Home / Budaya / Festival Budaya Bersastra Gordang Sambilan Berlangsung Senin

Festival Budaya Bersastra Gordang Sambilan Berlangsung Senin

Festival Gordang Sambilan tahun 2012 di Panyabungan (ilustrasi)

Jika tak ada halangan, Mandailing Natal akan melangsungkan Sidang Adat dan Festival Budaya Bersastra Gordang Sambilan.

Insyaalah dilangsungkan Senin depan, 21 Pebruari 2022″ kata Ketua Umum Badan Pemangku Adat dan Budaya (BPAB) Mandailing Natal (Madina), Mangaraja Soangkupon kepada Mandailing Online di Panyabungan, Jum’at (17/2/2022).

Lokasinya direncanakan di kawasan Tambangan, Mandailing Natal (Madina)

Para raja-raja Mandailing akan bersidang di Sidang Adat ini yang dihadiri tokoh masyarakat, pakar serta praktisi budaya.

Mangaraja Soangkupon menyatakan persiapan Sidang Adat ini tergolong singkat.

Festival Budaya Bersastra Gordang Sambilan beranjak dari esensi bahwa ada sisi kekayaan sastra daerah yang melekat pada Gordang Sambilan.

Aksi tabuhan Gordang Sambilan ini ditarget diikuti puluhan grup Gordang Sambilan dari berbagai penjuru Mandailing Natal.

Sidang Adat dan Festival ini bertujuan sebagai persiapan syarat-syarat pendaftaran Gordang Sambilan ke atase Unesco di Prancis pada momen Hari Bahasa Ibu Internasional (International Mother Language Day).

Pada Hari Bahasa Ibu Internasional, UNESCO dan badan-badan PBB lain akan berpartisipasi dalam program mempromosikan keragaman budaya dan bahasa di seluruh dunia.

Kepala Balai Bahasa Sumatera Utara, Dr. Maryanto (pakai masker); Kabid Kebudayaan Dinas Pendidikan Madina, Muhammad Idris (nomor 1 dari anan); Ketua Umum BPAB Madina, Mangaraja Soangkupon (2 dari kiri); Harahap dari Balai Bahasa Sumatera Utara (kiri) di Panyabungan, Jum’at (18/2) saat berbincang persiapan Festival Budaya Bersastra Gordang Sambilan.

Sementara itu, Kepala Balai Bahasa Sumatera Utara, Dr. Maryanto, M.Hum kepada Mandailing Online, Jum’at (18//2022) menyatakan melalui aksi Festival Budaya Bersastra Gordang Sambilan ini diharapkan hasilnya dapat mengembalikan memori kolektif masyarakat di tingkat nasional akan peran pentingnya keberadaan masyarakat Mandailing sebagai kampung segudang punjangga yang telah melahirkan para tokoh sastrawan penting dalam pergerakan nasional Indonsia.

Dampak besar hasil aksi festival itu ialah tertanamnya ingatan publik nasional dan internasional serta teregisterasi WBTB (warisan budaya tak benda) masyarakat Mandailing di UNESCO terhadap keberadaan budaya bersastra Gordang Sambilan tersebut murni di tangan masyarakat adat Mandailing.

Dikatakannya, sastra Mandailing sebagaimana terungkap dalam seni Gordang Sambilan merupakan salah satu kekayaan sastra daerah yang —seturut dengan amanat Pasal 28 dalam PP No. 57 Tahun 2014 —dilakukan pelindungan untuk mempertahankan kedudukan dan fungsi bahasa daerah sebagai pembentuk kepribadian suku bangsa, peneguh jati diri kedaerahan, dan sarana pengungkapan serta pengembangan sastra dan budaya daerah.

Aksi festival ini sangat penting untuk dilakukan oleh pihak Pemerintah Daerah Kabupaten Mandailing Natal guna merawat hak adat Mandailing dari kemungkinan budaya bersastra Gordang Sambilan ini telah didaftarkan kepada badan dunia di PBB sebagai warisan budaya tak-benda oleh pihak lain.

Lebih jauh Maryanto mengungkap bahwa dalam bidang pendidikan dan kebudayaan, masyarakat Mandailing di Provinsi Sumatera Utara memiliki jejak tokoh inspiratif sehebat Ki Hadjar Dewantara.

Jauh sebelum Taman Siswa berdiri pada tahun 1922, Sati Nasution—yang lebih dikenal bernama Williem Iskander—telah berjuang di dunia pendidikan melalui pendirian sekolah guru pertama (sekolah bumiputra) di Mandailing pada tahun 1862. Tokoh terkemuka itu adalah seorang pujangga yang menghasilkan pujangga demi pujangga pada zamannya masing-masing.

“Budaya bersastra daerah Mandailing ini merupakan bagian tak-terpisahkan dengan perkembangan jagat kesusastraan Indonesia,” katanya.

Dari sejumlah pujangga terkemuka pada masa kolonial, ada Merari Siregar sebagai pengarang novel terbitan awal Balai Pustaka (1921): Azab dan Sengsara. Roman modern pertama itu ditulis dengan kekhasan sastra daerah Mandailing karena kuatnya penguasaan bahasa ibu oleh pengarang—bahasa daerah Mandailing, termasuk dalam hal aksaranya—di samping  penguasaannya dalam bahasa komunikasi luas pada saat itu. Pada era angkatan pujangga Balai Pustaka itu, tak-boleh terlupakan adanya seorang tokoh pemuda Mandailing—Sanusi Pane—yang memberikan persetujuan pertama kali lahirnya gagasan bahasa persatuan Indonesia (2 Mei 1926).  Bersama dengan tokoh nasional dari Mandailing lainnya seperti Armin Pane dan Sutan Takdir Alisyahbana, Sanusi Pane juga menjadi pelopor angkatan Pujangga Baru yang terus-menerus melahirkan gagasan pembaruan menuju pintu gerbang kemerdekaan Republik Indonesia.

Telah tiba saatnya segudang pujangga yang berdarah Mandailing tersebut dijadikan lebih inspiratif bagi generasi muda agar bahasa dan sastra daerah Mandailing tidak mengalami kemunduran, seiring dengan majunya zaman kekinian.

“Oleh karena itu, pada momentum Hari Bahasa Ibu Internasional (21 Februari 2022), kampung segudang pujangga ini perlu dipertunjukkan kepada publik seluas mungkin supaya dapat ditengok kembali oleh masyarakat di tingkat nasional dan—bahkan—di dunia tingkat internasional,” ujarnya. (Dahlan Batubara)

Comments

Komentar Anda

Silahkan Anda Beri Komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

%d blogger menyukai ini: