalkan dan mengedapankan cara-cara culas. Bahkan perbedaan pilihan seperti menjadi sebuah tabu. Akibatnya, masyarakat yang tidak punya ‘kepentingan urgen’ selayaknya tim pemenangan atau simpatisan barisan depan harus terbentur satu sama lain. Mereka yang kehidupannya sebatas cari pagi untuk dimakan malam harus disibukkan dengan opini-opini yang dimunculkan oleh mereka kaum terdidik dan terpelajar yang duduk di samping calon-calon penguasa.

Opini publik yang dibentuk oleh masing-masing kubu politik berhasil masuk ke dalam gang-gang kecil di desa-desa yang ada di Mandailing Natal ini dan memecah persaudaraan yang selama ini terjalin dengan baik. Padahal dalam politik ada semacam preambule “Yang abadi hanya kepentingan. Hari ini lawan esok lusa kawan”.

Kalimat sakti itu pula yang akhirnya mengantarkan Pak Prabowo duduk di kursi Menteri Pertahanan setelah terlebih dahulu berjanji timbul tenggelam bersama rakyat. Prabowo timbul sebagai Menteri Pertahanan sementara rakyat tenggelam dalam kekecewaan. Itu belum termasuk kebencian kepada tetangga yang saban waktu mengantar rendang daging ke rumah belum reda semata karena pilihan politik.

Artinya, untuk para politisi yang utama adalah ‘kepentingan’ meski mengabaikan perasaan dan benturan yang terjadi di masyarakat. Konstituen tetap dirundung kekecewaan dan penyesalan sementara para politisi yang akhirnya menang atau kalah justru saling tertawa sambil sesekali minuh teh berharga ratusan ribu. Benturan-benturan yang terjadi di masyarakat justru bak bola salju yang menggelinding semakin jauh dan semakin besar.

Pemilu yang telah dilewati dalam beberapa tahun ke belakang adalah benturan yang seharusnya membentuk publik yang dewasa baik secara politik maupun demokrasi. Namun, yang terjadi justru terbentur, terbentur, terbentur, remuk.

Pilkada kali ini harus bisa membentuk masyarakat yang lebih baik dari segi kedewasaan berpolitik dan berdemokrasi. Setiap orang-orang yang punya ‘kepentingan’ harus berani meredam ego dan tendensius. Toh, pada akhirnya orang akan lebih mudah diajak dengan bahasa yang santun. Pilihan memenangkan hati masyarakat tersedia dalam banyak bentuk, baik dan buruk. Bijak rasanya jika tim pemenangan dan simpatisan memilih cara yang baik. Terlalu riskan kehangatan ruang publik warga Mandailing Natal harus tercederai oleh mereka yang berebut kursi kekuasaan.***

 

 

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Persimpangan di Sekitar Rumah Dinas Bupati Madina Butuh Halte Bis

    Persimpangan di Sekitar Rumah Dinas Bupati Madina Butuh Halte Bis

    • calendar_month Selasa, 29 Agt 2017
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      PANYABUNGAN (Mandailing Online) : Sungguh sangat memprihatinkan nasib warga dari kawasan Panyabungan Barat yang hendak menunggu angkutan umum di Jalur Lintas Sumatera titik persimpangan Panyabungan-Longat. Mereka harus menanggung panas terik di musin kemarau dan basah dikala hujan. Pasalnya, tak ada halte di sekitar itu bagi yang hendak menunggu bus jurusan Kotanopan mapun jurusan Natal. […]

  • Kandidat Doktor di Malaysia Berqurban di Mandailing

    Kandidat Doktor di Malaysia Berqurban di Mandailing

    • calendar_month Jumat, 24 Agt 2018
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

        BATANG NATAL (Mandailing Online) – Lama menimba ilmu di luar negeri, tak menyurutkan tekad Karimuddin Nasution, S.Ud,MIS. Pria berusia 27 tahun asal Desa Sipogu, Batang Natal, Mandailing  Natal yang kini kandidat doktor dari Universitas Kebangsaan Malaysia (The National University of Malaysia), terus melakukan qurban Idul Adha di kampung halaman. Dalam tiga tahun terakhir […]

  • Mulak Tu Huta, Ubat Lungun, Palagut Namarserak

    Mulak Tu Huta, Ubat Lungun, Palagut Namarserak

    • calendar_month Jumat, 13 Des 2019
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

          Catatan : Dahlan Batubara   Program “Mulak Tu Huta” sudah berlangsung sejak tahun 2012. Suatu program diperuntukkan bagi etnis Mandailing di Malaysia untuk menginjakkan kaki di tanah leluhur : tanah Mandailing. Etnis Mandailing tersebar di berbagai negara bagian : Perak, Negeri Sembilan, Selangor, Kedah, Kuala Lumpur dan lain-lain. Migrasi orang Mandailing bermula […]

  • Hidayat Divonis 5,5 Tahun

    Hidayat Divonis 5,5 Tahun

    • calendar_month Kamis, 23 Jan 2014
    • account_circle Redaksi Abdul Holik
    • 1Komentar

    MEDAN – Bupati Mandailing Natal Nonaktif Hidayat Batubara dihukum penjara 5,5 tahun oleh hakim Pengadilan Tipikor Medan, Rabu (22/1). Saat menjalani sidang, terdakwa Hidayat kerap melontarkan sikap yang plinplan. Hidayat sempat mengaku bersalah sambil menangis. Namun setelah JPU KPK menuntutnya 8 tahun penjara, adik kandung Ketua Kadin Sumut ini menolak mengaku bersalah. Majelis hakim yang […]

  • Honor 2000-an guru Madrasah di Madina Belum Dicairkan Sejak Januari, Dimana Sembunyi Uang Senilai 4,2 Milyar Itu?

    Honor 2000-an guru Madrasah di Madina Belum Dicairkan Sejak Januari, Dimana Sembunyi Uang Senilai 4,2 Milyar Itu?

    • calendar_month Selasa, 16 Agt 2016
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Para guru madrastah di Kabupaten Mandailing Natal belum menerima honor mereka sejak Januari 2016 alias 7 bulan. Kemana uang mereka? Tak diketahui.  Yang jelas, gaji dalam bentuk honor itu bersumber dari APBD Kabupaten Mandailing Natal yang dikelola Pemkab Madina. Jumlah guru madrastah ini tak tanggung-tanggung, sekitar 2000-an orang. Tiap guru […]

  • Rp 500 Miliar Dikucurkan untuk Jalan Nasional Sibolga-Tapteng

    Rp 500 Miliar Dikucurkan untuk Jalan Nasional Sibolga-Tapteng

    • calendar_month Jumat, 27 Des 2013
    • account_circle Redaksi Abdul Holik
    • 0Komentar

    Sibolga – Mulai tahun 2014, Pemerintah Pusat mengalokasikan dana Rp 500 miliar lebih untuk perbaikan seluruh ruas jalan Nasional yang rusak di wilayah Kota Sibolga dan Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng). Menurut Kepala Satker PPK 12 Sibolga Cs Siduhuaro Dachi, dana itu bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) murni sebesar Rp 70 miliar, juga […]

expand_less