Home / Budaya / Bahasa Mandailing, Sastra Klasik Hingga Masa Kolonial (bagian 2)

Bahasa Mandailing, Sastra Klasik Hingga Masa Kolonial (bagian 2)

Jalan Pos di Mandailing tahun 1890. Arsip Leiden, Belanda (Madina Madani/Basyral Hamidi Harahap)

Sastra Klasik

Seni sastra Mandailing ditularkan melalui tradisi yang khas, misalnya melalui medium berikut: [4]

1. Marturi.  Tradisi bercerita dalam konteks sosial Mandailing yang dilakukan secara verbal. Cerita ditularkan secara turun-temurun. Plot menggunakan alur maju dan banyak memuat ajaran tentang budi pekerti.

2. Ende Ungut-ungut dibedakan atas temanya. Ende merupakan ungkapan hati, ekspresi kesedihan karena berbagai hal, misalnya kesengsaraan hidup karena kematian, ditinggalkan, dan lain-lain. Selain itu juga berisi pengetahuan, nasihat, ajaran moral, sistem kekerabatan, dan sebagainya.

Ende ungut-ungut menggunakan pola pantun dengan persajakan ab-ab atau aa-aa. Sampiran biasanya banyak mengadopsi nama tumbuhan, karena adanya bahasa daun.

Contoh:
tu sigama pe so lalu, madung donok tu Ujung Gading, diangan-angan pe so lalu, laing tungkus abit partinggal (Ke Sigama pun tidak sampai, sudah dekat ke Ujung Gading, yang diangankanpun tak sampai, tetap tersimpan kain kenangan). (bersambung ke bagian 3)

Sumber: Wikipedia
Editor: Dahlan Batubara

Referensi Wikipedia:
[4] Askolani Nasution (27 Januari 2014). “Kesusatraan Mandailing”. www.jendelasastra.com.

Comments

Komentar Anda

Silahkan Anda Beri Komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

%d blogger menyukai ini: