Home / Artikel / Proyeksi Palsu

Proyeksi Palsu

Oleh : Alfisyah S.Pd
Guru dan Pemerhati Masyarakat

Sungguh jika manusia yang membuat sebuah proyeksi, apalagi proyeksi ekonomi masa depan, maka siap-siaplah akan keliru. Andaipun jika proyeksi itu tepat, tetap saja akan meleset dan ada galat erornya. Itulah buktinya bahwa manusia itu lemah, serba kurang dan sangat terbatas. Apalagi yang dijadikan sebagai pijakan adalah sistem ekonomi yang rusak tentu akan menghasilkan kesalahan yang besar. Maka wajarlah kemudian jika hasilnya menjadi angan-angan dan halusinasi belaka.

Begitulah ketika Menkeu Sri Mulyani mempromosikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2020 lalu untuk tahun ini. Beliau menyatakan bahwa proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia terukur dengan angka PDB yang berkisar minus 1,7 hingga monus 2,2. Proyeksi ini lebih rendah dari proyeksi sebelumnya. Sementara itu Asian Development Bank (ADB) juga memprediksikan pada angka minus 2,2. Demikian juga world bank di angka yang sama.

Realitanya kegiatan ekonomi di negeri ini belumlah seperti yang dikehendaki. Sebab pandemi belum usai sepanjang tahun 2020 dan entah sampai kapan. Realitanya justru sebaliknya karena sektor usaha makro dan usaha mikro shock. Angka produksi dan konsumsi pun melorot. Semuanya itu akibat dari kebijakan negara maju dan berkembang yang masih belum membuka diri untuk investasi besar- besaran dalam bidang ekonomi.

Proyeksi Menkeu, ADB dan World Bank itu memang bukan gambaran yg sebenarnya. Pasalnya kondisi masyarakat masih belum sejahtera  bahkan menderita dalam tekanan ekonomi yang menimpa mereka. Proyeksi itu tak terwujud sama sekali. Sebab semua parameternya palsu. Perhitungan angka PDB yang diambil dari penjumlahan pendapatan semua penduduk Indonesia lalu dibagikan dengan jumlah itu juga menghasilkan angka rata-rata. Angka itu menutupi kenyataan sebenarnya pendapatan orang per orang. Sekali lagi proyeksi itu semu. Jika proyeksi semu itu saja tidak terwujud, bagaimana mungkin angka sesungguhnya dari pertumbuhan ekonomi itu akan terwujud?

Inilah sebuah pertanyaan retoris yang tidak membutuhkan jawaban. Pertumbuhan ekonomi itu disandarkan pada mata uang yg palsu. Mata uang yang nilai intrinsiknya tidak sama dengan nilai zat mata uangnya. Bahkan dalam pencetakannya tidak ditopang oleh sesuatu yang tetap (fix) semisal emas dan perak. Pasarnya pun  juga tidak ril sebab jual belinya banyak di sektor non ril. Oleh karena itu pertumbuhan ekonominya palsu atau semu.

Itulah jika sistem ekonominya berbasis ekonomi kapitalistik. Selama sistem ekonomi itu yang digunakan maka proyeksinya selalu meleset dan tidak terbukti. Berdasaran uraian di atas bangsa ini sangat membutuhkan sistem ekonomi yang stabil, anti krisis dan juga tumbuh secara ril. Ukuran kesejahteraannya pun dihitung orang per orang. Bukan dari nilai rata-rata hasil bagi.

Sistem itu juga akan menata kebijakan fiskalnya. Sehingga pergerakan roda ekonomi tidak lagi bertumpu pada pajak yang rentan krisis. Sistem ekonomi itu pula tidak berbasis riba. Sebab Riba itu menjadi biang krisis di negara-negara maju saat ini. Benarlah jika dalam beberapa agama termasuk Islam, bahwa pelaku riba itu akan seperti orang yg labil. Tidak bisa berdiri tegak sebab dia seperti orang yang kerasukan setan. Saat berdiri orang itu akan gamang, mudah jatuh dan tumbang. Begitulah juga sebuah negara yg berbasis riba. Dipastikan keadaannya tak jauh dari gambaran pemakan riba. Negara itu akan rapuh dan goncang ekonominya karena kerusakan sistem itu sendiri.

Bukan hanya itu, sistem ekonomi yg baik adalah sistem yang bergerak dalam sektor ril. Sektor non ril dalam saham, obligasi dan surat berharga, pasar uang itu hanya akan membuat pergerakan ekonomi rapuh dan jauh dari keadilan untuk seluruh manusia. Pada sektor non ril para kapital yang memegang akses ekonominya. Kesejahteraan hanya akan menimpa mereka para pemilik modal, bukan untuk seluruh rakyat.

Sistem ekonomi yg benar akan menjadikan mata uangnya berbasis emas dan perak. Jika ingin mencetak uang kertas, back up emas dan peraknya sesuai dengan yang dicetak. Sebab back up emas dan perak itulah yg menjadi nilai intrinsiknya atas kertas yang digunakan. Meskipun demikian cetakan uang yg merupakan bahan emas dan perak akan tetap ada. Goncangan inflasi dan deflasi mustahil ada dalam sistem ini.

Oleh karena itu jika sistem yg benar ini diterapkan maka tak dibutuhkan proyeksi yg keliru dan semu itu. Perekonomian akan bergerak cepat dan hidup. Konsep kepemilikan umum akan diurus sendiri oleh negara secara independen. Peluang intervensi dan penjajahan negara lain akan nihil. Kekayaan milik umum akan dinikmati bersama. Sama-sama sejahtera akan tercapai. Bahkan peluang APBN yg surplus mudah dicapai secara otomatis. Jaminan kesejahteraan orang per orang bukan hanya menjadi janji namun terbukti pada masyarakat baik muslim maupun non muslim tanpa kecuali.***

Comments

Komentar Anda

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: