Home / Budaya / Sati Nasution Willem Iskander, 1840-1876 (2)

Sati Nasution Willem Iskander, 1840-1876 (2)

Oleh
Basyral Hamidy Harahap
(Diposting oleh: Erond L. Damanik, M.Si – Pusat Studi Sejarah dan Ilmu-ilmu Sosial
Lembaga Penelitian-Universitas Negeri Medan)

Jadi sudah pasti Charles Adriaan van Ophuysen tak pernah bertemu dengan Willem Iskander, apatah lagi sebagai guru bagi Willem Iskander. Yang benar adalah, ada murid Willem Iskander yang sejawat Charles Adriaan van Ophuysen sebagai sesama guru di Kweekschool voor Inlandsche Onderwijzers Padangsidimpuan, seperti Pangulu Lubis yang dikenal juga sebagai Guru Batak.

Menapak Karier
Setelah Willem Iskander memperoleh ijazah guru bantu dari Oefenschool pimpinan D. Hekker Jr. di Amsterdam, ia bertolak dari Bandar Amsterdam dengan kapal Petronella Catarina pada tanggal 2 Juli 1861. Setibanya di Batavia pada bulan Desember 1861, Willem Iskander menghadap Gubernur Jenderal, Mr. Ludolf Anne Jan Wilt Baron Sloet van den Beele. Willem Iskander mengutarakan maksudnya mendirikan sekolah guru di Mandailing, dan memohon bantuan Gubernur Jenderal agar cita-citanya itu terlaksana. Gubernur Jenderal Gubernur Pantai Barat Sumatera ketika itu, Van den Bosche, agar membantu Willem Iskander.
Tiba di Padang, Willem Iskander menghadap Van den Bosche untuk menyerahkan surat Gubernur Jenderal, sekaligus melaporkan dialognya dengan Gubernur Jenderal di Batavia.Dalam perjalanan kembali ke Mandailing melalui pelabuhan Natal, Willem Iskander berlayar bersama Asisten Residen Mandailing Angkola ketika itu, Jellinghaus, yang sedang berada di Padang. Mereka singgah dua hari di rumah kerabat Willem Iskander, Tuanku Natal.
Setelah Willem Iskander tiba kembali di Mandailing pada awal 1862, ia melakukan persiapan pendirian sekolah guru di Mandailing. Tempat yang ia pilih adalah Tanobato,[3] 526 meter di atas permukaan laut, desa yang ketika itu berhawa sejuk rata-rata 22°C, berada di pinggir jalan ekonomi ke pelabuhan Natal. Bangunan sekolah pun didirikan bersama masyarakat setempat. Bangunan empat ruangan, ialah tiga ruang kelas, satu tempat tinggal Willem Iskander. Bahan bangunan itu terbuat dari kayu, bambu dan atap daun rumbia. Ada dua bangunan lagi di sebelah gedung sekolah ini, ialah Gudang Kopi (Pakhuis) dan Pasanggrahan.

Dalam usia 22 tahun, Willem Iskander melakukan terobosan besar gerakan pencerahan (Aufklärung) melalui pendidikan di Mandailing Angkola, khususnya di Mandailing. Orientasi, cakrawala, penalaran, idealisme, kearifan, dan semangat pembaharuan telah membekali Willem Iskander untuk melakukan gerakan pencerahan di Tapanuli. Semboyan revolusi Prancis: Liberté, Egalité, dan Fraternité (Kebebasan, Persamaan, dan Persaudaraan) telah merasuk benar ke dalam jiwanya. Willem Iskander menyaksikan bagaimana semboyan kemanusiaan yang universal itu disosialisasikan dan diamalkan oleh Godon, atasan dan mentornya yang berdarah Prancis itu.
Willem Iskander menerima beslit bertanggal 5 Maret 1862, yang mengizinkannya mendirikan Kweekschool di Mandailing. Beslit kedua bertarikh 24 Oktober 1862 yang menetapkannya sebagai guru pada Kweekschool Tanobato. Perjuangannya sangat berat. Sedikit sekali orang yang mau menyekolahkan anaknya di sekolah guru itu.
Kesulitan itu dapat diatasinya dengan (habisukon) kearifan, ketekunan, kesabaran dan kegigihannya terus menerus mensosialisasikan gagasan pembaharuannya dari rumah ke rumah. Maka kelangkaan murid itu pun dapat diatasinya. Lagi pula, masyarakat mengetahui bahwa Yang Dipertuan sangat mendukung gerakan pembaharuan melalui pendidikan yang dilakukan oleh Willem Iskander. Dengan demikian ia berhasil menempatkan sekolah guru ini sebagai tumpuan harapan kemajuan masa depan.
Baru satu tahun usia Kweekschool Tanobato, pada bulan September 1863, Gubernur Van den Bosche datang dari Padang melakukan inspeksi ke sekolah ini. Gubernur Pantai Barat Sumatera ini melaporkan kunjungannya kepada Gubernur Jenderal dalam suratnya tanggal 13 September 1863. Ia menyatakan kekagumannya terhadap kepiawaian Willem Iskander. Kesannya ia tulis dengan kata-kata zeer ontwikkeld, hoogst ijverig, artinya sangat cerdik, terpelajar, dan sangat rajin dan tekun.

Gubernur Van den Bosche mengusulkan kepada Gubernur Jenderal di Batavia supaya dibangun satu Kweekschool saja di Padang untuk wilayah Pantai Barat Sumatera, yang akan dipimpin oleh Willem Iskander. Ia yakin Willem Iskander mampu memimpin sekolah itu, karena Willem Iskander fasih berbahasa Melayu dan Belanda.
Jika usul ini disetujui, maka Kweekschool Fort de Kock (Bukittinggi) yang didirikan 1856 dan Kweekschool Tanobato yang didirikan 1862 harus ditutup. Gubernur Jenderal membahas usul ini dalam sidang Raad van Indië, Dewan Hindia. Ternyata usul Van den Bosch itu ditolak oleh Raad van Indië.
Empat tahun setelah Willem Iskander mendirikan Kweekschool Tanobato, Mr. J.A. van der Chijs, Inspektur Pendidikan Bumiputera, datang dari Batavia ke Tanobato selama tiga hari pada bulan Juni 1866. Kedua tokoh pendidikan itu berdiskusi tentang cara-cara terbaik untuk memajukan pendidikan bumiputera. Willem Iskander menyampaikan beberapa gagasan untuk memajukan pendidikan bumiputera kepada Van der Chijs, di antaranya agar pemerintah mendidik guru sebanyak-banyaknya dengan cara memberikan beasiswa kepada murid-murid untuk mendapat pendidikan keguruan di Negeri Belanda. Sebagai langkah pertama ia mengusulkan agar beasiswa itu diberikan kepada 8 orang, masing-masing dua orang dari Mandailing, Jawa, Sunda dan Manado.
Selama di Tanobato Van der Chijs menyaksikan penyelenggaraan pendidikan di sekolah guru ini. Ia mengagumi kebolehan Willem Iskander mengajarkan konsep-konsep ilmu pengetahuan dalam bahasa Mandailing dan bahasa Melayu. Van der Chijs juga mengagumi kemampuan berbahasa Belanda para murid Willem Iskander. Van der Chjis menyaksikan Willem Iskander mengajarkan dasar-dasar fisika dalam bahasa Mandailing dengan metode sendiri, memakai alat peraga lokal yang dikenal baik oleh murid-muridnya. Van der Chijs menulis di dalam laporan tahunan pendidikan bumiputera tentang kekagumannya terhadap tiga kemampuan murid-murid Willem Iskander, ialah dalam bidang matematika, bahasa Melayu dan bahasa Belanda. Van der Chijs menyaksikan mereka membuat esai dan surat menyurat dalam dua bahasa itu.
Willem Iskander bekerja keras memenuhi cita-citanya mendidik murid-murid agar memiliki kreativitas yang tinggi, agar menjadi cendekiawan kelak di kemudian hari. Oleh karena itu, ketika ia diangkat menjadi anggota komisi penerjemahan karya-karya berbahasa Melayu ke dalam bahasa Mandailing, ia langsung melibatkan murid-muridnya. Tingginya kualitas murid-murid Willem Iskander terbukti dengan kesalahan beslit pemberian honorarium kepada Willem Iskander yang seharusnya diberikan kepada muridnya Si Mangantar gelar Raja Baginda.
Kesalahan itu merepotkan banyak pihak di Batavia, karena perbaikan kesalahan itu menyangkut begitu banyak tanda tangan. Murid-murid Willem Iskander bukan saja tersebar di Tapanuli, tetapi juga ke Singkil, Nias dan Sulit Air di Sumatera Barat.

Willem Iskander sadar, bahwa kemampuan berbahasa Melayu dan bahasa Belanda, adalah kunci gerbang ilmu pengetahuan ketika itu. Bahasa Mandailing diajarkan sesuai kaidah-kaidah bahasa. Bahasa Belanda diajarkannya empat kali seminggu.
Kemampuan berbahasa itulah yang mengantar para muridnya menjadi pengarang, penerjemah dan penyadur. Willem Iskander pun bekerja keras meningkatkan wibawa sekolah sebagai pusat kemajuan.
Pertemuan Willem Iskander selama tiga hari dengan Inspektur Pendidikan Bumiputera, Mr. J.A. van der Chijs di Tanobato telah membuahkan banyak hasil. Gagasan Willem Iskander agar pemerintah memberikan beasiswa kepada guru-guru muda untuk belajar di Negeri Belanda, menjadi pemikiran pemerintah pusat. Ada peristiwa yang luar biasa ketika Willem Iskander melaksanakan EBTA pada bulan Juni 1871. Pelaksanaan ujian itu sangat istimewa, karena dihadiri petinggi pemerintah ketika itu, ialah: Gubernur Pantai Barat Sumatera, Residen Tapanuli, Asisten Residen Mandailing-Angkola dan Kontrolir wilayah itu.

Ujian dimulai dengan menyuruh murid-murid menulis esai, dilanjutkan dengan pertanyaan tentang ilmu alam, lembaga-lembaga pemerintahan Hindia Belanda. Kemampuan berbahasa Belanda dan bahasa Melayu diuji dengan cara membaca dan berbicara dalam kedua bahasa itu. Ujian berhitung dilakukan dengan menjawab soal-soal dengan menulis pada batu tulis dan papan tulis.
Usai melakukan inspeksi itu, Gubernur menyampaikan kepuasannya kepada Willem Iskander terhadap kemampuan murid-murid Willem Iskander berbahasa Belanda. Gubernur mengharapkan agar Willem Iskander lebih meningkatkan lagi mutu pendidikan di sekolah ini. Pada kesempatan lain setelah inspeksi itu, Asisten Residen Mandailing Angkola nengunjungi sekolah ini yang kemudian diikuti oleh pejabat-pejabat lain. Para pejabat itu berdialog dengan murid-murid sambil mengajukan berbagai pertanyaan. Para murid memberikan jawaban atau penjelasan secara memuaskan (Verslag, 1871:56-57).
Sidang Tweede Kamer
Sementara itu, berbagai upaya terus dilakukan oleh Willem Iskander agar gagasan itu menjadi kenyataan. Ia menulis surat pribadi kepada seorang anggota parlemen, Tweede Kamer, Willem Adriaan Viruly Verbrugge[4] (1830-1908), seorang yang menguasai permasalahan pendidikan di Hindia Belanda. Surat itu dibahas dalam sidang Tweede Kamer pada tanggal 11 November 1869, 138 tahun yang lalu. Sidang ini dihadiri 71 orang termasuk ketua Tweede Kamer, Mr. Willem Hendrik Dullert (1817-1881) dan Menteri Urusan Jajahan, De Waal.

Beberapa tokoh terkenal lainnya yang sudah menjadi anggota Tweede Kamer yang hadir dalam sidang itu adalah mantan Gubernur Jenderal Hindia Belanda Mr. Ludolf Anne Jan Wilt Baron Sloet van den Beele[5] (1806-1890), Fransen van de Putte, Van der Linden dll. Viruly Verbrugge menyampaikan perihal surat Willem Iskander itu kepada para anggota Tweede Kamer. Ia menyebutkan, bahwa surat itu ditulis dalam bahasa yang sangat sopan dan bijaksana. Viruly Verbrugge juga menjelaskan bahwa dahulu Willem Iskander pernah mendapat pendidikan di Negeri Belanda atas biaya Kerajaan. Kemudian, Kerajaan mengangkatnya menjadi guru kepala di Kweekschool Tanobato di Sumatera. Berhubung surat Willem Iskander itu adalah surat pribadi kepadanya, maka ia tidak dapat memperbanyaknya untuk para anggota Tweede Kamer. Surat itu berisi usul Willem Iskander agar pemerintah memberikan beasiswa kepada siswa dari Jawa, Sumatera dan Sulawesi untuk mengikuti pendidikan di Belanda seperti yang dialaminya sendiri. Willem Iskander menyebutkan, bahwa peranan guru-guru itu sangat besar dalam memajukan pendidikan bumiputera.
Viruly Verbrugge prihatin terhadap ketidak adilan kebijakan pemerintah dalam pembiayaan pendidikan di Hindia Belanda. Pemerintah menyediakan biaya pendidikan bagi 25.000 orang Eropa setara dengan 7 ton emas per tahun, tetapi hanya setara 3 ton emas bagi 13 juta penduduk Pulau Jawa, tidak termasuk bumiputera di luar Jawa. Penduduk Pati yang 235.000 jiwa yang sama dengan jumlah penduduk Amsterdam, hanya 81 orang yang memasuki sekolah. (bersambung) (Hol/MP)

Comments

Komentar Anda

One comment

  1. Willem Iskander begitu besar jasanya terhadap kemajuan Mandailing tempo dulu, maka untuk mengungkapkan cerita nya nanti baik lewat filem ataupun lewat buku maka perlu kehati hatian agar nama baik yang telah disandang oleh sang Willem tidak usang malah kalau bisa akan lebih cemerlang lagi, mungkin banyak nanti yang akan terungkap yang juga di ceritakan lewat filem maka yang penting adalah pemilihan tokoh yang akan memperankan Willem Iskander nantinya. betapa kita tidak suka melihat filem itu nanti setelah beredar akan mempudarkan nama Willem Iskander yang sudah ratusan tahun tetap bersinar , dan masyarakat juga telah menantikan tokoh pencerahan itu di filemkan tetapi harus juga kita kritisi agar missinya sampai. memang tkoh besar sekelas dengan Willem Iskander sudah sangat jarang kita temui di abad sekarang ini. tokoh tokoh pada saat sekarang ini juga adalah berkat infiratif dari Willem Iskander. ambil saja contohnya saya masih ingat ketika saya kulliah di USU Medan dulu kebetulan Sang Rrktor USU waktu itu adalah Prof.DR.AP.Parlindungan Lubis ,sempat menyinggung Nama Willem Iskander , bahwa ia adalah manusia hebat.jadi orang orang hebat zaman kini juga prilakunya mengacu pada prilaku Willem Iskander. Contoh lainnya adalah Dr.Muslimin Nasution , beliau juga sangat salut kepada Willem Iskander. juga tokoh Prof.Dr.Andi Hakim Nasution, mantan Rektor IPB, sudah barang tentu beliau sangat salut kepada Willem Iskander tersebut bahkan Willem Iskander adalah termasuk jajaran moyangnya dari Pidoli Lombang. dan seorang lagi dari daerah Maga bertitel Dr, sekarang jabatannya setingkat menteri yang sebelumnya adalah Gubernur Bank Indonesia. juga sangat kagum terhadap Willem Iskander. maka tidak heran lagi bagi kita bahwa orang orang hebat sekarang ini ( terpelajar ) adalah tokoh tokoh pengagum Willem Iskander. yang menjadi catatan bagi Willem Iskander adalah : jiwa patriotiknya senantiasa menyala , selalu rendah hati dan tidak sombong, tidak pernah mencari cari popularitas , memang kalau kita telusuri bahwa ia adalah anak bangsawan Mandailing yang tidak pernah di tonjolkannya.

Silahkan Anda Beri Komentar