Home / Seputar Madina / “Vaksinasi” Ideologi Juga Penting di Era Covid-19

“Vaksinasi” Ideologi Juga Penting di Era Covid-19

Moechtar Nasution, Sekretaris Dewan Pakar MPC PP Madina menyerahkan cindramata kepada narasumber dari usur kepolisian diwakili kapolsek Panyabungan di acara talk show “Refleksi G30S/PKI”, Jum’at (08/10/2021).

PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Pandemi virus Corona (covid-19) berpotensi memicu kebangkitan ideologi radikal.

Hal tersebut sampaikan oleh Moechtar Nasution, Sekretaris Dewan Pakar MPC PP Madina dalam sesi tanya jawab saat talk show “Refleksi G30S/PKI ; Membumikan Nilai-nilai Pancasila, Merajut Kolektifitas, Membangun Solidaritas Ditengah Pandemi Covid-19”

Talk show ini dilaksanakan Pemuda Pancasila Kabupaten Mandailing Natal, di Cafe Kopinta, Panyabungan, Jumat  (08/10/2021).

“Patut diwaspadai  potensi bangkitnya nilai-nilai, paham individualisme, komunisme, intoleransi, separatisme, radikalisme, terorisme, dan etnonasionalisme di tengah ketidakpastian akibat pandemi covid-19,” sebutnya.

Oleh karena itu, Moechtar berharap perang terhadap pandemi covid-19 jangan hanya penguatan tubuh dengan vaksinasi, tetapi juga harus dibarengi dengan peningkatan ketahanan ideologi masyarakat.

“Vaksinasi” ideologi Pancasila secara massif, gradual, dan terpadu menjadi urgen sehingga potensi ancaman, ganguan, hambatan yang ingin menggantikan Pancasila sebagai ideologi bangsa dapat secara dini dideteksi, ditangkal, dan dicegah.

Lebih lanjut, Moechtar yang juga ASN di Badan Kesbangpol Mandailng Natal ini menyebutkan, melalui “vaksinasi” ideologi tersebut akan dapat merekatkan kembali persatuan dan kesatuan sebagai sesama anak bangsa.

“Sesungguhnya hal ini yang sangat dibutuhkan bangsa dewasa ini, apalagi kita tengah dihadapkan pada kompleksitas permasalahan bangsa dan juga perubahan dunia yang semakin cepat akibat revolusi industri 4.0 dan juga Society 5.0.” sebutnya serius

“Saya  percaya, wabah covid-19 justru akan semakin memperkuat ketahanan ideologi Indonesia. Karena, covid-19 tidak hanya menjadi tantangan, tetapi menjadi peluang baru bagi Indonesia” paparnya.

Dihadapan forum itu, Moechtar juga menjelaskan bahwa tidak selamanya yang menganut paham komunisme itu hanya orang atheis, namun belajar dari sejarah justru banyak juga orang yang memiliki pengetahuan agama yang mumpuni menjadi pengikutnya.

“Ini jelas terekam dalam sejarah, bagaimana kemudian Sarekat Islam (SI) berhasil disusupi paham komunisme sehingga pecah menjadi Sarekat Islam Putih dan Sarekat Islam Merah. Dan banyak juga perlawanan terhadap kolonialisme Belanda diaktori mereka yang terkontaminasi paham komunis itu, diantaranya H.Misbach di Surakarta yang kemudian akhirnya dibuang ke Papua dan seterusnya dan seterusnya”.

“Untuk itulah, melalui forum seperti ini kita ingin mengintrodusir pemahaman kebangsaan khususnya kepada generasi milineal sehingga tercipta kesadaran bersama bahwa ancaman terhadap anasir-anasir yang ingin memecah belah persatuan dan kesatuan bangsa itu akan tetap terjadi di masa ini dan di masa yang akan datang,” pungkasnya.

Editor: Dahlan Batubara

Comments

Komentar Anda

Silahkan Anda Beri Komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

%d blogger menyukai ini: