Kamis, 2 Apr 2026
light_mode

Lagu Mandailing Tak Seistiqomah Lagu Toba

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Kamis, 28 Jul 2016
  • print Cetak

KOLOM

Dahlan Batubara
Pemimpin Redaksi Mandailing Online

Dahlan Batubara

Dahlan Batubara

Para pencipta lagu-lagu Toba itu sangat setia kepada bahasa Toba, bahasa mereka, bahasa leluhur, jati diri mereka. Kesetiaan mereka kepada bahasa mereka itu sebagai sebuah keistiqomahan pada kebudayaan mereka, budaya Toba.

Para pencipta lagu-lagu Minangkabau itu sangat setia kepada bahasa Minang, bahasa mereka, bahasa leluhur, jati diri mereka. Kesetiaan mereka kepada bahasa mereka itu sebagai sebuah keistiqomahan pada kebudayaan mereka, budaya Minangkabau.

Para pencipta lagu-lagu Karo itu sangat setia kepada bahasa Karo, bahasa mereka, bahasa leluhur, jati diri mereka. Kesetiaan mereka kepada bahasa mereka itu sebagai sebuah keistiqomahan pada kebudayaan mereka, budaya Karo.

Tetapi, para pencipta lagu-lagu Mandailing masa kini tak lagi setia kepada bahasa Mandailing, bahasa mereka, bahasa leluhur, jati diri mereka. Ketidaksetiaan mereka kepada bahasa mereka itu sebagai sebuah ketidakistiqomahan pada kebudayaan mereka, budaya Mandailing.

Bahwa bahasa adalah elemen terluhur dari suatu bangsa, suatu etnis, suatu kaum. “Tidak ada elemen terluhur dari suatu bangsa selain bahasa” kata Ernst Moritz Ardnt.

Bahasa adalah hasil budidaya para orang-orang terdahulu selama berabad-abad dan diwariskan secara generasi ke generasi.

Orang-orang masa kini boleh-boleh saja berbahasa dari hasil pengasimilasian bahasa, hasil pengaruhisasian bahasa, perkawinanisasian bahasa dalam percakapan sehari-harin sebagai bahasa pasar. Tetapi, nyanyian tak boleh melibatkan diri atau mengorbankan diri dalam pengasimilasian- pengaruhisasian dan  perkawinanisasian bahasa itu, karena nyanyian adalah salah satu sub kebudayaan dari suatu etnis atau bangsa.

Kalau orang-orang mencakapkan “ho maia cintaku”, maka para pencipta lagu Mandailing tak seharusnya mencakapkan kata “cintaku” di dalam nyanyian yang mereka karyakan. Karena nyanyian adalah sub kebudayaan suatu etnis, karena nyanyain adalah sang penjaga kebudayaan suatu etnis.

Si penjaga tak boleh ikut mengorbankan diri dalam pengaruhisasian bahasa itu, karena si penjaga kebudayaan itu berposisi sebagai “kiper”.

Mempertahankan bahasa asli dari serbuan pengaruh bahasa lain bukanlah suatu perbuatan demodernisasi atau kekolotanisasi, atau bukan anti termutakhir, atau bukan anti yang terbaru.

Nyanyian tak boleh dikatakan nyanyian kolot atau tak gaul atau ketinggalan zaman jika bahasa di nyanyain itu mempertahakan bahasa asli kaumnya. Tidak..!!!. Sebab, nyanyian itu adalah jati diri kebudayaan, bukan barang mainan yang harus dikorbankan sesuai dengan selera pasar, selera kaula muda, selera perdagangan album lagu, selera pasar album Tapsel-Madina, selera nafsu komersialisme.

Tentu, mengadopsi kata atau kosa kata bahasa Indonesia atau bahasa asing ke dalam bahasa Mandailing sah-sah saja, wajar saja bahkan berhukum wajib, sepanjang kata atau kosa kata dimaksud tidak ditemukan di dalam bahasa Mandailing. Adopsi diperlukan agar bahasa Mandailing itu tidak kaku, tidak statis, bahkan dinamis dalam dinamika perjalanan kebudayaan Mandailing, agar bahasa Mandailing tak menyandera kebudayaan Mandailing dalam posisi stagnan atau di “katak dalam tempurung”-nya budaya Mandailing di cakrawala geliat ilmu pengetahuan dan tehnologi.

Karena, bahasa Indonesia sendri juga berkewajiban mengadopsi bahasa daerah, bahasa Inggris, bahasa Arab hingga bahasa Sansekerta. Bahasa Indonesia harus mengadopsi kata “kuantitas” dari  “quantity”-nya Inggris; kata “ramadan” dari “ramadhan”-nya bahasa Arab.

Karena bahasa Indonesia sendri juga berkewajiban mengadopsi dari luar dirinya, maka bahasa Mandailing juga berkeharusan mengadopsi bahasa dari luar dirinya. Bahasa Mandailing harus mengadopsi kata “televisi” karena televisi dahulu kala tak ada di Mandailing, sehingga ketika tehnologi televisi datang di hadapan masyarakat Mandailing maka bahasa Mandailing juga harus mengadakan bahasa-nya dengan menyebutnya “televisi” atau “talevisi”.

Tetapi mengadopsi bukanlah menukar. Keduanya berbeda. Mengadopsi dilakukan disebabkan ketiadaan, kebelumadaan. Dari tiada menjadi ada. Karena belum ada, maka diadakan, sehingga ada. Sedangkan menukar itu dari ada menjadi ada, sudah ada tapi diadakan lagi dengan yang  lain.

Ketika para pencipta lagu memakai kata “sayang” dari bahasa Indonesia, maka pencipta lagu itu telah menukar kata, karena sudah ada kata “holong” di dalam bahasa Mandailing. Mereka telah menukar “horjami” dengan “pesta pernikahanmi”. Menukar bahasa sedemikian itulah yang menjadi takaran penilaian bahwa para pencipta lagu tak beristiqomah kepada bahasa Mandailing, tak setia kepada bahasa Mandailing di lagu yang mereka sebut lagu Mandailing atau lagu Tapsel-Madina.

Para pencipta lagu-lagu Mandailing masa kini itu sudah begitu familiar dengan “kasihsayangku tu ho”; “ulang siksa batinku” – “kerinduanku sabagas ni laut”; “apalagi dung sannari”; “percintaanta”; “pesta pernikahanmi” dan lain-lain yang menggantikan bahasa Mandailing dengan bahasa Indonesia.

Ketidakistiqomahan para pencipta lagu Mandailing terhadap bahasa Mandailing itu tak sesetia para pencipta lagu Toba, tak sesetia pencipta lagu Mingangkabau.

“Holong na ias dibahen ho / Mangarahut holong hi di ho / Roha na serep dipelehonho / Mangaririt rohaki di ho / Gomos do tangiangmu tu Tuhan I / Asa ho saut di ahu / Godang di bahenho nauli nadenggan / Tu damang dohot sisolhot I / Tagam si tutu dipatuduhonho / Burjumi tu natua-tuaki” kata si pencipta lagu Toba “Sirokkap ni Tondi”

“Bukiktinggi Koto Rang Agam oi andam oi / Mandaki janjang ampek puluah / Basimpang jalan ka Malalak / Sakik sagadang bijo bayam o andam oi / Sakik nan raso ka mambunuah / Diubek indak amuah cegak” kata si pencipta lagu Minang “Andam Oi”.

“Aso ma songoni / kejamna dirimu / sampai hati ma ho maninggalkon au” kata si pencipta lagu Mandailing (judul lagunya saya lupa, karena lagu ini sudah ada sejak saya masih kanak-kanak). “kejam”-“dirimu”-“sampai hati” dan kata “maninggalkon” bukanlah bahasa Mandailing.

Lalu, mengapa lagu-lagu Mandailing masa kini sudah terjerumus kepada kekacaubalauan bahasa? Percampuran dengan bahasa Indonesia? Ada apa dengan para pencipta lagu Mandailing masa kini? Ada apa dengan pencipta lagu Tapsel-Madina? Entahlah. Itu masih dari segmen bahasa, belum masuk sisi genre musik.

Yang pasti, para pencipta lagu Mandailing diharapkan agar kembali “bertaubat” saja agar nyanyian Mandailing kembali kepada pelukan budaya Mandailing, dan diyakini akan mampu menerobos pasar Nasional karena akan terasa “asing”, yang tentunya pula bukan bergenre dangdut, melainkan ketukan “sibaso”, ketukan “raja-raja”, ketukan “roba namosok” ketukan “batu magulang”. Memilki kaldu Mandailing, bukan kaldu dangdut.

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Ivan Batubara dan Pesan Sang Ayah

    Ivan Batubara dan Pesan Sang Ayah

    • calendar_month Jumat, 21 Jun 2024
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    (Bagian 3 dari 4 Tulisan) Oleh: Ludfan Nasution, S.Sos Ivan Iskandar Batubara memeragakan tortor Mandailing ketika tampil sebagai Nara Sumber pada acara “Pertunjukan & Diskusi” Gondang Boru Mandailing, buah kerjasama Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Sumatera Utara dan Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah II di Medan, Juni 2024. Dalam penghayatannya, sekalipun tidak sempat memberi perintah langsung, […]

  • Sejumlah Proyek Jalan tahun 2025 di Madina Diduga Dikerjakan Group Perusahaan Milik Tersangka Kasus Suap Jalan di Sumut

    Sejumlah Proyek Jalan tahun 2025 di Madina Diduga Dikerjakan Group Perusahaan Milik Tersangka Kasus Suap Jalan di Sumut

    • calendar_month Selasa, 11 Nov 2025
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    Panyabungan ( Mandailing Online ): dari beberapa paket proyek pengaspalan jalan di Kabupaten Mandailing Natal ( Madina ) tahun anggaran 2025, diduga sebagian besar pekerjaan proyek tersebut dikerjakan perusahaan yang bergabung dalam PT Dalihan Natolu Group ( DNG ). PT Dalihan Natolu Group sendiri diketahui sebuah perusahaan kontruksi di Tapanuli Selatan yang sedang berurusan dengan […]

  • Komisi I Pertanyakan Kemitraan dengan Dinas Pendidikan

    Komisi I Pertanyakan Kemitraan dengan Dinas Pendidikan

    • calendar_month Rabu, 16 Feb 2022
    • account_circle Roy Adam
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Komisi I DPRD Mandailing Natal (Madina) mempertanyakan fungsi kemitraan dengan Dinas Pendidikan yang terkesan mengabaikan keberadaan lembaga legislatif. Hal ini menyikapi tidak adanya pemberitahuan dari Dinas Pendidikan kepada Komisi I terkait diberlakukannya PTM terbatas di Madina. Padahal kebijakan ini berhubungan erat dengan masyarakat. Anggota Komisi I Rahmat Risky Daulay mengatakan terkait […]

  • Usia dan Syarat Pejabat Politik

    Usia dan Syarat Pejabat Politik

    • calendar_month Rabu, 1 Nov 2023
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Oleh: Dr.M. Daud Batubara, MSi Namanya Bangsa Mandailing, yang sejak dulu memang dikenal kritis terhadap penyelenggaraan negara. Jiwa kritis ini menunjukkan pula gambaran mereka peduli terhadap gejala-gejala sosial. Saat komunikasi dengan dunia luar di masa lalu, masih dengan “pengelana” (orang pembawa berita atau cerita) bangsa ini juga sudah kepo dengan dunia luar, tentu pokok bahasan […]

  • Dahler Lubis Dilantik Jadi Pjs Bupati Madina

    Dahler Lubis Dilantik Jadi Pjs Bupati Madina

    • calendar_month Jumat, 25 Sep 2020
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    MEDAN (Mandailing Online) – Gubernur Sumatra Utara, Edy Rahmayadi melantik Dahler Lubis sebagai Pjs Bupati Mandailing Natal (Madina). Pelantikan Dahler itu bersamaan dengan pelantikan/pengukuhan 10 Pejabat Sementara (Pjs) Bupati/Wali Kota di Sumut, berlangsung di Pendopo Rumah Dinas Gubernur Sumut, Jalan Jenderal Sudirman Medan, Jumat (25/09/2020). Pengukuhan turut disaksikan Sekdaprov Sumut, R Sabrina, dan sejumlah pejabat […]

  • MUSUH ABADI KAPITALISME

    MUSUH ABADI KAPITALISME

    • calendar_month Jumat, 12 Jun 2020
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Oleh : Aswiroh Nasution*   Mereka tahu kami benar Mereka tahu kami bisa Tapi, mereka takut kami besar Mereka takut kami ada Berjuta sikap kau suguhkan Berjuta fitnah kau berikan Bahkan bermilyar kata kau lemparkan Tapi kami takkan bisa dibungkam Kalian suguhkan berita dusta Demi hancurnya ideologi mulia Ditengah kebingungan manusia Demokrasi seolah olah pelita […]

expand_less