Home / Budaya / RAMADHAN DI KAMPUNG KAMI (bagian 6)

RAMADHAN DI KAMPUNG KAMI (bagian 6)

Diceritakan Tagor Lubis dari Pojok Kedai Lontong Medan (kenangan masa kecil di Mandailing 1970 – 1980)

 

Tak adil rasanya kalau kita tidak melongok kegiatan kaum hawa menjelang Ramadhan tiba. Di awal Ramadhan biasanya mereka mulai sibuk mepersiapkan bahan-bahan marpangir, sepertinya mereka ingin di bulan suci dan penuh rahmat ini,  tampil beda dengan hari hari biasa.   Mereka berkelompok kelompok mencari bahan baku seperti :  abelu,  pandan musang, singgolom,  tapak leman, sangge sangge doli,  kembang pinang.

Bahan bahan itu nantinya akan diiris iris halus kemudian dijemur sampai kering.  Biasa menjemurnya di atas atap atau di tempat yang tidak terjangkau oleh ayam. Bahaya kalau menjemurnya di halaman rumah,  ayam kurik tak akan peduli dengan kepunyaan majikannya sekalipun.  Ia akan tetap mengais ngais, bisa jadi apa yang telah dikerjakan menjadi sia sia. Bahan marpangir yang sudah mulai kering hancur berantakan. Air mata bisa meleleh memikirkannya, apalagi sebentar lagi menjelang hari raya. Gawat.

Menurut cerita bahan bahan yang digunakan untuk marpangir sudah digunakan para putri raja raja yang cantik jelita, sejak jaman dahulu kala. Bedanya kalau bahan marpangir ala putri raja disiapkan oleh para dayang-dayang, sementara gadis gadis setelah itu cukup dengan olahan tangan sendiri. Tentu hasilnya tetap sama, karena dikerjakan oleh tangan gadis-gadis yang tiada kalah cantiknya.  Pantas saja pemuda kampung sebelah, matanya tertuju ke kampung kami, banyak gadis yang memesona. 

Kegiatan marpangir itu dilakukan di rumah masing masing atau di tepian pemandian, sehari sebelum puasa. Tidak seperti sekarang marpangir dilakukan beramai ramai,  di pemandian yang sama, antara laki laki dan perempuan di tempat yang sama pula, campur aduk tidak karuan. Sejak kapan pula laki laki ikutan marpangir. Maknanya sudah hilang. 

Masa itu kalau sholat taraweh di masjid penuh sesak, sementara kipas angin belum tersedia, udara akan menjadi pengab. Tapi jangan khawatir badan tetap mengeluarkan aroma mewangi. Aromanya sama,  karena bahan baku marpangirnya yang sama, sholat tetap khusuk.  Lain dengan zaman kiwari, aromanya berbagai rupa, bercampur pula dengan alkohol. (bersambung)

Comments

Komentar Anda

Silahkan Anda Beri Komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

%d blogger menyukai ini: