Home / Budaya / RAMADHAN DI KAMPUNG KAMI (bagian dua)

RAMADHAN DI KAMPUNG KAMI (bagian dua)

Diceritakan Tagor Lubis dari Pojok Kedai Lontong Medan (kenangan masa kecil di Mandailing 1970 – 1980)

 

Bagi kami waktu masih kanak kanak, bulan Ramadhan ini adalah bulan dimana setan dan jin diikat. Entah ngikatnya dimana wallohualam. Ada pula yang bilang, di batang pisang di belakang rumah ompung Jamangkilang. Sok tau.

Begitulah orang orang tua menyampaikan dan kami hanya manggut manggut, seperti sudah paham betul adanya. Tapi yang pasti selama bulan Ramadhan kami wajib melaksanakan puasa, menahan lapar dan dahaga.  Sedari kecil kami sudah dilatih berpuasa. 

Bila malam tiba, kami ikut bertaraweh di mesjid  yang ada di kampung kami, bahkan ada yang ikut tadarusan sampai menjelang sahur. Paginya setelah sholat subuh kampung kami menjadi sunyi,  hanya ada beberapa orang yang melintas di jalan raya. Tepian pemandian pun menjadi lengang. Maklum tak ada yang bersekolah, tak ada yang mandi pagi. Ada satu dua orang yang nampak sibuk memunguti ikan ikan kecil dari alahan yang sudah dikeringkan. 

Setelah subuh banyak yang mendengkur berdendang ria, baru menjelang siang tinggalkan peraduan. Lumayan tanpa terasa,  setengah hari puasa sudah dijalani. Toh, tidurnya orang yang berpuasa itu, juga merupakan ibadah. Kami  membenarkan perkataan pak guru.  Ahh… Itu bagi si penidur mencari pembenaran. 

Bagi sebagian kami, ada juga yang sudah mempersiapkan alat pancing. Kemudian ikut menumpang pedati pak tua, yang akan

menyabit rumput dan memandikan kerbaunya, ke sungai di ujung kampung. Sambil berdendang ria kami mengikuti ayunan pedati,  “tircak tircak padati lombu,  magotap solopku, sirit… ” tak usah kuteruskan. Para generasi sepuh pasti tau lanjutannya.

Hhhmmm… Lumayan hasil tangkapan dan sedikit sayur pakis serta rebung bulu parupuk yang kami petik di pinggir sungai, bisa menambah nambah lauk dan sayur untuk berbuka puasa. (bersambung)

Comments

Komentar Anda

Silahkan Anda Beri Komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

%d blogger menyukai ini: