Home / Budaya / Askolani: Makna Sosial Bersawah, dari “Manyaraya” hingga “Marsali”

Askolani: Makna Sosial Bersawah, dari “Manyaraya” hingga “Marsali”

Petani saat istirahat merontok padi memakai “rinti” suatu bangunan panggung tiang tiga. “Rinti” ini sudah langka di Mandailing setelah munculnya tehnologi mesin perontok padi modren.

Budayawan Mandailing, Askolani Nasution mengungkap banyak makna sosial dari bertani di Mandailing.

Sejumlah makna yang diungkap Askolani itu membuka mata kita bahwa bertani sawah tidak bisa dipandang dari sisi mencari nafkah saja.

Lebih luas dari itu bertani sawah memiliki hubungan dengan falsafah sosial kemasyarakatan di Mandailing.

“Jangan mengira kalau sawah hanya soal lahan mencari nafkah. Ketika kita mematikan potensi sawah, kita sekaligus membunuh budaya besar kita,” ujar Askolani di akun pribadinya pada laman facebook, Jum’at (27/8/2021).

Opuk (lumbung padi) misalnya, tidak sebatas fungsi gudang, tetapi sarana distribusi sosial. Muncullah budaya marsali pada musim paceklik. Muncul budaya padaion eme baru, muncul budaya mangulangi di antara dua musim tanam, muncul kuliner sasagun sebagai pengganti indahan tungkus untuk perjalanan yang jauh, muncul budaya gotong royong marsialap ari yang tidak ditemukan konsepnya di budaya lain, dan seterusnya.

“Mamuro saja bisa satu buku. Karena itu berpikirlah komprehensif. Semua berdampak luas,” katanya.

Askolani Nasution

Oleh karenanya Askolani memandang bahwa sangat menarik mengenal berbagai pola bertanam padi di berbagai wilayah, sebagai bagian dari kebudayaan leluhur.

“Itu kesan saya saat melakukan penelitian di beberapa titik Tabagsel, bersama satu UPT Kemendikbud,” imbuhnya.

Penelitian yang dilakukan Askolani itu memiliki target, yakni penulisan buku tentang sawah sebagai mata pencaharian utama dalam masyarakat Mandailing Angkola, sejak ratusan tahun yang lalu.

“Saya fokus ke sisi budaya tradisionalnya saja. Misalnya apa, bagaimana, dan makna apa yang melekat pada manobot, palubung bondar, mambaen parsamean, manajak, manyuan, marbabo, sampai manyabi”.

Askolani mengungkap, ada 25 item proses budidaya padi sawah, mulai menanam, merawat. Termasuk sisi marsialap ari dan manyaraya di masa panen.

Dia menyatakan, masa kini rata-rata petani mengeluh soal anak-anak yang tidak tertarik lagi ke sawah. Ada perubahan pola-pola mata pencaharian sejak dominasi karet dan sawit, dampak industrialisasi. Atau sawah yang beralih fungsi menjadi kebun dan perumahan.

“Padahal, sistem mata pencaharian berdampak luas dalam kebudayaan. Mulai dari pola perkampungan, sistem filsafat, sistem sosial, dan lainya,” pungkas Askolani yang juga sutradara ini.

Editor: Dahlan Batubara

Comments

Komentar Anda

Silahkan Anda Beri Komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

%d blogger menyukai ini: